Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 28 Mar 2019 16:30 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Telaga Biru Misterius di Maluku Utara

Danu Damarjati
detikTravel
Telaga biru di Mandioli, Maluku utara (Danu Damarjati/detikcom)
Telaga biru di Mandioli, Maluku utara (Danu Damarjati/detikcom)
Halmahera Selatan - Di Maluku Utara, tepatnya di Pulau Mandioli terdapat telaga biru nan misterius. Konon ada buaya putih yang menghuni telaga. Penasaran?

Kapal BRI Bahtera Seva III sandar di Desa Lele, Pulau Mandioli, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara , Selasa (5/3/2019) siang. Penduduk setempat bicara soal telaga misterius yang bisa kami kunjungi.

"Telaga biru, tapi jauh kalau jalan kaki," kata Yani (25), nelayan setempat yang sedang tidak melaut karena cedera tangan.

Dia bahkan mewanti-wanti tim detikcom supaya hati-hati sesampainya di lokasi, dia menyarankan agar memberi salam kepada alam di telaga. Menurut cerita orang tuanya, ada buaya putih yang menghuni telaga misterius itu.

 (Danu Damarjati/detikcom) (Danu Damarjati/detikcom)


Pulau Mandioli punya luas 260 km persegi. Desa Lele adalah salah satu dari 12 desa di pulau ini. Letak telaga biru bukan di Desa Lele di belahan selatan pulau ini, tapi di Desa Waya di belahan utara.

Meski ada cerita misteri buaya putih yang disampaikan penduduk, namun kami tetap berangkat. Jarang ada orang luar desa yang mencapai lokasi di seberang barat daya Labuha Ibu Kota Halmahera Selatan ini, apalagi bagi orang Jakarta yang berjarak 2.351 km dari tempat ini.


Kami berangkat ditemani para pemuda setempat yang berbaik hati menyediakan tumpangan sepeda motor. Mereka adalah Ari (22), Alfikram (14), dan Lamudin (14). Selepas permukiman, medan makin berat.

Pertama, sepeda motor harus melewati tanjakan berbatu. Jalan setapak yang panjang menyambut di depan. Kami melewati perkebunan warga yang dijadikan tempat mengungsi saat gempa bermagnitudo 5,2 tanggal 18 Februari lalu. Tampak ilalang yang dibakar untuk dipersiapkan sebagai kebun.

Jalanan tanah makin tidak rata dan berkelok saat melewati kawasan pepohonan. Namun Ari dan kawan-kawan tetap memaksimalkan laju motornya. Setengah jam perjalanan, sekitar 10 km dari Desa Lele, akhirnya kami turun dari sepeda motor.

 (Danu Damarjati/detikcom) (Danu Damarjati/detikcom)


Di balik pepohonan terlihat telaga yang biru. Ini benar-benar biru, lebih biru dari air laut. Seolah, ada yang melarutkan tinta ke dalam air di sini, namun jelas bukan itu sebabnya.

Kaki melangkah menuruni lereng dipenuhi seresah daun. Teduh dan redup akibat pepohonan menciptakan kesunyian khas hutan. Suara serangga dan burung bergema dari balik ketinggian ranting-ranting.

"Kalau baru datang, tolong cuci muka dulu di air telaga ya," kata Alfikram, menyampaikan tata cara yang biasa dilakukan warga saat berkunjung di telaga ini.

Dia berjongkok menangkup air Telaga Biru, tanpa menghiraukan ikan gabus yang berenang semeter di seberangnya. Bila dilihat dari dekat, air telaga ini bening sekali dan menyegarkan, rasanya tawar saat diminum. Namun bila dilihat dari kejauhan, air yang bening ini biru. Entah dari mana warna biru ini berasal.

Belum ada yang meneliti berapa kedalaman telag https://www.detik.com/tag/telagaa. Konon, pohon tinggi yang pernah jatuh ke telaga menjadi tak terlihat lagi. "Saya berani berenang di laut, tapi kalau berenang di sini tidak berani. Soalnya kita tidak tahu ada apa di dalam situ," kata Lamudin yang merupakan anak nelayan ini.

https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2019/03/28/b46d4d16-49af-4c21-abfa-48d333eac72d.jpeg?a=1
(Danu Damarjati/detikcom)

Di bagian lain Indonesia, telaga-telaga berwarna biru atau hijau juga ada. Warna dari telaga disebabkan banyak faktor, mulai dari pengaruh batu kapur di dinding telaga hingga jenis ganggang yang hidup di dalamnya.

Di Jerman, ada pula telaga biru semacam yang dipunyai Pulau Mandioli ini, yakni Blautopf, dalamnya 21 meter dengan terowongan bawah tanah menuju Sungai Danube. Blautopf di negara Eropa Barat yang maju itu juga menyimpan mitos tentang dewi air sebagai penunggunya. Kini penelitian yang coba menguak potensi Blautopf sudah dilakukan.

Di Telaga Biru Mandioli, mitos soal buaya putih sebagai penunggu juga hidup. "Buaya itu biasanya keluar tiap Jumat siang, waktu salat Jumat," kata Ari. Entah kearifan apa yang terkandung dalam mitos itu. Namun birunya telaga ini memang membuat imajinasi terbang ke mana-mana, mendorong orang berpikir soal potensi apa yang ada di balik telaga indah ini.

Baca berita lainnya mengenai Teras BRI Kapal Bahtera Seva di *Ekspedisi Bahtera Seva. https://www.detik.com/bahteraseva


(sym/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED