Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 05 Mar 2019 21:50 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kisah Mata Air Keramat di Semarang

Aji Kusuma
detikTravel
Foto: Sendang Keramat Kalimah Toyyibah di Ungaran (Aji Kusuma/detikTravel)
Foto: Sendang Keramat Kalimah Toyyibah di Ungaran (Aji Kusuma/detikTravel)
Semarang - Di Semarang, tepatrnya di Unggaran Barat terdapat mata air keramat. Dipercaya bila mandi di sini, segala penyakit sembuh dan doa akan terkabul.

Sendang Keramat Kalimah Toyyibah Hasan Munadi adalah lokasi wisata religi yang berada Jawa Tengah. Berada di Desa Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Sendang Kalimah Toyyibah, menjadi rujukan bagi masyarakat yang ingin berwisata sekaligus berziarah.

Mbah Ahmaji, perawat sendang yang sudah bekerja sejak puluhan tahun silam, menyampaikan bahwa pengunjung datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan juga sudah dikunjungi negara tetangga. Ada pula yang rutin datang kemari.

"Jumlah wisatawan bisa ratusan dalam sehari. Kalau dari luar negeri yang rutin dari Malaysia dan Singapura. Kalau soal waktu kunjungan juga bergelombang, tidak bersamaan. Kadang pagi atau malah dini hari," ungkap Ahmaji kepada detikTravel, Selasa (5/3/2019).

(Aji Kusuma/detikTravel)(Aji Kusuma/detikTravel)
Ia menambahkan pengelola menyediakan baliho berukuran berisi doa sebelum memanfaatkan air sendang. Sedangkan lokasi mandi dibagi menjadi dua, laki-laki dan perempuan.

"Ada doa yang harus dibaca sebelum mandi atau meminum air sendang. Khusus mandi, tidak boleh BAK, BAB, dan telanjang bulat di lokasi sendang. Jadi harus memakai sarung, jika tidak membawa ya bisa sewa di masyarakat setempat, cuma seribu," ungkap Ahmaji.

"Semua itu dari Allah SWT, makanya harus berdoa. Jadi jika ke sini untuk mendapat kesembuhan, kelancaran rejeki, atau untuk ketenangan diri, ya harus percaya semua dari Allah SWT. Di sini hanya perantara,"imbuhnya.

BACA JUGA: Cerita Mistis Gunung Dukuh dan Mata Air Keramat

Sumber Air Sendang Kalimah Toyyibah adalah mata air di bawah pohon beringin yang berusia puluhan tahun. Sumber air ini tidak pernah kering meski musim saat kemarau panjang.

"Kalau kering dan berhenti mengalir tidak ya, hanya arus air turun tidak seperti musim hujan. Air di sini ngalir terus mau dimatiin darimana. Ini kan mata air," ungkap Ahmaji.

Makam Waliyullah Hasan Munadi (Aji Kusuma/detikTravel)Makam Waliyullah Hasan Munadi (Aji Kusuma/detikTravel)
Letak Sendang Kalimah Toyyibah berdekatan dengan makam Waliyullah Hasan Munadi. Menjadi satu paket wisata religi, biasanya para wisatawan yang mengunjungi sendang juga berziarah di makam Waliyullah Hasan Munadi.

"Kalau hendak berdoa, sebelum menuju makam, mandi dahulu di sendang. Sudah satu paket. Cikal bakal sendang ini juga dari makam Mbah Hasan," papar Ahmaji.

"Sendang ini sudah lama, tetapi diketahui ada manfaatnya setelah diadakan doa bersama Mbah Mat Temanggung saat peringatan Haul Mbah Hasan. Beliau (Mbah Mat) menyampaikan, jangan takut miskin untuk merawat makam Mbah Hasan, akan ada rejeki dari air yang mengalir, air yang bermanfaat untuk semua. Nah air yang dimaksud Mbah Mat itu ternyata sendang ini," jelas Ahmaji.

Mencoba kesegaran Sendang Keramat Kalimah Toyyibah, detikTravel memyempatkan untuk mandi. Begitu segar aliran air sendang saat bersentuhan dengan kulit kami. Lingkungan sendang cukup bersih, tersedia tempat sampah dan kamar ganti di dalam areal mandi.

Papan doa (Aji Kusuma/detikTravel)Papan doa (Aji Kusuma/detikTravel)
Sendang Kalimah Toyyibah dapat dikunjungi selama 24 jam. Bahkan jika ingin menginap, pengelola juga menyediakan tempat menginap di dekat pintu masuk sendang.

"Biaya masuk gratis, kami hanya menyediakan kotak amal. Uang itu digunakan untuk merawat makam, sendang dan masjid. Jika ingin menginap juga gratis untuk perseorangan, tetapi untuk rombongan ada biaya sebesar Rp 150 ribu untuk 50 orang. Syaratnya hanya fotokopi KTP," ungkap Ahmaji.

"Air juga bisa dibawa pulang, jika tidak membawa jerigen, di halaman sendang banyak masyarakat yang menjual jerigen. Harganya Rp 5.000 sampai Rp 10 ribu, bergantung ukuran jerigen," tutup Ahmaji.

(Aji Kusuma/detikTravel)(Aji Kusuma/detikTravel)
(sym/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED