Diintip detikTravel dari Reuters, Jumat (29/9/2017) Ritual Ma Nene adalah tradisi orang Toraja sejak jaman dahulu. Para keluarga akan mengunjungi makam anggota keluarga yang sudah almarhum, membersihkan jenazah mereka dan mengisi peti mati dengan barang-barang pribadi.
"Meskipun dia tidak berada di sini secara fisik, kami masih memiliki hubungan," kata Tumanan kepada Reuters saat beberapa keluarga berkumpul di Loko'mata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Budaya Toraja tak bisa lepas dari kematian. Mereka mengajarkan kepada keturuan mereka, bahwa orang yang sudah meninggal pun pantas untuk diperlakukan dengan sangat baik.
Itu kenapa, pemakaman jadi ritual yang sangat mahal bagi orang Toraja. Tak semua bisa langsung dikuburkan, kebanyakan dari mereka tinggal bersama jenazah selama beberapa lama sebelum dikuburkan.
Jenazah akan tidur di dalam peti yang berwarna-warni. Kerabat berbicara dengan jenazah, menawari mereka makanan dan minuman, dan melibatkan mereka dalam pertemuan keluarga, seolah-olah mereka masih hidup.
![]() |
Peti mati dilukis dengan warna merah cerah dan ochres, diisi dengan pakaian dan barang-barang pribadi. Jenazah akan dimakamkan di daerah pegunungan, di sebuah bukit batu monolitik dan di buat berjajar.
Batu-batu itu bisa setinggi gedung bertingkat tiga dan setiap makam bisa memakan waktu antara tiga sampai enam bulan untuk diukir.
Menjaga tradisi hidup untuk generasi masa depan merupakan tanggung jawab penting, kata Renolt Patrian, seorang pelajar berusia 21 tahun yang belajar menjadi insinyur pertambangan.
"Ketika saya memiliki pekerjaan dan mendapatkan uang, saya tidak akan melepaskan tradisi," katanya setelah mengunjungi nenek buyutnya yang meninggal bulan lalu di rumah keluarga tersebut.
![]() |
Komentar Terbanyak
Ada Gerbong Khusus Merokok di Kereta, Kamu Setuju?
Terpopuler: Dedi Mulyadi Terancam Dicopot, Ini Penjelasan DPRD Jabar
Cerita Tiara Andini Menolak Tukar Kursi sama 'Menteri' di Pesawat Garuda