Letaknya berada di Desa Sapanta, dekat perbatasan antara Rumania dan Ukraina. Pemakaman yang bernama The Merry Cemetery ini sering sekali didatangi wisatawan. Tak sekadar untuk mengunjungi mereka yang sudah 'kembali' terlebih dahulu, namun juga untuk melihat sendiri keceriaan dari komplek pemakaman ini. Ditengok dari New York Times, Senin (8/10/2012) pemakaman ini tidak memiliki warna yang kelam melainkan warna-warna ceria.
Pemikiran ini berasal dari kebudayaan orang lokal yang ingin membuat kematian terlihat lebih ceria karena bisa berpengaruh pada di kehidupan mereka selanjutnya. Warna yang ada di sini juga memiliki arti sendiri-sendiri. Kuning berarti kesuburan, merah berarti gairah atau semangat, hijau untuk kehidupan, dan hitam berarti kematian. Selain warna, pemakaman ini juga terdiri dari lukisan pahat beserta kata-kata mutiara milik mendiang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari situ, ia mulai membuat puisi untuk kematiannya, dipahat di atas kayu. Patras tidak dikenal dunia hingga awal tahun 1970-an saat seorang wartawan Prancis mendatanginya dan menulis mengenai karyanya. Setelah terkenal, beberapa orang mulai memesan pahatan unik untuk nisan mereka. Seorang diktator Rumania bernama Nicolae Ceausescu dan istrinya pun memesan nisan pahatan ke Patras. Kini nisan mereka ada di dalam studio milik Patras yang kini menjadi museum.
Patras tahu ia akan meninggal, ia pun mencari seniman-seniman handal yang akan mewariskan studio beserta isinya. Pada tahun 1977, Patras meninggal dan dikubur dengan nisan pahatan dirinya dalam pakaian tradisional dan ungkapan terima kasih untuk keluarganya dalam pahatan. Setelah itu, gaya pemakaman yang ceria ala Patras terus berlangsung. Orang-orang yang ingin menceriakan kematiannya memesan jenis nisan ini dan dikubur di dalam komplek Merry Cemetery.
Orang yang meninggal zaman dahulu dan kini sedikit berbeda. Jika dulu kebanyakan orang meninggal karena umur atau penyakit, kini kebanyakan orang yang meninggal karena kecelakaan. Ini mempengaruhi gambar pahatan yang ada di nisan mereka. Jadi Anda bisa melihat sendiri bagaimana orang itu meninggal atau bagaimana ia ingin dikenang, melalui pahatan berwarna meriah.
Komplek pemakaman ini terbuka untuk umum termasuk para pelancong yang penasaran dengan kisah ceria ini. Untuk masuk ke dalam sini, pengunjung dikenakan biaya sebesar 4 sen (sekitar Rp 6.000). Komplek ini bahkan sudah masuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO.
(sst/sst)












































Komentar Terbanyak
Bule Rusia Hajar Warga Banyuwangi gegara Sound Horeg, Korban Tempuh Jalur Hukum
Saat Gibran Ikut Memikul Salib Paskah di Kupang
Dugaan Pungli Petugas Imigrasi Batam Jadi Pemberitaan Heboh Media Singapura