Jakarta - Kemenparekraf berharap perburuan hiu di Raja Ampat tidak terjadi lagi. Selain merusak alam, perburuan hiu itu nyata-nyata merusak pariwisata di kawasan diving paling tersohor di dunia itu."Tidak boleh terjadi lagi itu," kata Wakil Menparekraf Sapta Nirwandar, mengomentari perburuan hiu di Raja Ampat.Hal itu diutarakan dia kepada detikTravel, usai sosialisasi Badan Promosi Pariwisata Indonesia di Kemenparekraf Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (10/5/2012). Menurut Sapta, para pemburu hiu hari ditangkap dan dihukum."Harus ditangkap dan harus diberi hukuman yang setimpal," jelas Sapta.Perburuan hiu menurut Sapta adalah ancaman nyata terhadap pariwisata di Raja Ampat. Bukan hanya keseimbangan alam saja yang terganggu, wisatawan pun kecewa kalau tidak ada hiu di Raja Ampat."Selain merusak alam, itu juga merusak seluruh pariwisata yang ada di sana," ujarnya.Sebelumnya, Conservation International (CI) Indonesia, Pemkab Raja Ampat dan masyarakat adat Papua Barat mengeluhkan dan melaporkan perburuan hiu di Raja Ampat untuk diambil siripnya. Atas kejadian tersebut, masyarakat setempat meningkatkan patroli dengan dibantu polisi untuk menjaga kawasan wisata diving tersebut."Patroli bisa 3-4 kali sehari saat cerah. Kami menyesuaikan jika cuaca buruk atau angin terlalu kencang hari itu," ujar Sekretaris Daerah Raja Ampat, Ferdinand Dimara kepada detikTravel, Kamis (10/5/2012).Para wisatawan tak perlu kuatir akan gangguan yang bisa datang dari tangan-tangan jahil. Polisi laut siap menjaga perairan Wayag dan sekitarnya, sehingga para nelayan tersebut tidak berani masuk ke dalam kawasan itu."Wisatawan bisa tetap diving dengan tenang. Ada polisi di sekitar perairan, mereka tak berani merapat ke sana," kata Ferdinand yakin.
(dtvl/dtvl)
Komentar Terbanyak
Kisah Siswa SD Viral di Salatiga, Piknik ke Jakarta Sewa Pesawat Garuda
Kesaksian Turis dalam Kejadian Penembakan di Situs Bersejarah Meksiko
Stasiun Gundih Jadi Penghubung Warga Grobogan, Umurnya 1,5 Abad