Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 18 Agu 2017 09:36 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Penyebab Turunnya Tren Batu Bacan di Mata Pedagang

Wahyu Setyo Widodo
Redaksi Travel
Pedagang kaki lima batu Bacan di Pulau Bacan (Wahyu/detikTravel)
Pedagang kaki lima batu Bacan di Pulau Bacan (Wahyu/detikTravel)
Labuha - Tren batu mulia tengah meredup beberapa tahun terakhir. Banyaknya batu berkualitas rendah yang dijual, serta sedikitnya penambang ditengarai jadi penyebab.

Batu Bacan termasuk dalam jenis batu mulia (gemstone) yang berkualitas wahid. Saat tren batu akik booming, banyak orang yang datang berburu sampai ke Pulau Bacan, tempat batu cantik ini berasal.

detikTravel berkunjung ke Pulau Bacan di Halmahera Selatan pekan ini, untuk melihat potensi wisata yang ada di sana, termasuk melihat batu Bacan yang khas pulau itu. Kabupaten Halmahera Selatan sendiri menjadi lokasi diselenggarakannya Widi International Fishing Tournament (WIFT) 2017, ajang lomba mancing bertaraf internasional.

Saat batu Bacan sedang booming-boomingnya, penjual batu Bacan memenuhi jalanan di sekitar Pasar Labuha. Kini pemandangan itu sudah tidak tampak lagi. Dari pantauan detikTravel di lokasi, pedagang batu Bacan kaki lima di sana hanya tinggal 5 orang saja.

"Dulu bisa sepanjang jalan ini, sampai penuh. Sekarang tinggal segini saja," kata Iksan, pemandu yang menemani rombongan detikTravel berkeliling Pulau Bacan, Selasa (15/8/2017).

Salah satu pedagang bernama, Tulus (50) mengakui kalau memang tren batu Bacan sedang turun drastis. Penurunan ini terjadi sejak 2-3 tahun terakhir. Tulus pun menyebut pendapatannya turun lebih dari 50%.

"Satu bulan dulu bisa dapat sampai Rp 5 Juta. Namanya jualan kecil-kecilan, kaki lima. Sekarang ya turun, sebulan bisa dapat Rp 1 Juta sampai 2 Juta," kata Tulus.

Tulus, penjual batu Bacan di Pulau Bacan (Wahyu Setyo/detikTravel)Tulus, penjual batu Bacan di Pulau Bacan (Wahyu Setyo/detikTravel
Batu Bacan di tingkat pedagang kaki lima seperti Tulus harganya sekitar Rp 100 ribuan, sampai yang paling mahal Rp 1 Jutaan. Dulu waktu masih tren, harganya bisa tembus sampai puluhan juta rupiah.

Menurut pengalaman Tulus, menurunnya tren batu Bacan ini disebabkan karena adanya banyak 'pemain' yang menjual batu berdasarkan spekulasi. Mereka asal saja menjual batu dan tidak memperhatikan kualitas dari batu tersebut.

"Banyak yang jual nggak memperhatikan kualitas. Batu masih hitam, banyak kapurnya, sudah dijual. Akibatnya apa, daya tarik jadi turun. Orang-orang tidak tertarik lagi," jelas Tulus.

Penjual batu Bacan kaki lima yang masih tersisa di Pulau Bacan (Wahyu Setyo/detikTravel)Penjual batu Bacan kaki lima yang masih tersisa di Pulau Bacan (Wahyu Setyo/detikTravel)
Namun belakangan ini, tren batu mulia mulai naik lagi, meski secara perlahan. Masalah baru pun muncul, karena tren batu sudah terlanjur turun, otomatis jumlah para penambang sudah jauh berkurang.

"Giliran trennya naik, penambang sudah tidak ada. Waktu Bacan turun, tidak ada yang mau cari batu lagi. Sekarang juga," imbuh Tulus.

Tren batu Bacan sedikit demi sedikit mulai membaik. Para kolektor sampai maniak batu masih setia berburu batu Bacan, meski mereka sekarang lebih selektif dalam memilih.

"Mereka sekarang lebih selektif. Pembeli batu tetap ada, tapi hanya batu-batu berkualitas yang dibeli. Para pemain sekarang lebih milih main 'bongkahan' besar. Diekspor ke Taiwan, dan negara lainnya," tutup Iksan.

Masih ada yang berminat dengan Batu Bacan (Wahyu Setyo/detikTravel)Masih ada yang berminat dengan Batu Bacan (Wahyu Setyo/detikTravel


(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED