Unik! Adu Gladiator Ala Lombok

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Festival Bau Nyale

Unik! Adu Gladiator Ala Lombok

- detikTravel
Senin, 03 Mar 2014 07:41 WIB
Unik! Adu Gladiator Ala Lombok
Peresean, tradisi seni khas Lombok (Shafa/detikTravel)
Lombok Tengah - Tak usah ke Colloseum di Italia untuk melihat bekas arena gladiator. Lombok masih melestarikan tradisi Peresean, tanding ala gladiator untuk mencari prajurit terbaik di kerajaan. Seru banget untuk ditonton wisatawan.

Dahulu kala, saat Lombok masih merupakan kerajaan, ada cara tersendiri untuk memilih para prajurit kerajaan yaitu dengan cara Peresean. Kini, cara tersebut sudah jadi seni budaya yang menarik untuk atraksi wisata

Saat Lombok masih berbentuk kerajaan, Peresean jadi cara untuk memilih prajurit di sana. Sebelum diterima menjadi prajurit, mereka akan adu ketangkasan terlebih dahulu. Bagaimana caranya?

Pertama, mereka menggunakan pecut sebagai senjata dan tameng sebagai pelindung. Nantinya, siapa yang bisa bertahan, itulah yang dianggap kuat dan jadi pemenang.

Kini, kegiatan tersebut telah menjadi tradisi yang dikenal dengan nama Peresean. Biasanya, Peresean ini dijadikan persembahan untuk menyambut tamu dan jadi bagian dalam aneka festival dan acara.

Seperti yang ada dalam Festival Bau Nyale yang dihadiri detikTravel beberapa waktu lalu. Peresean berlangsung dengan seru, dan ditonton oleh banyak orang. Awalnya, Pepadu (para peserta) akan dipilih oleh Pekembar (sang pemilih, yang sudah menjadi Pepadu senior).

Setelah ditentukan, mereka akan mengenakan kain tradisional, dengan udeng dan bertelanjang dada. Menggunakan pecutan dan tameng, para Pepadu ini akan adu kekuatan dan ketangkasan di tengah lingkaran manusia.

Ada Pekembar Tengah yang menjadi wasit sekaligus menentukan jalannya pertandingan. Di acara seperti ini, Peresean lebih menjadi kompetisi, bukan hanya penampilan seni.

Bagi Pepadu yang mengenai lawannya di kepala, akan mendapat nilai 3, mengenai lengan mendapat nilai 2 dan mengenai perut bernilai 1. Jika bisa membuat berdarah atau bocor kepala, bisa dinyatakan menang mutlak dan lawannya dianggap KO.

Lamanya pertandingan bergantung dari kekuatan dari para Pepadu. Jadi tidak ada durasi tetap dari permainan ini. Untuk mengurangi tensi, atau malah menaikkan emosi lawan, Pepadu akan menari mengikuti musik yang dimainkan para pemusik.

Di saat yang tepat, salah satu dari mereka akan saling menyerang dan terjadilah pertandingan yang seru. Para penonton biasanya bersorak sorai saat mereka sedang saling menyerang. Jika serangan dianggap terlalu agresif, sang Pekembar Tengah akan memisahkan.

Minggu lalu, waktu berlangsungnya Festival Bau Nyale di Lombok Tengah, Peresean menarik perhatian banyak wisatawan. Mereka menonton dari bukit dan di sekeliling area pertandingan. Semakin sore semakin banyak yang menonton. Seru!

(ptr/fay)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads