Keajaiban Green Canyon di Pangandaran

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Keajaiban Green Canyon di Pangandaran

Johanes Randy Prakoso - detikTravel
Senin, 25 Jul 2016 12:10 WIB
Keajaiban Green Canyon di Pangandaran
Bibir Green Canyon yang indah bukan main (Randy/detikTravel)
Pangandaran - Apabila AS punya Grand Canyon, maka Pangandaran punya Green Canyon yang tak kalah indah. Liburan ke Green Canyon, bersiap-siaplah untuk dibuat kagum.

Terletak sekitar 31 km arah Selatan dari Pangandaran atau tepatnya di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, terdapat objek wisata Green Canyon yang populer di kalangan masyarakat lokal hingga wisatawan mancanegara.

Pada hari Sabtu kemarin (23/7/2016), detikTravel pun sempat liburan ke Pangandaran dan berkunjung ke Green Canyon. Berhubung datang pada saat weekend, objek wisata itu pun sedikit ramai. Tampak dari sejumlah bus dan kendaraan umum yang tengah parkir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Walau sudah populer sejak lama, tampaknya keramaian itu menjadi bukti akan pesona dari Green Canyon yang tak pernah hilang. Ini pun adalah kali kedua saya berkunjung ke Green Canyon, namun masih ramai seperti dulu.

Green Canyon atau Cukang Taneuh (Randy/detikTravel)
Saya yang datang dengan rombongan pun harus mengantre untuk membeli tiket reservasi perahu atau yang akarab disapa ketinting oleh warga lokal. Saya pun dipandu oleh seorang juru mudi ketinting bernama Dede yang juga menceritakan akan asal muasal nama Green Canyon.

"Aslinya Green Canyon itu namanya Cukang Taneuh oleh warga lokal, tapi ada turis asing yang bilang Green Canyon, jadi dipilihlah nama yang lebih populer," ujar Dede yang telah memandu tamu selama tujuh tahun.

Konon pada tahun 1993 silam, ada seorang Prancis bernama Bill John. Melihat warna tebing serta sungai yang berwarna kehijauan, ia pun lantas menyebut nama Green Canyon yang masih dipakai dan populer hingga kini.

Menaiki perahu ketinting untuk menuju mulut gua (Randy/detikTravel)
Sayangnya saat saya berkunjung, sempat hujan deras pada malam sebelumnya. Sehingga air sungai yang tadinya berwarna hijau, berubah warna menjadi kecoklatan. Warna coklat itu sendiri berasal dari tanah merah yang terbawa air dari daratan dan menutupi warna asli sungai yang hijau.

"Ini teh aslinya warna hijau, tapi semalam kan hujan deras, makanya airnya jadi coklat. Kemarin mah masih hijau," jelas Dede.

Tapi tidak hanya mengubah warna air jadi coklat, hujan deras juga menambah debit air di sungai. Alhasil ketika tiba di mulut gua Green Canyon, saya dan traveler lain tidak bisa menjelajah ke bagian dalam akibat aliran air yang sangat deras.

Mulut Green Canyon yang megah (Randy/detikTravel)
Padahal apabila arus tidak deras, traveler bisa menjelajah bagian dalam gua yang tentunya jauh lebih indah dengan berenang dan trekking. Bahkan ada Pemandian Putri hingga Batu Payung yang sering dipakai melompat oleh wisatawan yang bernyali. Sayang tidak bisa masuk.

Walau begitu, sejumlah pengunjung pun tak melewatkan kesempatan untuk melompat dari bibir gua untuk melakukan bodyboarding. Bermodalkan jaket pelampung, mereka pun menikmati buaian sungai hingga ke dermaga. Tak sedikit pula turis asing yang tampak kegirangan.

Wisatawan yang bersiap lompat untuk bodyboarding (Randy/detikTravel)
Apabila ingin menikmati keseruan di Green Canyon, traveler pun perlu merogoh kocek sebesar Rp 150 ribu untuk menyewa perahu berkapasitas 5-6 orang dengan durasi setengah jam. Apabila memungkinkan untuk eksplore dalam gua, traveler akan dikenakan biaya tambahan pemandu seharga Rp 100 ribu serta tips seikhlasnya.

Objek wisata Green Canyon buka setiap hari dan beroperasi dari pukul 07.30-16.00 WIB. Jika ingin suasana terbaik, datanglah pada musim kemarau dan pada saat weekday. Dijamin puas! (rdy/fay)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads