Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 17 Jun 2019 18:15 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

4 Tempat Wisata Sejarah di Subang yang Seru Buat Liburan

Wahyu Setyo Widodo
detikTravel
Destinasi wisata sejarah seru di Subang (dok. Komunitas Indonesia Hidden Heritage)
Destinasi wisata sejarah seru di Subang (dok. Komunitas Indonesia Hidden Heritage)
Subang - Subang ternyata punya destinasi wisata sejarah yang seru untuk dikunjungi traveler. Libur akhir pekan di Subang jadi makin asyik.

Subang rupanya punya destinasi wisata sejarah yang tak kalah menarik dengan daerah lainnya di Jawa Barat. Menurut Nova Farida Lestari, Founder Komunitas Indonesia Hidden Heritage, setidaknya ada 4 tempat yang mesti traveler kunjungi di Subang.

Dihimpun detikcom, Senin (17/6/2019), berikut 4 destinasi tersebut:

1. Situs Nay Subang Larang

(dok Komunitas Indonesia Hidden Heritage)(dok Komunitas Indonesia Hidden Heritage)

Situs Nay Subang Larang bisa menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik bagi keluarga. Situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Pajajaran yang sarat sejarah.

Di Situs Nay Subang Larang, traveler bisa mengajak anak mengenal sejarah dan budaya dengan melihat langsung peninggalan arkeologi Sunda zaman Kerajaan Pajajaran.

Situs Nay Subang Larang dahulu merupakan tempat tinggal Nay Subang Larang, istri raja Pajajaran Prabu Siliwangi. Untuk mencapai gerbang situs, pengunjung harus melalui hutan jati kemudian berjalan kaki melewati pohon-pohon bambu serta area persawahan.

Situs yang terletak di Teluk Agung, Desa Nagerang, Subang itu ditemukan pada 1979 serta diresmikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat pada 30 Juni 2011.

Bagi traveler yang akan pelesir ke sana disarankan mengenakan sepatu yang nyaman dan antislip agar tidak tergelincir saat terpaksa harus melalui jalanan yang basah.

2. Wisma Karya

Wisma Karya juga menarik dikunjungi karena merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan Kolonial Belanda. Bangunan ini berdiri di atas tanah seluas 1 hektar.

Wisma Karya menjadi menjadi simbol kejayaan perusahaan perkebunan bernama Pamanoekan-Tjiasem Landen (P&T Land) yang memonopoli lahan-lahan di Subang. P&T Land dimiliki warga negara Belanda sekaligus saudagar kopi bernama Peter Wellem Hofland.

Hofland menandatangani kontrak kerja sama dalam bidang perdagangan kopi dengan pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1840. Di tahun 1858, ia berhasil mengambil alih seluruh tanah partikelir P&T Land menjadi milik pribadinya.

Selain sukses berbisnis kopi, PW Hofland juga pernah ditunjuk menjadi demang oleh pemerintah Hindia-Belanda. Untuk membuat dirinya eksklusif di tanah jajahannya, Hofland bersama delapan demang mendirikan gedung bernama Societe sebagai tempat berkumpul kelompok masyarakat eksklusif (societe).

Gedung yang beralamat di Jalan Ade Irma Suryani Nasution Nomor 2, Karanganyar, Subang itu kini dinamai Wisma Karya.

3. Museum Amerta Dirgantara Mandala Lanud Suryadarma

(dok. Komunitas Indonesia Hidden Heritage)(dok. Komunitas Indonesia Hidden Heritage)

Jejak peninggalan Kolonial Belanda di Subang dapat juga dilihat traveler di Museum Amerta Dirgantara Mandala Lanud Suryadarma. Di museum ini traveler bisa melihat bangunan sekolah penerbangan pertama di Indonesia.

Traveler juga bisa melihat pesawat-pesawat layang yang usianya sudah lebih dari 100 tahun. Pesawat-pesawat tua tersebut masih terpelihara dengan baik.

Sejarah Lanud Suryadarma dimulai pada 30 Mei 1914, ketika Belanda membangun satuan udara bernama Proef Vlieg Afdelin (PVA) atau Bagian Penerbangan Percobaan sebagai bagian dari pasukan Belanda di Hindia-Belanda, KNIL.

Sejak saat itu lapangan udara di Kalijati beroperasi dengan kondisi sederhana. Lapangan udara militer tertua di Indonesia tersebut masih berupa rumput dan bangsal-bangsal dari bambu.

Bangunan dan fasilitas, termasuk gedung markas pangkalan selesai dibangun pada 1917. Sementara, Museum Amerta Dirgantara Mandala sendiri diresmikan pada 1962.

4. Museum Rumah Sejarah Kalijati

Masih di kawasan Lanud Suryadarma terdapat pula Museum Rumah Sejarah Kalijati. Museum ini merupakan saksi bisu penyerahan kekuasaan Belanda kepada Jepang di tanggal 8 Maret 1942.

Rumah Sejarah Kalijati merupakan tempat penentu berakhirnya kekuasaan Belanda dan dimulainya Pendudukan Jepang. Setelah serangan tiba-tiba dari tentara Jepang, Belanda yang tidak siap menghadapinya terpukul mundur hingga akhirnya mengalami kekalahan.

Setelah itu, Panglima Ter Poorten mengajukan perundingan. Dalam perundingan tersebut Jenderal Imamura meminta agar Panglima Ter Poorten menyerah tanpa syarat dan menyerahkan seluruh Tentara Hindia-Belanda ke Jepang.

Jepang mengancam akan menghujani Bandung dengan bom dari udara jika Poorten tidak bersedia memenuhi permintaan tersebut. Poorten akhirnya menyetujuinya dan menandatangani perjanjian penyerahaan kekuasaan Hindia-Belanda tanpa syarat. (bnl/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED