Ritual Orang Toraja: Ganti Baju Orang Mati

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Ritual Orang Toraja: Ganti Baju Orang Mati

Bona - detikTravel
Jumat, 29 Sep 2017 16:10 WIB
Foto: (Darren Whiteside/Reuters)
Rantepao - Berkumpul bersama anggota keluarga yang sudah meninggal, menggantikannya baju dan makan, inilah ritual Ma Nene di Toraja. Sudah tahu?

Diintip detikTravel dari Reuters, Jumat (29/9/2017) Ritual Ma Nene adalah tradisi orang Toraja sejak jaman dahulu. Para keluarga akan mengunjungi makam anggota keluarga yang sudah almarhum, membersihkan jenazah mereka dan mengisi peti mati dengan barang-barang pribadi.

"Meskipun dia tidak berada di sini secara fisik, kami masih memiliki hubungan," kata Tumanan kepada Reuters saat beberapa keluarga berkumpul di Loko'mata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ritual Ma Nene adalah reuni bagi para keluarga. Mereka akan berkumpul, mengunjungi makam dan berbagai cerita setiap beberapa tahun sekali.

Kuburan Toraja yang siap di bukaKuburan Toraja yang siap di buka Foto: (Darren Whiteside/Reuters)
Masyarakat Toraja mayoritas beragama kristen. Namun mereka tetap berpegang pada nilai-nilai adat dan leluhur mereka.

Budaya Toraja tak bisa lepas dari kematian. Mereka mengajarkan kepada keturuan mereka, bahwa orang yang sudah meninggal pun pantas untuk diperlakukan dengan sangat baik.

Itu kenapa, pemakaman jadi ritual yang sangat mahal bagi orang Toraja. Tak semua bisa langsung dikuburkan, kebanyakan dari mereka tinggal bersama jenazah selama beberapa lama sebelum dikuburkan.

Jenazah akan tidur di dalam peti yang berwarna-warni. Kerabat berbicara dengan jenazah, menawari mereka makanan dan minuman, dan melibatkan mereka dalam pertemuan keluarga, seolah-olah mereka masih hidup.

Kuburan yang dibuka untuk ritual Ma NeneKuburan yang dibuka untuk ritual Ma Nene Foto: (Darren Whiteside/Reuters)
Begitu anggota keluarga yang cukup dapat hadir dan uang tersedia untuk membayar kurban berupa kerbau dan babi, sebuah upacara pemakaman, yang dikenal dengan 'Rambu Solo', diadakan. Seluruh desa biasanya diundang ke pesta tersebut dan merayakan ikatan komunal.

Peti mati dilukis dengan warna merah cerah dan ochres, diisi dengan pakaian dan barang-barang pribadi. Jenazah akan dimakamkan di daerah pegunungan, di sebuah bukit batu monolitik dan di buat berjajar.

Batu-batu itu bisa setinggi gedung bertingkat tiga dan setiap makam bisa memakan waktu antara tiga sampai enam bulan untuk diukir.

Menjaga tradisi hidup untuk generasi masa depan merupakan tanggung jawab penting, kata Renolt Patrian, seorang pelajar berusia 21 tahun yang belajar menjadi insinyur pertambangan.

"Ketika saya memiliki pekerjaan dan mendapatkan uang, saya tidak akan melepaskan tradisi," katanya setelah mengunjungi nenek buyutnya yang meninggal bulan lalu di rumah keluarga tersebut.

Keluarga mengganti baju jenazahKeluarga mengganti baju jenazah Foto: (Darren Whiteside/Reuters)
(bnl/aff)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads