'Kesetanan' Gudeg Ceker di Warung Bu Kasno, Solo
Pradikta Dwi Anthony - detikTravel
Jumat, 15 Feb 2013 12:20 WIB
Jakarta - Pukul 02.00 WIB mungkin terlalu dini untuk sarapan. Namun, tidak di Solo, Jateng, Anda bisa sarapan sambil menanti fajar di Warung Gudeg Cakar Margoyudan. Bagai kesetanan, setiap pengunjung akan melahap gudeg sampai tak bersisa.Hari baru saja berganti ketika kami bersiap-siap menuju tempat Bu Kasno biasa menjajakan gudeg cakar (ceker-red) buatannya. Kedatangan kami ke Kota Solo, Jateng bukan dengan niat khusus untuk traveling, melainkan dalam rangka mudik Lebaran.Meski begitu, tentu sayang untuk melewatkan kesempatan jalan-jalan di kota yang indah dan penuh dengan objek wisata ini, khususnya wisata kuliner. Lagi, bukankah mudik Lebaran bisa dimasukkan dalam jenis traveling?Β Bu Kasno biasa menjajakan gudeg cakar buatannya di Jalan Monginsidi, Kota Solo, Jawa Tengah. Meski berjualan di Jalan Monginsidi, makanan ini lebih dikenal dengan nama "Gudeg Cakar Margoyudan". Kalau tidak salah, Margoyudan adalah nama dari sebuah jalan kecil atau gang yang ada di sekitar Jalan Monginsidi tersebut.Dari daerah Kartosuro, Sukoharjo, dengan menggunakan sepeda motor dan membekali diri dengan peta digital, butuh sekitar 15 menit perjalanan menuju Gudeg cakar Bu Kasno Margoyudan. Karena tempat makan ini terletak di jalan protokol, tentu tidak akan sulit bagi Anda untuk menemukannya.Kami sampai di lokasi sekitar pukul 02.00 WIB. Meski pada jam ini bukanlah waktu yang wajar bagi orang untuk keluar rumah, ternyata terlihat banyak sekali kerumunan pembeli di sini. Pemandangan unik yang jarang sekali bisa Anda temukan di sebuah lokasi kuliner.Hebatnya, dari banyaknya mobil yang berjejer di sepanjang jalan--merupakan mobil para pembeli, mayoritas bukanlah mobil dari Solo. Akan tetapi, mobil itu berasal dari luar kota dengan nomor polisi 'L'.Setelah memarkir sepeda motor dan sedikit mengabadikan suasana antrean, kami pun segera merangsek masuk ke dalam kerumunan antrian itu. Ya, karena terlambat, maka mau tak mau kami harus berdesakan dengan calon pembeli yang lain.Meski sudah berdesakan dan sedikit memaksakan tubuh yang kecil dan mungil ini masuk ke dalam antrean, ternyata baru 30 menit kemudian kami bisa memesan dan mendapatkan gudeg cakar ini. Sedikit banyak, hal ini mengajarkan kami tentang susahnya mencari makan.Β Dalam waktu sekejap, yang dihitung sejak memesan dan merogoh kocek Rp 54.000 akhirnya dua piring nasi gudeg dengan sambal kerecek, empat cakar ayam, dua ati ampela, dan dua gelas teh manis panas, sudah di tangan. Kami pun memilih untuk menyantap makanan ini di luar area warung dengan beralaskan tikar.Rasa gudegnya sangat gurih dan cenderung asin. Sementara cakar ayamnya terasa sangat empuk. Kata seorang pekerja di warung ini, cakarnya dimasak dalam kuah santan dengan waktu yang cukup lama, sehingga kulit dan tulang mudanya akan langsung terlepas ketika digigit. Porsinya pun tidak terlalu besar, cukup lah untuk kami yang sedang sarapan pagi yang kepagian ini.Β Puas menyantap kuliner nikmat ini, sekitar pukul 03.00 WIB kami pun beranjak kembali ke rumah. Meski waktu istirahat hari ini terpotong banyak, tapi tergantikan dengan asyiknya suasana pagi yang dingin di Gudeg cakar Bu Kasno Margoyudan. Suasana ini belum tentu bisa kami dapatkan di tempat lain.Β
(travel/travel)












































Komentar Terbanyak
Viral Baling-Baling Pesawat Diikat Cable Tie, Wings Air Buka Suara
Bandara Husein Bangkit Lagi? Farhan Senyum Lebar Dapat Sinyal dari Prabowo
Katanya Pulau Dewata Dijaga, tapi DPRD Justru Usulkan Gedung Lebih Tinggi