Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Jumat, 05 Apr 2013 13:26 WIB

DESTINATIONS

Ada Ritual Berdarah di Papua!

Ritual pengambilan darah untuk memasang kulit Tifa (Fitraya/detikTravel)
Timika - Seorang pria Suku Kamoro, Papua bersiap-siap. Kakinya digurat silet sampai mengucurkan darah! Inilah dia ritual pemasangan kulit gendang Tifa yang menegangkan.

Tim Dream Destination Papua 2 menyaksikan langsung ritual berdarah ini dalam Festival Kamoro pada 9-10 Maret 2013 lalu di Rimba Golf Papua, Kuala Kencana, Timika, Papua. Selama dua hari itu digelar aneka acara seru mulai dari tarian, para pria menabuh tifa, mengolah sagu dan memasak makanan mulai dari ikan bakar sampai olahan sagu.

Tapi yang paling membuat pengunjung menahan nafas, ya ritual berdarah ini. Gendang tradisional Papua, yang disebut Tifa, memang merupakan benda penting bagi banyak suku di Papua termasuk Suku Kamoro.

Tifa selalu ditabuh menyertai berbagai proses upacara dan perayaan penting mereka. Tabuhan Tifa menemani orang-orang Kamoro menari, memangkur sagu, membelah kayu bakau mencari cacing tambelo dan banyak kegiatan lain bersama Tifa mereka.

Oleh karena itu, memasang kulit Tifa yang berasal dari kulit biawak, tidak boleh sembarangan. Kulit Tifa tidak ditempel dengan lem ke ujung gendang kayu, melainkan menempel karena darah.

Saat pemasangan kulit Tifa, seorang pria Kamoro yang berani siap mengorbankan darahnya. Darah diambil dari pahanya. Oleh karena itu pangkal pahanya diikat dengan tali. Kemudian pria lain menyiapkan sebuah silet.

Diguratnya paha temannya itu. Tidak cuma sekali, tapi berkali-kali! Silet diguratkan memanjang sepanjang paha. Para penonton bengong terkesima, sebagian tampak merasa ngilu.

Usai beberapa guratan silet, diambillah sebuah cangkang kerang. Darah yang mengucur ditampung dengan cangkang kerang. Melihatnya saja, saya jadi ingat orang menyadap getah karet. Namun yang disadap ini adalah darah manusia betulan.

Darah yang sudah dikumpulkan lantas dioles-oleskan di ujung gendang Tifa, layaknya mengoleskan lem. Lantas mereka bersama-sama merekatkan kulit Tifa sambil ditarik kencang. Kemudian tali pengikat dipasang untuk mengencangkan ujung Tifa. Biji damar ditempelkan di kulit gendang agar suaranya makin mantap.

Belum selesai! Tifa lantas dicoba ditabuh, jika suaranya belum enak, kulit biawak ini dipanaskan di atas api kecil. Proses dilakukan berulang-ulang sampai suara tabuhan Tifa terdengar enak dan pas. Kemudian setelah itu mereka langsung menari bersama, sambil menabuh Tifa yang baru.

Melihat ritual berdarah pemasangan kulit Tifa adalah pengalaman unik sekaligus luar biasa. Betapa saudara-saudara kita di Papua masih menjaga sebuah tradisi yang mungkin terlihat ngeri, namun jika kita memahami pentingnya Tifa dalam kehidupan mereka, betapa kita akan ikut menghormati tradisi ini.

(fay/ptr)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA