Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 19 Okt 2017 07:50 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Tradisi 'Kawin Lari' Suku Sasak di Lombok

Syanti Mustika
detikTravel
Tradisi Nyongkolan khas Sasak (Masaul/detikTravel)
Tradisi Nyongkolan khas Sasak (Masaul/detikTravel)
Lombok - Kalau sedang liburan ke Lombok dan ada rombongan pernikahan, sempatkan menonton ya! Suku Sasak di Lombok punya tradisi pernikahan unik yaitu 'kawin lari'.

Membawa calon pengantin perempuan sebelum acara pernikahan, pasti kita menganggap itu kawin lari. Tapi bagi Suku Sasak di Lombok, urusannya tidak sesederhana itu. Apalagi masyarakat Lombok adalah muslim yang taat.

Beberapa saat lalu detikTravel sempat berkunjung dan membicarakan mengenai tradisi Merarik dengan pemerhati budaya Majelis Adat Sasak, Mamik Jagad (46). Tradisi unik ini dikenal banyak orang sebagai tradisi kawin lari.

Menurut dia, tradisi Merarik itu ada beberapa nama. Di Paer atau wilayah lain ada yang menyebutnya Melaik, sementara ada 4 Paer di Lombok. Ada pula yang mengatakan Memulang di wilayah Lombok Utara atau Bayan. Lalu, di Lombok Timur disebut Melaik dan sekitar wilayah Mataram menyebutnya Merarik.

Rombongan mempelai pria (Masaul/detikTravel)Rombongan mempelai pria (Masaul/detikTravel) Foto: Ahmad Masaul Khoiri


Merarik adalah runutan pertama proses pernikahan adat Sasak. Misalnya mempelai laki-laki dari kampung tetangga menjemput mempelai perempuan dari kampung lainnya. Kemudian kedua tokoh adat akan bertemu untuk memusyawarahkan setelah terjadinya proses Merarik tadi.

"Sebelumnya itu ada Memadik atau melamar atau Belako. Merarik adalah cara kedua ketika terjadi proses Bait atau Merarik (menjemput jodoh) inilah yang diistilahkan orang-orang, sebagai maling itu (kawin lari)," jelas Mamik.

Asal kata Merarik dari perilaku kesengajaan berpaling atau memalingkan muka, menutup mata. Contohnya, perempuan mau Merarik dengan pemuda kampung sebelah dan telah disebutkan namanya kepada ibunya.

Lalu disarankan oleh ibunya agar tidak melamar dikarenakan saudara jauh mau menikahi juga, ada pula tetangga. Agar tidak terjadi perpecahan antar keluarga atau tetangga, maka orang tua bilang 'palingin keentan'.

Prosesi Nyongkolan, Suku Sasak (Masaul/detikTravel)Prosesi Nyongkolan, Suku Sasak (Masaul/detikTravel)


"Si ibu berpura-pura menutup mata atau berpaling 'palingin keentan', lalu membiarkan pergi atau lari anak perempuannya dengan lelaki yang datang Merarik itu. Tapi itu disepakati dan merupakan rekayasa adat untuk menjaga hubungan agar tidak retak. Kenapa keluarga nggak dikasih kok orang lain dikasih?" kata dia.

Itulah asal usul Merarik yang sebenarnya bukan kawin lari. Kalau liburan ke Lombok dan kebetulan melihat tradisi pernikahan warga setempat, jangan lupa menonton ya. Seru! (sym/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED