Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Senin, 22 Mei 2017 18:10 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Sudah Tahu? Jakarta Punya Mausoleum Megah di Petamburan

Mausoleum OG Khouw di TPU Petamburan, Jakarta (Randy/detikTravel)
Jakarta - Tersembunyi di dalam TPU Petamburan, sebuah mausoleum megah yang jarang mendapat perhatian. Konon, mausoleum itu adalah yang termegah di Asia Tenggara.

Mungkin tak banyak yang tahu, kalau Jakarta memiliki sebuah mausoleum megah yang berdiri di TPU Petamburan. Penasaran, detikTravel pun menelusuri keberadaanya bersama Jakarta Food Traveler dan Love Our Heritage pada Minggu kemarin (21/5/2017).

Berlokasi tidak jauh dari Gereja Salvator, TPU Petamburan menyimpan banyak nisan bersejarah dari berbagai suku bangsa. Salah satu yang paling megah adalah Mausoleum Oen Giok (OG) Khouw, seorang pengusaha kaya Indonesia keturunan Tionghoa yang menjadi warga naturalisasi Belanda di abad ke-18.

Namun sebelum mengenal Oen Giok Khouw, mungkin traveler ada yang belum tahu bedanya mausoleum dan kuburan. Sedikit berbeda secara fungsi, mauseoleum merupakan bangunan yang dibuat untuk melindungi makam asli yang biasanya ada di bawah tanah.

"Mausoleum artinya bangunan megah pelindung makam, tapi ini megah banget," ujar ketua dari komunitas Love Our Heritage, Adjie Hadipriawan.

Makam OG Khouw dan istrinya (Randy/detikTravel)Makam OG Khouw dan istrinya (Randy/detikTravel)

Dilihat dengan mata telanjang, Mauseoleum OG Khouw memang mewah bukan main. Mausoleum yang diketahui memiliki tinggi 9 meter ini dilapisi oleh tiang dan dinding marmer ekspor dari Italia yang menjadi pelindung dari abu jenazah di bawahnya. Belum lagi kehadiran empat patung penjaga di empat penjurunya.

"Konon mausoleum ini adalah yang termegah di Asia Tenggara, ongkos pembuatannya mencapai 3 miliar kala itu, bahkan lebih megah dari makam Rockefeller (pebisnis minyak AS - red) yang adalah orang terkaya masa itu," cerita Adjie.

Diketahui OG Khouw merupakan sepupu dari walikota kaum Tionghoa pada zaman Hindia Belanda, Khouw Kim An. Hanya saja kisahnya memang jarang dikenal, karena ia lebih banyak berada di Eropa kala itu.

"OG Khouw ini orang kaya di zamannya, punya perkebunan tebu di Tambun, waktu itu dia menyumbang empat ribu gulden ke palang merah Belanda, itu banyak banget, akhirnya dia dinaturalisasi Ratu Wilhelmina jadi warga Belanda," ujar Adjie.

Oleh sebab itu, penamaan OG Khouw pun sedikit berbeda dengan warga Tionghoa pada umumnya yang dimakamkan dengan nama marga lebih dulu. Mengikuti penamaan Eropa, marga Khouw malah ditaruh di bagian belakang.

Diceritakan oleh Adjie, kalau pembangunan mausoleum itu dilakukan oleh istri OG Khouw, Lim Sha Nio selama empat tahun (1927-1931). OG Khouw sendiri wafat di Ragaz, Swiss pada 1 Juli 1927.

"Dahulu dikapalkan dari Italia sudah dalam ukuran ini baru dipasang, gak ada makamnya tapi perlambang, makam aslinya di bawah, ruangan khusus yang pada masa lalu dimakamkan benda-benda kecintaan seperti piano," cerita Adjie.

Menuju bagian dalam mausoleum (Randy/detikTravel)Menuju bagian dalam mausoleum (Randy/detikTravel)

Setelah melihat detil Mausoleum OG Khouw di bagian atas, penjelajahan pun lanjut masuk ke dalam makam OG Khouw dan istrinya. Dipandu pengurus TPU Petamburan, Ade, detikTravel menuruni tangga mausoleum menuju bagian bawah makam.

Sejarahnya, dahulu mausoleum OG Khouw memiliki sebuah pintu kayu jati bergagang kuningan yang menjadi pelindung akses masuk ke dalam makam. Namun karena faktor waktu dan vandalisme, akhirnya pintu itu dicopot dan diganti jeruji besi.

Masuk ke dalam mausoleum, tampak sebuah ruangan kecil yang melingkar. Dengan penerangan seadanya, terlihat sebuah ruangan berdinding marmer. Di salah satu sisinya, terpampang marmer berwajah OG Khouw dan istrinya Lim Sha Nio.

"Ini dinding marmer adalah pelindungnya, dulu ada akses masuk tapi akhirnya ditutup seluruhnya oleh keluarga, ini malah ada rusak sedikit karena dirusak oleh orang," ujar Adjie.

Suasana di dalam mausoleum (Randy/detikTravel)Suasana di dalam mausoleum (Randy/detikTravel) Foto: Johanes Randy


Miris memang, melihat mausoleum semegah ini tidak luput dari tangan-tangan jahil. Sangat disayangkan juga, karena OG Khouw dan istrinya juga tidak memiliki keturunan. Sehingga tak ada lagi anggota keluarga yang mengurus keberlangsungan dari mausoleum tersebut.

Untung saja ada beberapa komunitas yang peduli dan datang untuk membersihkan mausoleum, contohnya seperti komunitas Love Our heritage yang rutin datang sebulan sekali untuk membersihkan mausoleum.

"Sebulan sekali rutin bikin bakti royong, dana sendiri semuanya," ujar Adjie.

Berawal dari kepedulian, semoga ada lebih banyak orang yang peduli akan Mausoleum OG Khouw. Soalnya, ini adalah salah satu peninggalan sejarah Jakarta yang tentunya adalah sangat bernilai.

(rdy/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA