Ambon -
Penjajah Belanda gemar menamai benteng mereka di Indonesia dengan nama dari Negeri Kincir Angin itu. Ayo berkenalan dengan Benteng Beverwijk di Pulau Nusalaut, Maluku
Sebuah benteng di Beverwijk, Amsterdam ternyata punya kembaran di Indonesia, namanya sama. Benteng ini menjadi saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia di Pulau Nusalaut di Desa Sila dekat Ambon.
detikTravel berkunjung ke sana pada pekan lalu. Saat memasuki area benteng, kita diwajibkan mengisi buku tamu. Penjaga benteng itu juga meminta sumbangan seikhlasnya untuk perawatan benteng tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah mengisi buku tamu, kita diizinkan masuk ke dalam benteng. Tanpa didampingi pemandu, kita bebas melihat-lihat isi benteng. Ini dia sejumlah temuan menarik detikTravel di sana:
1. Sejarah Benteng Beverwijk
Papan informasi sejarah Benteng Beverwijk (Ega Putra/detikTravel)
|
Sebelum masuk ke area benteng, pengunjung dapat melihat sejarah singkat benteng tersebut di papan informasi yang disediakan. Di situ disebutkan bahwa pada tahun 165, VOC pimpinan Verhoeven membangun lagi sebuah benteng di dekat pemukiman di pesisir utara Pulau Nusalaut.
Menurut catatan Belanda tahun 1656, benteng tersebut disebut Beverwijk. Benteng ini dijaga oleh seorang sersan dengan 20 prajurit berserta seorang tabib.
2. Peristiwa berdarah
Pemandangan laut dilihat dari pintu benteng (Ega Putra/detikTravel)
|
Sejarah mengatakan pada 17 November 1817, Kapitan Paulus Tiahahu, seorang penduduk Nusalaut, dibunuh di depan benteng tersebut. Pembunuhannya disaksikan oleh rakyat dan keluarganya. Sungguh kejam sekali perlakuan kolonial saat itu.
Pada 1817 itu juga Benteng Beverwijk ini berhasil direbut oleh rakyat Nusalaut. Semua penghuni benteng itu dibunuh kecuali seorang kopral Belanda dan dua prajurit berdarah Jawa. Pada tahun 1838 benteng ini tidak digunakan lagi.
3. Bentuk fisik Benteng Beverwijk
Dinding benteng yang tebal (Mega/detikTravel)
|
Dalam papan informasi itu juga disebutkan, Benteng Beverwijk mirip dengan Benteng Amsterdam. Baik dari denah, bentuk maupun ukurannya.
Denahnya bujur sangkar dengan luas 12 x 12 m. Tinggi dinding bangunan adalah 7,20 m. Tebal dinding tembok di bagian bawah adalah 2,20 m.
Sedangkan dinding tembok di atasnya tinggi 2,40 m atau sampai dengan bekas pasangan balok lantai dua tebalnya 2,10 m. Sementara dinding tembok di lantai tiga yang tingginya (dari batas lantai) 1,25 m dan memiliki tebal 1,05 m.
4. Terjaga keasliannya
Fisik benteng terjaga keasliannya (Mega/detikTravel)
|
Jika melihat benteng tersebut, traveler akan tahu kalau bangunan ini masih dijaga keasliannya. Hanya saja atap dan beberapa fondasi di dalamnya sudah dilakukan renovasi.
Benteng tersebut memiliki tiga lantai. Lantai dua dan tiga serta bagian rangka atap terlihat menggunakan kayu-kayu yang baru direnovasi.
Ada sebuah ruang tahanan yang digunakan Belanda untuk menahan rakyat Indonesia saat itu. Ruangannya gelap dan kecil sekitar 2 x 2 meter. Tanpa ada jendela dan penerangan. Sadis banget!
5. Jendela meriam
Pemandangan laut yang eksotis dari jendela meriam (Ega Putra/detikTravel)
|
Beberapa jendela dan juga lubang digunakan untuk senjata meriam di setiap sisi benteng. Dari salah satu jendela, terdapat balkon dan dapat melihat laut lepas dengan pemandangan indah sekitarnya.
Di balik dinding benteng ini, ada sejarah tragis yang mewarnai perjuangan Indonesia. Traveler harus bangga jadi bangsa Indonesia!
Sebelum masuk ke area benteng, pengunjung dapat melihat sejarah singkat benteng tersebut di papan informasi yang disediakan. Di situ disebutkan bahwa pada tahun 165, VOC pimpinan Verhoeven membangun lagi sebuah benteng di dekat pemukiman di pesisir utara Pulau Nusalaut.
Menurut catatan Belanda tahun 1656, benteng tersebut disebut Beverwijk. Benteng ini dijaga oleh seorang sersan dengan 20 prajurit berserta seorang tabib.
Sejarah mengatakan pada 17 November 1817, Kapitan Paulus Tiahahu, seorang penduduk Nusalaut, dibunuh di depan benteng tersebut. Pembunuhannya disaksikan oleh rakyat dan keluarganya. Sungguh kejam sekali perlakuan kolonial saat itu.
Pada 1817 itu juga Benteng Beverwijk ini berhasil direbut oleh rakyat Nusalaut. Semua penghuni benteng itu dibunuh kecuali seorang kopral Belanda dan dua prajurit berdarah Jawa. Pada tahun 1838 benteng ini tidak digunakan lagi.
Dalam papan informasi itu juga disebutkan, Benteng Beverwijk mirip dengan Benteng Amsterdam. Baik dari denah, bentuk maupun ukurannya.
Denahnya bujur sangkar dengan luas 12 x 12 m. Tinggi dinding bangunan adalah 7,20 m. Tebal dinding tembok di bagian bawah adalah 2,20 m.
Sedangkan dinding tembok di atasnya tinggi 2,40 m atau sampai dengan bekas pasangan balok lantai dua tebalnya 2,10 m. Sementara dinding tembok di lantai tiga yang tingginya (dari batas lantai) 1,25 m dan memiliki tebal 1,05 m.
Jika melihat benteng tersebut, traveler akan tahu kalau bangunan ini masih dijaga keasliannya. Hanya saja atap dan beberapa fondasi di dalamnya sudah dilakukan renovasi.
Benteng tersebut memiliki tiga lantai. Lantai dua dan tiga serta bagian rangka atap terlihat menggunakan kayu-kayu yang baru direnovasi.
Ada sebuah ruang tahanan yang digunakan Belanda untuk menahan rakyat Indonesia saat itu. Ruangannya gelap dan kecil sekitar 2 x 2 meter. Tanpa ada jendela dan penerangan. Sadis banget!
Beberapa jendela dan juga lubang digunakan untuk senjata meriam di setiap sisi benteng. Dari salah satu jendela, terdapat balkon dan dapat melihat laut lepas dengan pemandangan indah sekitarnya.
Di balik dinding benteng ini, ada sejarah tragis yang mewarnai perjuangan Indonesia. Traveler harus bangga jadi bangsa Indonesia!
(bnl/fay)
Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru