Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 03 Mei 2021 13:06 WIB

DESTINATIONS

Di Balik Kerumunan Pengunjung, Begini Sejarah Pasar Tanah Abang

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) bersama Panglima Kodam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman (ketiga kiri) dan Kapolda Metro Jaya Muhammad Fadil Imran (kedua kanan) meninjau situasi di Pusat Grosir Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (2/5/2021). Anies mengakui adanya lonjakan pengunjung di pusat tekstil terbesar se-Asia Tenggara dari sekitar 35.000 pengunjung pada hari biasa menjadi sekitar 87.000 orang pada akhir pekan ini sehingga pihaknya menyiagakan sekitar 750 petugas untuk menjaga kedisiplinan protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.
Foto: ADITYA PRADANA PUTRA/ADITYA PRADANA PUTRA
Jakarta -

Pengunjung Pasar Tanah Abang membludak dan mengabaikan protokol kesehatan. Lonjakan pengunjung terlihat saat hari-hari menjelang Idul Fitri.

Pasar Tanah Abang memang menjadi pilihan banyak kalangan untuk berbelanja, apalagi mendekati momen lebaran dimana biasanya masyarakat membeli pakaian baru. Jauh sebelum tempat ini ramai didatangi pengunjung, traveler tahu bagaimana sejarah Pasar Tanah Abang?

Dikumpulkan detikTravel dari berbagai sumber, penulis Abdul Chaer dalam bukunya, Tenabang Tempo Doloe (2017) menyatakan bahwa dahulu Tanah Abang merupakan daerah yang rimbun dan asri. Nama Tanah Abang diambil dari tanah di sana yang berwarna merah atau abang. Sebutan itu pertama kali disematkan oleh balatentara Mataram yang menyerbu Batavia pada tahun 1628.

Pasar Tanah Abang sendiri didirikan oleh Dewan Hindia Belanda, Yustinus Vinck pada 30 Agustus 1735. Disebut juga sebagai Pasar Sabtu karena hanya dibuka pada hari Sabtu, penjualannya mampu menyaingi Pasar Senen yang sudah lebih dulu maju.

Namun, pada tahun 1740, terjadi kerusuhan antara Belanda dan etnis Tionghoa yang dikenal dengan Geger Pecinan. Dalam kejadian itu, tak sedikit pedagang dari etnis Tionghoa yang tewas. Hal ini pun berdampak pada kehidupan Pasar Tanah Abang.

Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, tragedi berdarah itu mulai terlupakan. Mengutip RRI, sekitar tahun 1881, Pasar Tanah Abang mulai dibuka dua hari, yaitu pada Sabtu dan Rabu. Saat perputaran yang semakin masif dan meningkat, mulailah Pasar Tanah Abang dibuka setiap hari.

Perdagangan di pasar ini pun kian lengkap setelah hadirnya Stasiun Tanah Abang. Pasar Tanah Abang pun menjadi tujuan pedagang kaki lima (PKL) untuk berjualan, sehingga kerumunan dan kesemberautan PKL menjadi hal yang biasa di Tanah Abang.

Bahkan, di era kepemimpinan Jokowi, Pasar Tanah Abang pun tak jarang dikenalkan kepada duta besar atau tamu penting dari negara tetangga hingga CEO Facebook, Mark Zuckeberg.



Simak Video "Aparat Berjaga, Pasar Tanah Abang Tak Seramai Kemarin "
[Gambas:Video 20detik]
(elk/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA