Kisah Para Ibu Jago Masak di Perahu Klotok Tanjung Puting

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Kisah Para Ibu Jago Masak di Perahu Klotok Tanjung Puting

- detikTravel
Rabu, 04 Sep 2013 10:54 WIB
Kisah Para Ibu Jago Masak di Perahu Klotok Tanjung Puting
Para ibu jago masak di klotok (Vita/detikTravel)
Tanjung Puting - Demi mencari tambahan penghasilan, para ibu ini rela beberapa hari tidur di atas sungai. Rasa kangen pada anak disimpan sejenak demi mengumpulkan rupiah di atas perahu klotok sekitar Taman Nasional Tanjung Puting, Kalteng.

"Awalnya saya ikut pelatihan (pelatihan juru masak perahu klotok). Lalu saya dikontak kalau klotok lagi butuh tukang masak," ujar Aisyah kepada detikTravel.

Hal itu disampaikan di sela-sela kegiatan pelatihan bagi juru masak perahu klotok yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kegiatan dilakukan di perahu klotok yang menyusur Sungai Sekonyer dari Kumai menuju pintu gerbang Taman Nasional Tanjung Puting, Rabu (28/8/2013) lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aisyah sudah dua tahun menjadi juru masak di perahu klotok. Pekerjaan ini dijalani karena dia menjadi tulang punggung keluarga setelah sang suami meninggal. Untunglah anak-anaknya sudah cukup besar, sehingga dia tidak terlalu kesulitan meninggalkan mereka 3-5 hari tidak pulang karena ikut perjalanan perahu klotok.

Maklum, banyak wisatawan yang menggunakan perahu klotok untuk menginap, seperti bermalam di kapal pesiar. Sehingga para tamu pun memerlukan konsumsi.

"Saya senang kerja begini. Kalau masak kan sebenarnya semua orang bisa masak. Pekerjaan nggak terlalu berat, kita dapat gaji, kadang dapat tip, kadang dikasih hadiah sama tamu seperti bedak, dompet," tutur perempuan 39 tahun itu polos.

Menurut dia, semakin ramainya Tanjung Puting didatangi wisatawan, maka peluang kerja bagi warga sekitar semakin terbuka. Apalagi kini permintaan menjadi juru masak klotok semakin meningkat.

"Iya sekarang ramai. Ibu-ibu jadi bisa kerja. Apalagi kerjanya enak kok. Mungkin karena kita menyukai apa yang kita kerjakan, jadi semuanya gampang-gampang saja," papar Aisyah.

Chef Mangun dari Swiss-Bell Hotel Pangkalan Bun dan Sonjaya yang merupakan tenaga pengajar di Enhai Bandung-lah yang memberi pelatihan pada ibu-ibu tersebut. Selain memberikan menu resep yang bisa dicoba dimasak di atas klotok, mereka juga berpesan agar para juru masak tidak membuang sampah sisa makanan ataupun sisa bahan pembuatan makanan di sungai. Hal ini dilakukan agar sepanjang sungai tetap bersih.

Para juru masak juga diminta untuk lebih kreatif dalam memasak makanan. Sehingga, menu yang disajikan lebih variatif meskipun dengan bahan pembuatan yang itu-itu saja.

"Iklan yang paling baik itu kan dari mulut ke mulut. Kalau masakan kita enak, cara masak bersih, dan kita ramah, tentu akan membuat wisatawan puas. Dia akan merekomendasikan ke saudara atau teman-temannya untuk wisata ke sini," pesan Sonjaya.

(ptr/fkr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads