'Anging Mammiri', Kekasihku Jauh Sekali

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

'Anging Mammiri', Kekasihku Jauh Sekali

- detikTravel
Kamis, 07 Feb 2013 08:06 WIB
Anging Mammiri, Kekasihku Jauh Sekali
Fort Rotterdam di Makassar (Ray Jordan/ detikTravel)
Makassar - Traveler mengenal lagu 'Anging Mammiri' sebagai adalah salah satu lagu tradisional suku Bugis di Sulawesi Selatan. Lagu ini juga identik dengan Kota Makassar. Sebenarnya, apa arti dari Anging Mammiri?

Pemandu Museum La Galigo Fort Rotterdam Makassar, Sulawesi Selatan, Rusli mengatakan, Anging Mammiri menceritakan tentang seorang wanita yang memendam rindu yang menggunung kepada kekasih hatinya yang jauh.

Rasa rindu tersebut membuat dia tak tenang. Suatu saat, wanita itu berdiri di ujung jendela rumahnya dan melantunkan syair-syair yang berisikan kata sayang dan rindu, berharap kepada angin yang berhembus pesan tersebut sampai kepada sang kekasih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan sebelum tidur, wanita tersebut menepuk-nepuk bantal sambil menyebut nama sang kekasih dan masih berharap angin akan menyampaikan rasa gundah gulananya tersebut.

"Ajaibnya, beberapa hari setelah sang wanita mengucapkan syair tersebut, dia pun mendapat kabar bahwa kekasihnya telah tiba dari perantauan dan akhirnya bertemu kembali. Cerita itupun menyebar. Semenjak itu, istilah Anging Mamiri menjadi populer dan erat kaitannya dengan kerinduan," ujar Rusli kepada detikcom saat berkunjung ke Museum La Galigo Benteng Fort Notterdam bersama rombongan Garuda Indonesia Ekspansi Timur Indonesia, Rabu (6/2/2013).

Selain istilah Anging Mammiri, Makassar juga dulu dikenal dengan nama Ujung Pandang. Banyak traveler yang mengira arti nama ini adalah 'berada di ujung pandangan'. Eits, ternyata bukan.

Rusli menjelaskan, nama Ujung Pandang ada saat Kerajaan Gowa tiba di Semenanjung Selat Makassar. Di lokasi tersebut banyak sekali ditumbuhi pohon pandan yang tingginya bisa mencapai 7 meter. Dikarenakan orang Bugis biasa menyebut akhiran -an menjadi -ang, maka kata pandan berubah bunyinya menjadi Panda-ng.

"Jadi saat ditanya di mana lokasinya, orang Bugis dulu menyebut di Ujung Pandang (di ujung semenanjung selat yang banyak ditumbuhi pandan). Kata itupun kemudian menjadi akrab di telinga warga. Jadi bukan berarti di ujung pandangan, salah itu," jelas Rusli.

Ingin tahu cerita lengkapnya? Juga masih banyak cerita legendaris lainnya di kota Makassar. Untuk mengetahuinya, wisatawan bisa berkunjung langsung ke Museum La Galigo di Komplek Benteng Fort Rotterdam (Benteng Belanda) di Jl. Ujung Pandang, Makassar, Sulawesi Selatan.

Lokasinya tidak jauh dari Pelabuhan Laut Makassar. Di museum tersebut juga tersimpan peninggalan-peninggalan prasejarah dan sejarah masyarakat Bugis yang mendiami Sulawesi Selatan. Tak lupa, Makassar juga merupakan salah satu 'surga' bagi pecinta kuliner. Banyak sekali jenis makanan khas Makassar atau Bugis seperti Coto Makassar, seafood, serta jajanan seperti Pisang Epe dan Mie Kering.

(sst/sst)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads