Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 27 Sep 2019 09:53 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Miangas, Jangan Menangis Lagi

Bonauli
detikTravel
Foto: Muhammad Ridho
Miangas - Mari berkenalan dengan Miangas, sebuah pulau terdepan di ujung utara Indonesia.

Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai ke Rote. Begitulah penggalan sebuah lagu produk makanan yang turut memperkenalkan nama Miangas. detikcom melakukan ekspedisi Tapal Batas bersama Bank BRI ke Miangas. Perjalanan ini dilakukan dari tanggal 8-15 September 2019.

Tim detikcom tiba di Miangas pada hari Minggu (8/9). Sesaat sebelum landing di Miangas, terlihat jelas betapa kecilnya pulau ini. Hijau dengan lambaian nyiur kelapa, Miangas semakin membuat saya penasaran.

Begitu menginjakkan kaki di Miangas, saya bergegas mencari tahu pejabat daerah setempat. Rasa penasaran mengalahkan rasa lelah akibat penerbangan subuh yang saya lalui.

Miangas, Jangan Menangis LagiFoto: Muhammad Ridho


Miangas rupanya adalah sebuah kecamatan khusus di Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara. Miangas dikelapai oleh camat khusus, Sepno Lantaa.

"Jumlah penduduk yang ada di Miangas 1.012 jiwa. Ini sudah termasuk yang menetap dan satuan petugas. Penduduknya 96 persen beragama kristen," ujar Sepno.

Ya, sebagai pulau terdepan yang berbatasan dengan Filipina, Miangas juga dijaga oleh petugas TNI. Petugas yang berjaga di pulau ini adalah Koramil, TNI-AL, dan TNI-AD.




Mengemban pangkat camat khusus, Sepno bertugas dengan beban setengah bupati. Karena berada jauh dari Kabupaten Talaud, camat khusus Miangas diberi kewenangan untuk mengurus surat-surat dan dokumen penting seperti tanah dan pernikahan.

Penduduk Miangas mencari nafkah dengan melaut, berdagang dan berkebun. Hasil laut yang dimiliki Miangas sebenarnya sangat kaya. Bayangkan saja, pulau kecil ini di kelilingi oleh lautan lepas.

Lobster, kepiting sampai kakap merah bisa didapatkan jika laut sedang bersahabat. Sayangnya, Miangas berteman akrab dengan cuaca ekstrem. Gelombang tinggi dan angin kencang, membuat hasil laut sepi.

Miangas, Jangan Menangis LagiFoto: Muhammad Ridho


Apalagi, perahu yang digunakan masih tradisional berupa motor tempel atau pamboat. Pamboat bisa diisi 2-3 orang dalam cuaca bagus. Kalau angin kencang, tak ada pamboat yang berani melaut.

Saat cuaca ekstrem, masyarakat akan kembali ke darat untuk berkebun. Hasil utama dari kebun ini adalah kelapa. Buah kelapa yang dipanen akan dijadikan kopra. Kopra kemudian kembali diolah untuk menghasilkan minyak kelapa.

Yang membuat pulau ini tak biasa adalah organisasi adat yang masih diteruskan dari jaman leluhur. Ketua adat memiliki peran penting dalam memimpin hukum masyarakat.

Jabatan ketua adat akan dipegang oleh dua orang dengan gelar Mangkubumi 1 dan Mangkubumi 2. Di bawahnya ada 12 suku adat yang masing-masing diwakilkan oleh 2 kepala suku.

Kebetulan, ketua ada yang ada di sana adalah Mangkubumi 2. Mangkubumi 1 sedang dalam perjalanan menuju Kota Melonguane, ibukota Talaud. Dari Mangkubumi 2 ini saya tahu arti nama Miangas.

"Miangas artinya menangis. Nama itu diberikan oleh leluhur kami," ujar Ismael Essing sebagai Mangkubumi 2.

Saya terdiam cukup lama. Kenapa diberi nama menangis?

Miangas, Jangan Menangis LagiFoto: Muhammad Ridho


"Miangas masuk ke dalam kepulauan Talaud. Namun, pulau-pulau lain bagaikan saudara yang berdekatan. Sedangkan Miangas sendirian di laut lepas. Ini kenapa pulau ini menangis karena sendirian," jelas Ismael.

Lidah saya kelu. Bukan cuma karena arti nama pulau ini. Tapi juga keadaan masyarakat Miangas. Dikelilingi dengan lautan lepas dan cuaca ekstrem, masyarakat Miangas tak jarang menangis karena kekurangan bahan makanan.

"Hanya ada 2 cara untuk mencapai Miangas, lewat udara dan laut. Kalau cuaca ekstrem, seringkali kapal telat datang dan tidak ada bahan makanan," ujar Sepno.

Meski demikian, adanya jalur udara di setiap minggunya, sedikit membantu pergerakan masyarakat Miangas. Sedikitnya sudah ada pendatang dari pemerintahan dan wisatawan yang menginjakkan kaki di pulau ini.

"Hadirnya presiden Jokowi di Miangas membuat peningkatan sebanyak 60 persen kunjungan pejabat. Tapi wisatawannya belum terdata," cerita Sepno.

Selain kunjungan dari para pejabat negara, Miangas juga terbantu dengan hadirnya Bank BRI sejak tahun 2016. Sebelum adanya BRI, masyrakat harus pergi ke Melonguane hanya untuk menarik uang.

Beberapa tempat wisata yang saya kunjungi adalah pantai, mercusuar sampai tempat keramat leluhur Miangas. Semuanya cantik dan begitu menantang!

Simak video "Mengenal Miangas, Pulau Indonesia yang Lebih Dekat ke Filipina"

[Gambas:Video 20detik]



detikcom bersama Bank BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan. Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com! (tapalbatas.detik.com)




Simak Video "Dari Kami Untuk Mereka di Tapal Batas"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/krs)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA