Ada Kuburan Belanda di Kebun Raya Bogor
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Ada Kuburan Belanda di Kebun Raya Bogor

- detikTravel
Jumat, 07 Nov 2014 07:45 WIB
Ada Kuburan Belanda di Kebun Raya Bogor
(Sastri/detikTravel)
Bogor - 'Harta karun' yang bisa Anda temukan di Kebun Raya Bogor, tak hanya Rafflesia arnoldii atau pohon-pohon raksasa berusia ratusan tahun. Ada kuburan Belanda yang letaknya terpencil, di tengah-tengah hutan bambu.

Beberapa waktu lalu, tepat pada Minggu pagi, warga berbondong-bondong masuk dari berbagai pintu Kebun Raya Bogor. Mayoritas dari mereka datang bersama keluarga, serta anak kecil yang berlarian dengan riang.

detikTravel, yang waktu itu masuk lewat Pintu 3, berada di tengah-tengah mereka. Usai melewati Taman Astrid nan luas, Taman Meksiko yang penuh kaktus, jembatan gantung, serta Pintu Utama dan Kebun Anggrek, tampak jalan setapak memasuki hutan bambu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa nisan putih tampak dari jalan utama. Seperti apakah kuburan Belanda di Kebun Raya Bogor, ayo kita simak:

1. Komplek pemakaman Belanda

(Sastri/detikTravel)
Kawasan ini memang agak sepi dibanding spot-spot sebelumnya. Penasaran, detikTravel pun masuk dan menyambangi apa yang disebut sebagai Makam Belanda.

Cahaya matahari menyusup di sela-sela pohon bambu yang tumbuh rapat. Deretan nisan dikelilingi tembok bata setinggi pinggang orang dewasa. Di dekat pintu masuk terdapat papan informasi. Rupanya, makam ini sudah ada bahkan sebelum Kebun Raya Bogor didirikan pada 1817.

2. Total ada 42 makam

(Sastri/detikTravel)
Ada 42 makam, 38 di antaranya punya identitas sedangkan sisanya makam tak dikenal. Mayoritas jasad yang dimakamkan adalah kerabat dekat Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Makam DJ de Erens, Gubernur Jenderal yang menjabat tahun 1836-1840 terletak tidak jauh dari pintu masuk. Ada pula makam Ary Prins, ahli hukum yang 2 kali menjadi pejabat sementara Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

3. Makam para ilmuwan

(Sastri/detikTravel)
Masuk lebih dalam, ada makam 2 ahli biologi yang meninggal tahun 1870-an pada usia muda. Mereka dimakamkan dalam 1 tempat, dengan 1 nisan. Mereka adalah Heinrich Kuhl dan JC Van Hasselt, anggota 'The Netherlands Commission for Natural Sciences' yang dikirim ke Indonesia untuk bekerja di Kebun Raya Bogor.

Makam tertua, yang tidak juga detikTravel temukan meski sudah berputar dan membaca tiap nisan, adalah milik Cornelis Potmans. Dia adalah seorang Belanda yang jadi administrator toko obat, wafat pada 2 Mei 1784.

4. Banyak ornamen gothik

(Sastri/detikTravel)
Bentuk nisan, ornamen, dan tulisan di tiap makam sangat menarik untuk diamati. Banyak nisan dengan tulisan bergaya gothik, mayoritas dari abad ke-19.

Belakangan detikTravel pun baru mengetahui, area sekitar makam ini terkenal angker. Namun makam ini menjadi saksi sejarah, sekaligus 'harta karun' yang jarang ditemui turis di Kebun Raya tersebut.

5. Makam terakhir

(Sastri/detikTravel)
Makam terbaru, dengan nisan yang paling modern adalah milik Prof Dr AJGH Kostermans. Ahli botani keturunan Belanda itu wafat pada 1994. Dia lahir dan menjadi Warga Negara Indonesia sejak lahir pada 1958.

Sesuai keinginannya, Kostermans dimakamkan di lingkungan tumbuhan yang dia cintai. Ini juga sebagai bentuk penghargaan pemerintah Indonesia, atas jasa Kostermans bekerja di kantor Herbarium Bogoriense sampai akhir hayatnya.
Halaman 2 dari 6
Kawasan ini memang agak sepi dibanding spot-spot sebelumnya. Penasaran, detikTravel pun masuk dan menyambangi apa yang disebut sebagai Makam Belanda.

Cahaya matahari menyusup di sela-sela pohon bambu yang tumbuh rapat. Deretan nisan dikelilingi tembok bata setinggi pinggang orang dewasa. Di dekat pintu masuk terdapat papan informasi. Rupanya, makam ini sudah ada bahkan sebelum Kebun Raya Bogor didirikan pada 1817.

Ada 42 makam, 38 di antaranya punya identitas sedangkan sisanya makam tak dikenal. Mayoritas jasad yang dimakamkan adalah kerabat dekat Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Makam DJ de Erens, Gubernur Jenderal yang menjabat tahun 1836-1840 terletak tidak jauh dari pintu masuk. Ada pula makam Ary Prins, ahli hukum yang 2 kali menjadi pejabat sementara Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Masuk lebih dalam, ada makam 2 ahli biologi yang meninggal tahun 1870-an pada usia muda. Mereka dimakamkan dalam 1 tempat, dengan 1 nisan. Mereka adalah Heinrich Kuhl dan JC Van Hasselt, anggota 'The Netherlands Commission for Natural Sciences' yang dikirim ke Indonesia untuk bekerja di Kebun Raya Bogor.

Makam tertua, yang tidak juga detikTravel temukan meski sudah berputar dan membaca tiap nisan, adalah milik Cornelis Potmans. Dia adalah seorang Belanda yang jadi administrator toko obat, wafat pada 2 Mei 1784.

Bentuk nisan, ornamen, dan tulisan di tiap makam sangat menarik untuk diamati. Banyak nisan dengan tulisan bergaya gothik, mayoritas dari abad ke-19.

Belakangan detikTravel pun baru mengetahui, area sekitar makam ini terkenal angker. Namun makam ini menjadi saksi sejarah, sekaligus 'harta karun' yang jarang ditemui turis di Kebun Raya tersebut.

Makam terbaru, dengan nisan yang paling modern adalah milik Prof Dr AJGH Kostermans. Ahli botani keturunan Belanda itu wafat pada 1994. Dia lahir dan menjadi Warga Negara Indonesia sejak lahir pada 1958.

Sesuai keinginannya, Kostermans dimakamkan di lingkungan tumbuhan yang dia cintai. Ini juga sebagai bentuk penghargaan pemerintah Indonesia, atas jasa Kostermans bekerja di kantor Herbarium Bogoriense sampai akhir hayatnya.

(shf/shf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads