Masuk Rimba Kalimantan dan Bertemu Orangutan, Berani?

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Masuk Rimba Kalimantan dan Bertemu Orangutan, Berani?

Nurvita Indarini - detikTravel
Selasa, 27 Agu 2013 13:50 WIB
Masuk Rimba Kalimantan dan Bertemu Orangutan, Berani?
Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting (Vita/ detikTravel)
Pangkalan Bun - Sinyal ponsel adalah sesuatu yang 'langka' saat mulai masuk ke rimba Kalimantan. Namun orangutan dan monyet bukan sesuatu yang langka di sini. Mereka siap menyambut Anda saat memasuki Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Berani?

Taman Nasional Tanjung Puting berada di selatan Kalimantan Tengah. Dari Jakarta, traveler hanya perlu waktu sekitar satu jam untuk terbang ke Bandara Iskandar di Pangkalan Bun, bandara terdekat dengan Tanjung Puting.

Kemudian Anda bisa naik taksi menuju ke dermaga di Kumai, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan dengan speedboat. Perlu waktu satu jam menaiki speed boat hingga akhirnya tiba di muara Sungai Sekonyer yang merupakan gerbang Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bersama dengan rombongan dari Kementerian Pariwisatan dan Ekonomi Kreatif, dalam rangka Destination Management Organization (DMO) Bimtek Local Working Group (LGW) bidang SDM dan Kemasyarakatan, detikTravel berkesempatan melihat dari dekat primata-primata yang ada di Tanjung Puting pada Senin (26/8/2013).

Jalan menembus belantara dari pinggir sungai adalah berupa jembatan kayu yang kokoh, dan dilanjutkan jalan tanah khas hutan belantara. Baru saja masuk ke hutan, monyet ekor panjang sudah menyambut dengan berlompatan di antara dahan-dahan pohon.

Beberapa meter berjalan, kami harus melakukan cek tiket masuk Leakey Camp. Petugas pengecekan itu rupanya suami istri. Sebulan sekali mereka pulang ke rumahnya sendiri untuk digantikan oleh petugas jaga lainnya.

Tak lama, rombongan bertemu dengan sesosok orangutan betina dewasa bernama Siswi. Siswi berusia sekitar 35 tahun. Untuk seekor orangutan, Siswi termasuk over weight. Berat badan berlebih itu didapat setelah dia menjalani operasi gara-gara makan plastik. Sejak itu, bahkan dia divonis tidak akan bisa hamil lagi.

Dulu sekali, Siswi pernah melahirkan seekor orangutan. Namun mungkin karena dia tidak terlalu pandai mengasuh anak, suatu kali anaknya ditemukan mati kaku di pinggir sungai. Itulah anak pertama dan terakhir Siswi. Kini, karena dirinya tidak bisa punya anak lagi, sepertinya dia cukup puas bermain dengan orangutan kecil yang ada di sekitarnya.

"Siswi ini termasuk orangutan yang suka anak-anak sebenarnya. Dia suka bermain dengan orangutan yang kecil-kecil," kata Yomie Kamale, pemandu wisata yang mendampingi rombongan.

Di dalam hutan, bisa disaksikan tempat untuk memberi makan orangutan. Petugas menaruh beberapa pisang di tempat tersebut, dan beberapa saat kemudian, orangutan betina yang datang menggendong anaknya datang untuk menyantapnya.

orangutan adalah binatang yang tidak berkelompok. Sehingga saat makan, mereka terlihat sendiri-sendiri. orangutan yang dominan atau ditakuti orangutan lainnya, biasanya akan makan lebih dahulu. Setelah mereka kenyang, baru orangutang lain akan datang ke tempat tersebut.

Leakey Camp pertama kali dibuka pada tahun 1971 oleh Dr Birute Galdikas dan Rod Brindamour. Tempat ini bukan sekadar lapangan kerja ilmiah tetapi juga pusat rehabilitasi orangutan. Inilah pusat rehabilitasi orangutan pertama di Kalimantan.

Menurut fasilitator destinasi Taman Nasional Tanjung Puting, Edy Hendras, di kawasan tersebut terdapat 9 jenis primata yakni orangutan, uwa-uwa, bekantan, lutung hitam, lutung merah, beruk, monyet ekor panjang, kukang, dan tarsius. Untuk orangutan sendiri, populasinya sekitar 6.000 ekor.

(sst/sst)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads