Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 02 Okt 2017 07:52 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Ini Baru Laki! Tradisi Balap Sapi di Sumatera Barat

Johanes Randy Prakoso
Redaksi Travel
Atraksi Pacu Jawi di Tanah Datar, Sumatera Barat (Randy/detikTravel)
Atraksi Pacu Jawi di Tanah Datar, Sumatera Barat (Randy/detikTravel)
Tanah Datar - Jika Madura punya Karapan Sapi, maka Kabupaten Tanah Datar di Sumatera Barat punya Pacu Jawi. Inilah tradisi balap sapi yang laki banget!

Bagi masyarakat minang di Kabupaten Tanah Datar, waktu usai panen menjadi momen untuk bersyukur dan berterima kasih atas hasil bumi yang melimpah. Ungkapan terima kasih itu pun dituangkan lewat tradisi Pacu Jawi atau balap sapi.

Digilir di lima kecamatan di Kabupater Tanah Datar, tradisi Pacu Jawi ini pun selalu dinanti baik oleh masyarakat sekitar maupun turis asing. Bersama dengan para pemenang kompetisi #MudikSeruAP2 dan Disparbud Sumatera Barat, detikTravel pun berkesempatan melihat keseruannya langsung pada hari Sabtu pekan lalu (30/9/2017).

Masyarakat yang siap menonton (Randy/detikTravel)Masyarakat yang siap menonton (Randy/detikTravel)

Setibanya di lokasi acara di Kecamatan Pariaman, keramaian pun sudah terjadi persis dari pinggir jalan. Layaknya acara pasar malam di daerah Jawa Tengah, para masyarakat hingga turis tampak menyemut di sekitar sawah yang jadi venue acara.

Namun bukan di sawah kering atau yang sudah ditanami padi, Pacu Jawi dilakukan di sawah kosong yang basah dan belum ditanami. Dijelaskan oleh pemandu kami yang bernama Marjones Ronaldo atau yang akrab disapa Anes, event kali ini dilakukan di Kecamatan Padang Pariaman setelah sebelumnya dirembukkan oleh para pemamngku adat.

"Mereka musyawarah dulu pemangku adat sama masyarakat, digilir di tiap kecamatan di Tanah Datar. Dilakukan sebagai ucapan syukur habis panes. Diselenggarakan tiap Sabtu selain bulan puasa," ujar Anes.

Di lokasi, sejumlah peserta hingga masyarakat adat sudah rapi mengambil posisi di tepi sawah. Di salah satu sisinya tampak sejumlah masyarakat yang membawa sapi yang sudah dibersihkan hingga kayu yang dipakai untuk pijakan kaki para joki.
Sapi yang dipersiapkan lebih dulu (Randy/detikTravel)Sapi yang dipersiapkan lebih dulu (Randy/detikTravel)

Sebelum memulai, dua ekor sapi pun lebih dulu 'dipasangi' tali dengan sebuah pijakan kayu layaknya sadel. Ketika semua sudah mantap terpasang, sang joki akan meminta rekannya untuk melepaskan sapi ke sawah yang jadi arena balap.

Kaki kiri dan kanan sang joki pun sudah mantap menginjak sadel yang diikatkan pada sapi. Sedangkan kedua tangan sang joki masing-masing memegang ekor sapi.

Dalam hitungan detik, sontak kedua sapi yang dilepaskan langsung berlari layaknya banteng melihat warna merah. Keahlian sang joki untuk menuntun kedua sapi tanpa terlepas pun langsung diuji. Cipratan lumpur pun langsung 'mengguyur' sang joki.
Tidak takut kotor! (Randy/detikTravel)Tidak takut kotor! (Randy/detikTravel)


Ada yang baru sebentar sudah terlepas dari pegangan, tapi tak sedikit juga yang bertahan hingga cukup lama. Penampilan masing-masing joki pun dinilai langsung oleh pemangku adat dan masyarakat yang menonton.

"Penilaiannya mana yang jalannya paling lurus. Sesuai adat, berjalanlah lurus, inshaallah selamat," ungkap Anes.

Namun walau sudah dikendalikan oleh sang joki, kadang ada saja sapi balap yang terlepas dan lari ke sana ke mari. Tak jarang juga ada sapi 'nyasar' yang membuat para penonton harus berlarian untuk menghindari cipratan lumpur. Tidak kalah seru dengan lari banteng di Spanyol!

Usai balapan, setiap joki dan sapi yang ditungganginya akan dibawa ke sebuah pancuran air untuk dibilas sampai bersih. Setelah dibersihkan, barulah sapi dan joki disiapkan lagi untuk balapan selanjutnya.
Uda Lano, salah satu joki (Randy/detikTravel)Uda Lano, salah satu joki (Randy/detikTravel)


Ingin tahu lebih, detikTravel pun sempat berbincang langsung dengan salah satu joki yang bernama uda (sebutan untuk pria padang - red) Lano yang asli dari Tanah Datar.

"Sudah 15 tahun. Main pacu jawi ada kesulitannya, tapi menjaga keseimbangan antar sapi itu mudah," ujar Lano mantap.

Uda Lano pun merupakan satu dari sekian joki yang ikut meramaikan Pacu Jawi. Semuanya pun tidak takut kotor untuk menghibur para penonton yang datang.

Untuk informasi, Pacu Jawi rutin diselenggarakan di Kecamatan Sungai Tarab, Kecamatan Lima Kaum, Kecamatan Rambatan serta Kecamatan Pariangan di Kabupaten Tanah Datar. Pastikan Anda mencari info lebih dulu sebelum menonton Pacu Jawi. (rdy/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED