Kamasutra & 4 Hal Menarik di Keraton Kasepuhan Cirebon

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Kamasutra & 4 Hal Menarik di Keraton Kasepuhan Cirebon

- detikTravel
Senin, 04 Agu 2014 07:40 WIB
Kamasutra & 4 Hal Menarik di Keraton Kasepuhan Cirebon
(Fitraya/detikTravel)
Cirebon - Siapa bilang keraton itu membosankan? Keraton Kasepuhan di Cirebon memiliki sejumlah barang koleksi yang menarik dan di luar dugaan para wisatawan. Ada ukiran kamasutra, sampai lukisan yang bisa 'melirik'.

Keraton Kasepuhan adalah satu dari 4 keraton di Cirebon. Wisatawan bisa berkunjung ke sini dengan membayar tiket Rp 20.000 untuk melihat isi istana dan aneka barang koleksinya yang menarik. Dihimpun detikTravel, Senin (4/8/2014) inilah 5 hal menarik yang ada di sana:

1. Kereta kerajaan tercanggih di zamannya

(Fitraya/detikTravel)
Begitu masuk pelataran dalam Keraton Kasepuhan, ada Museum Kereta Singa Barong di sebelah kiri. Singa Barong adalah kereta kerajaan milik Keraton Kasepuhan. Kereta buatan tahun 1549 ini berbentuk gabungan hewan gajah, naga dan garuda.

Pada masanya, ini adalah kereta kerajaan paling canggih karena sudah dilengkapi dengan suspensi, shockbreaker, power steering dan keretanya bisa berbelok 90 derajat karena roda depannya bisa dikendalikan layaknya mobil. Kereta ini ditarik dengan 4 kerbau bule (albino).

Kereta Singa Barong memiliki duplikat di bagian belakang museum. Kereta duplikatnya itulah yang sering dibawa ke berbagai festival dan pameran.

2. Lukisan yang bisa 'melirik'

(Fitraya/detikTravel)
Masih di Museum Kereta Singa Barong ada lukisan Prabu Siliwangi di samping kereta duplikat Singa Barong. Prabu Siliwangi adalah Raja Pajajaran yang sekaligus ayah dari Pangeran Cakrabuana, pendiri Cirebon dan kakek dari Sunan Gunung Jati.

Ada yang unik dari lukisan ini, mata Prabu Siliwangi akan selalu menatap pengunjung dimanapun mereka berdiri. Tidak hanya itu, posisi kaki kirinya akan selalu mengarah kepada pengunjung, dimanapun mereka berdiri. Kok bisa?

Menurut pemandu, lukisan ini dibuat dengan teknik melukis khusus, dimana bola mata digambarkan menatap lurus ke depan. Sehingga, efeknya agak seperti tiga dimensi dimana mata Prabu Siliwangi seolah menatap pengunjung dimanapun posisi mereka berdiri.

3. Ukiran kamasutra

(Fitraya/detikTravel)
Simbol seksualitas pada masa kerajaan di Nusantara sering digambarkan dengan batu lingga dan yoni. Tapi jangan salah, Keraton Kasepuhan Cirebon memiliki ukiran kamasutra. Wisatawan bisa membuktikan sendiri dengan datang ke sana.

Ukiran kamasutra ini berada di dalam museum koleksi benda antik, di depan Museum Kereta Singa Barong. Letaknya ada di bagian paling ujung ruangan museum, dekat pintu keluar. Ukiran kamasutra ini dibuat oleh Panembahan Girilaya, salah satu sultan di Keraton Kasepuhan. Menurut pemandu, ini adalah bentuk pendidikan seksual di masa itu.

4. Singgasana raja

(Fitraya/detikTravel)
Tidak lengkap rasanya jika berkunjung ke keraton tanpa melihat singgasana raja. Bangunan utama Keraton Kasepuhan yang berwarna putih adalah tempat dimana singgasana raja berada.

Bangunan itu penuh dengan keramik China dan Eropa yang ditempelkan ke dinding. Wisatawan bisa masuk ke teras depan, namun ada batas tali sehingga tidak bisa sampai masuk ke ruang utama. Tapi dari posisi berdiri, kita bisa melihat aula utama di dalam keraton dengan singgasana sultan di bagian ujungnya.

Menurut pemandu, istana utama ini dibuka untuk umum pada saat tertentu, misalnya open house Idul Fitri. Keraton Kasepuhan saat ini dipimpin oleh PRA Arief Natadiningrat dengan gelar Sultan Sepuh XIV. Saat open house, warga dan wisatawan bisa bertemu langsung dengan sultan.

5. Tengkorak buaya putih

(Fitraya/detikTravel)
Nah, kembali ke museum benda antik di Keraton Kasepuhan, di sana ada tengkorak buaya putih. Disebutkan kalau buaya putih ini diambil dari Kali Krian, sebuah sungai yang besar dan dalam di Cirebon.

Buaya putih adalah hewan yang berkaitan erat dengan mistis di Cirebon. Sering disebutkan kalau buaya putih adalah siluman jadi-jadian yang menghuni Kali Krian. Betul atau tidak, yang jelas tengkorak buaya putih itu ada di museum.
Halaman 2 dari 6
Begitu masuk pelataran dalam Keraton Kasepuhan, ada Museum Kereta Singa Barong di sebelah kiri. Singa Barong adalah kereta kerajaan milik Keraton Kasepuhan. Kereta buatan tahun 1549 ini berbentuk gabungan hewan gajah, naga dan garuda.

Pada masanya, ini adalah kereta kerajaan paling canggih karena sudah dilengkapi dengan suspensi, shockbreaker, power steering dan keretanya bisa berbelok 90 derajat karena roda depannya bisa dikendalikan layaknya mobil. Kereta ini ditarik dengan 4 kerbau bule (albino).

Kereta Singa Barong memiliki duplikat di bagian belakang museum. Kereta duplikatnya itulah yang sering dibawa ke berbagai festival dan pameran.

Masih di Museum Kereta Singa Barong ada lukisan Prabu Siliwangi di samping kereta duplikat Singa Barong. Prabu Siliwangi adalah Raja Pajajaran yang sekaligus ayah dari Pangeran Cakrabuana, pendiri Cirebon dan kakek dari Sunan Gunung Jati.

Ada yang unik dari lukisan ini, mata Prabu Siliwangi akan selalu menatap pengunjung dimanapun mereka berdiri. Tidak hanya itu, posisi kaki kirinya akan selalu mengarah kepada pengunjung, dimanapun mereka berdiri. Kok bisa?

Menurut pemandu, lukisan ini dibuat dengan teknik melukis khusus, dimana bola mata digambarkan menatap lurus ke depan. Sehingga, efeknya agak seperti tiga dimensi dimana mata Prabu Siliwangi seolah menatap pengunjung dimanapun posisi mereka berdiri.

Simbol seksualitas pada masa kerajaan di Nusantara sering digambarkan dengan batu lingga dan yoni. Tapi jangan salah, Keraton Kasepuhan Cirebon memiliki ukiran kamasutra. Wisatawan bisa membuktikan sendiri dengan datang ke sana.

Ukiran kamasutra ini berada di dalam museum koleksi benda antik, di depan Museum Kereta Singa Barong. Letaknya ada di bagian paling ujung ruangan museum, dekat pintu keluar. Ukiran kamasutra ini dibuat oleh Panembahan Girilaya, salah satu sultan di Keraton Kasepuhan. Menurut pemandu, ini adalah bentuk pendidikan seksual di masa itu.

Tidak lengkap rasanya jika berkunjung ke keraton tanpa melihat singgasana raja. Bangunan utama Keraton Kasepuhan yang berwarna putih adalah tempat dimana singgasana raja berada.

Bangunan itu penuh dengan keramik China dan Eropa yang ditempelkan ke dinding. Wisatawan bisa masuk ke teras depan, namun ada batas tali sehingga tidak bisa sampai masuk ke ruang utama. Tapi dari posisi berdiri, kita bisa melihat aula utama di dalam keraton dengan singgasana sultan di bagian ujungnya.

Menurut pemandu, istana utama ini dibuka untuk umum pada saat tertentu, misalnya open house Idul Fitri. Keraton Kasepuhan saat ini dipimpin oleh PRA Arief Natadiningrat dengan gelar Sultan Sepuh XIV. Saat open house, warga dan wisatawan bisa bertemu langsung dengan sultan.

Nah, kembali ke museum benda antik di Keraton Kasepuhan, di sana ada tengkorak buaya putih. Disebutkan kalau buaya putih ini diambil dari Kali Krian, sebuah sungai yang besar dan dalam di Cirebon.

Buaya putih adalah hewan yang berkaitan erat dengan mistis di Cirebon. Sering disebutkan kalau buaya putih adalah siluman jadi-jadian yang menghuni Kali Krian. Betul atau tidak, yang jelas tengkorak buaya putih itu ada di museum.

(ptr/ptr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads