Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 20 Des 2012 16:48 WIB

DESTINATIONS

Ini Bedanya Naik Kereta Api di Indonesia dengan Eropa

Kanan-kiri: Kereta peluru TGV, Thalys, dan Eurostar di Stasiun Gare du Nord, Paris (Fitraya/detikTravel)
Jakarta - Kereta menjadi opsi transportasi favorit di Indonesia dan aneka negara di Eropa. Para traveler yang pernah bertualang di Indonesia dan Eropa pasti bisa membandingkan bedanya traveling dengan kereta di 2 kawasan yang berbeda ini.

Ada beberapa catatan penting saat detikTravel beberapa waktu silam menumpang kereta di beberapa negara di Eropa mulai dari Jerman, Prancis, Belgia, Belanda, Italia, Swiss, Austria, Denmark, dan Swedia. Naik kereta di negara-negara Eropa dan Indonesia memang berbeda, baik dari segi konsep maupun atmosfernya.

detikTravel, Kamis (20/12/2012) menghimpun 5 hal yang paling penting. Jika lain kali Anda hendak bertualang ke Eropa dengan kereta, mohon diingat-ingat ya:

1. Ketepatan waktu

Eropa sudah memulai perjalanan kereta sejak Revolusi Industri dan terus berlangsung sampai sekarang. Satu hal yang menjadi standar kualitas perjalanan kereta di berbagai negara di Eropa adalah ketepatan waktu. Jangan coba-coba datang terlambat ke stasiun kereta saat traveling di Eropa. Kereta datang dan pergi sesuai jamnya, teng!

Begitu pintu kereta ditutup, jangan harap masinis akan membukakan pintu lagi untuk Anda, karena mereka harus mengejar jadwal. Pengalaman detikTravel di Duesseldorf, Jerman, pintu kereta peluru ICE ditutup tepat di depan hidung seorang penumpang yang sedari tadi berlari-lari mengejar keretanya. Apa daya, si penumpang ditinggal begitu saja.

2. Konektivitas

Eropa sebenarnya adalah kumpulan negara-negara yang tidak terlalu besar. Lambat laun, jaringan kereta api terhubung antar kota dan antar negara. Konektivitas jaringan kereta di Eropa memudahkan traveler untuk wara-wiri dengan kereta bahkan lintas negara. Traveler dari luar Eropa sudah tidak diperiksa lagi paspornya, karena biasanya datang dengan visa Schengen yang artinya bisa lintas negara Uni Eropa, kecuali saat naik kereta ke Swiss.

Dari manapun di Eropa, Anda bisa membeli tiket kemana saja, baik booking online, lewat mesin vending tiket atau membeli langsung di loket. Namun siap-siap, pada prakteknya mungkin Anda akan bergonta-ganti kereta untuk sampai ke kota tujuan. Verbindung, begitu orang Jerman menyebut sistem koneksi kereta mereka. Begini perbandingannya dengan Indonesia:

Jika ngin naik kereta dari Bogor ke Yogyakarta, yang traveler lakukan adalah membeli tiket KRL Bogor-Jakarta. Dari Stasiun Gambir Jakarta, Anda berganti kereta dan membeli tiket kereta misalnya Taksaka Gambir-Yogyakarta. Di Eropa, stasiun keberangkatan Anda sudah menjual tiket sampai ke kota tujuan sekaligus.

Anda membayar sekalian, nanti pada tiket terlihat Anda harus bergonta-ganti kereta berapa kali untuk sampai ke kota tujuan. Pengalaman detikTravel, para traveler di Eropa biasanya memilih paling banyak sampai 3 kali ganti kereta alias 3 kali verbindung. Lebih dari itu, mereka juga lelah naik turun kereta.

3. Siapa duduk di mana

Di Indonesia, penumpang duduk sesuai kelas dan nomor tiketnya. Untuk kereta jarak jauh di Eropa, penumpang naik sesuai kelasnya, namun bisa duduk dimana saja di dalam gerbong tersebut. Tapi traveler bisa memesan nomor tempat duduk, dan terkadang dengan biaya tambahan, misalnya saja di kereta peluru TGV atau ICE. Pengalaman detikTravel jika lampu nomor tempat duduk menyala, itu artinya tempat duduk itu sudah dipesan penumpang. Silakan duduk di tempat lain.

Untuk kereta komuter antar kota, naik juga sesuai dengan kelasnya dan duduk dimana saja. Tapi perhatikan, biasanya ada tempat duduk prioritas untuk ibu hamil atau dengan anak kecil, manula, membawa anjing, pesepeda dan orang cacat. Tempat duduk prioritas ini juga ada di kereta komuter dalam kota, dan kereta bawah tanah.

4. Membeli tiket

Untuk yang satu ini, Indonesia sudah setara dengan Eropa. Tiket kereta bisa dibeli sejak H-90. Di Indonesia, tiket kereta bisa dibeli di minimarket, travel agent, atau di stasiun. Di Eropa, tiket pesawat bisa dibeli online seperti tiket pesawat, lewat mesin vending ticket atau di loket stasiun.

Perbedaan yang lain di Eropa, tiket pada H-90 dijual dengan harga promo. Harganya akan semakin mahal mendekati hari keberangkatan. Di Indonesia tiket H-90 dijual dengan harga yang sama dengan membeli pada hari H, bedanya masih kebagian tiket atau tidak. Pengalaman detikTravel, tiket H-90 di Eropa biasanya menjadi incaran para backpacker karena murah.

Saat pemeriksaan tiket, kondektur kereta akan memindai barcode pada tiket. Jika tiket dibeli dengan kartu kredit, bawalah kartu kredit itu dalam perjalanan Anda karena kondektur juga akan menanyakannya.

5. Fasilitas

Untuk fasilitas, Indonesia memang perlu belajar dengan Eropa. Kereta makan, itu sih biasa. Kereta Eropa dilengkapi dengan bar. Sementara kereta malam dilengkapi dengan gerbong tempat tidur. Toilet bersih ala toilet pesawat, menjadi standar toilet kereta di Eropa.

Kereta peluru Thalys Belgia dan TGV Prancis memiliki Wifi. Kereta peluru ICE Jerman punya tempat bermain anak-anak. Ruang bordes biasanya punya rak-rak untuk koper besar, kereta bayi dan barang-barang besar lainnya.

(fay/fay)
BERITA TERKAIT