"Anda harus pergi ke Marienplatz," ujar seorang sopir taksi di Munich kepada detiktravel minggu lalu. Kedatangan saya ke Munich Jerman adalah atas undangan Allianz untuk meliput kegiatan Allianz Junior Football Club di markas FC Bayern Munich.
Menurut dia di kawasan tersebut ada banyak pertokoan, restoran, dan keramaian. "Banyak turis di Marienplatz. Beberapa orang suka mengambil foto di daerah itu," imbuh sopir tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rupanya Marienplatz telah menjadi alun-alun kota sejak 1158. Pada Abad Pertengahan, alun-alun ini tidak hanya digunakan sebagai pasar, tetapi juga tempat penyelenggaraan turnamen dan perayaan.
Namun pada 1807, pasar Marienplatz pindah ke Viktualienmarkt yang tidak jauh dari Marienplatz. Namun alun-alun masih terus menjadi titik fokus kota, yang ditandai masih digelarnya acara-acara publik penting di tempat tersebut.
Alun-alun ini pada awalnya dikenal dengan nama Schrannen. Namun namanya kemudian diubah menjadi Marienplatz (Alun-alun St Mary) sebagai cara untuk meminta Bunda Maria untuk melindungi kota dari epidemi kolera.
Alun-alun didominasi New Town Hall (Neues Rathaus). Bangunan bergaya Gothic Flemish yang indah setinggi 79 meter itu dibangun tahun 1867-1909 oleh Georg Joseph Hauberrisser. Nah, pada pukul 11, 12, dan 17 setiap harinya pengunjung dapat menyaksikan Glockenspiel dari menara Neues Rathaus.
Glockenspiel merupakan semacam orkhestra lonceng. Ketika lonceng berbunyi, di menara terlihat boneka-boneka kecil yang bergerak memutar. Awalnya hal ini dilakukan pada tahun 1517 untuk memperingati akhir wabah kolera.
Di sebelah kanan Rathaus Neues terdapat Fischbrunnen yang merupakan air mancur kecil. Air mancur ini merupakan rancangan pematung Knoll Konrad tahun 1864. Saat Perang Dunia II, air mancur itu hancur, namun dibangun kembali pada 1954.
Old Town Hall atau Altes Rathaus yang asli hancur tak bersisa oleh kobaran api pada 1460. Namun pada 1470-1480, dibangun kembali dalam gaya Gothic oleh Joerg von Halsbach. Lagi-lagi bangunan hancur saat Perang Dunia II, namun dibangun kembali sesuai aslinya.
Toko baju, sepatu, cokelat, berlian, suvenir, dan sejumlah restoran berjajar di alun-alun Marienplatz. Kecuali restoran, semua toko tutup pada pukul 20.00 tidak peduli sedang ramai pengunjung ataupun tidak.
Pada Jumat malam, Marienplatz lebih ramai dari biasanya. Sebab pada Sabtu dan Minggu banyak pekerja yang libur, sehingga mereka memilih nongkrong di alun-alun sambil menikmati kopi dan kudapan bersama rekan-rekannya.
Jika Anda tidak suka belanja atau tidak mau makan di restoran kawasan Marienplatz, Anda bisa mengunjungi museum. Misalnya saja musem mainan atau Spielzeugmuseum. Di museum ini terdapat banyak koleksi mainan dari Amerika, Eropa dan berbagai penjuru dunia. Ada boneka beruang, boneka binatang, boneka rumahan, kereta api, pesawat dan lainnya. Museum ini terdiri empat dan diisi mainan sebelum lahirnya Gameboy.
Museum mainan tersebut buka setiap hari dari pukul 10.00 hingga 17.30. Harga tiket untuk orang dewasa adalah 3 Euro (sekitar Rp 36.000) dan untuk anak anak usia 4-15 tahun adalah 1 Euro (sekitar Rp 12.000).
Di Munich, pengguna sepeda banyak ditemui. Tak hanya anak muda, kakek dan nenek pun semangat mengayuh sepedanya. Bahkan pria berjas yang rapi memacu sepedanya sembari membawa payung panjang hitam. Pesepeda bukan kalangan pinggiran di sini.
Stasiun kereta bawah tanah juga berada di kawasan Marienplatz. Tempat ini mengingatkan saya pada Blok M Plaza. Ada penjaja koran yang menggelar dagangannya di lantai dan orang-orang yang berjalan cepat di stasiun tersebut. Benar-benar alun-alun yang selalu berdetak.
(fay/ptr)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Protes Keras Upacara Adat di Bali, Terganggu Suara Musik
Investor Serbu Gunungkidul, GKR Mangkubumi: Kita Adalah Jogja, Bukan Bali
Perlu Diperhatikan, Wisatawan Tak Boleh Sembarangan Makan di Jalanan Italia