Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 06 Okt 2019 22:15 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kisah Keturunan Spanyol di Pulau Utara Indonesia

Bonauli
detikTravel
Warga keturunan Spanyol di Miangas (Muhammad Ridho)
Warga keturunan Spanyol di Miangas (Muhammad Ridho)
Miangas - Perkawinan campuran dengan orang Filipina sudah biasa terjadi di Miangas, pulau paling utara Indonesia. Selain Filipina, ada juga lho yang keturunan Spanyol.

detikcom bersama Bank BRI melakukan ekspedisi selama seminggu di pulau-pulau terdepan Indonesia, termasuk Miangas. Salah satunya mencari tahu lebih banyak soal warga kancingan.

Apa itu kancingan? Begini, Jarak Miangas yang dekat ke Filipina membuat warganya tak asing dengan pernikahan campuran. Selain Filipina, ada pula warga Miangas yang keturunan Spanyol. Warga Miangas yang berdarah campuran disebut kancingan.

Consulation Pade Medel adalah salah satu warga berdarah campuran atau kancingan. Mama Sion, begitu panggilannya, lahir dari ibu yang berdarah Miangas dan ayah dari Spanyol.

Mama SionMama Sion Foto: Muhammad Ridho

"Ayah saya asli orang Spanyol, tapi kerja di Filipina. Waktu itu berdagang ke Miangas dan bertemu dengan ibu saya," ujar Mama Sion.

Setahun setelah menikah, lahirlah Mama Sion. Tak seperti adik-adiknya yang lair di Filipina, Mama Sion lahir di Miangas. Meski begitu ia masih bisa berbahasa tagalog.

"Bisa sedikit-sedikit, karena sudah lama juga jadi agak-agak lupa," ujar Mama Sion.




Karena adanya Border Cross Area, kunjungannya ke Filipina mulai berkurang. Hubungan dengan keluarga di Filipina seringkali dikabarkan lewat media sosial seperti Facebook.

Tak cuma Mama Sion, ada juga Lolita Pade Manakbanak alias Mama Indai. Mama Indai adalah warga Indonesia keturunan Filipina. Mama Indai tak sendirian, ia dan kakaknya, Ana Maria Pade, tinggal dan berkeluarga di Miangas.




Beda dengan Mama Sion, Mama Indai beserta kakaknya lahir dan besar di Filipina. Sehingga mereka cukup mahir berbahasa tagalog.

Budaya Filipina yang masih melekat padanya adalah nama kecil. Di Filipina, tiap orang punya nama panggilan yang berbeda dengan nama asli.

"Iya Filipina punya nama kecil seperti itu, saya nama asli Lolita, tapi dipanggil Indai. Kakak saya Ana dipanggil bibi," ujar Mama Indai.


Mama Indai dan Mama AnaMama Indai dan Mama Ana Foto: Mardi Rahmat


"Kami suka memakai bahasa tagalog untuk mengobrol yang rahasia," ujar Mama Indai.

Mama Indai juga mengaku memakai bahasa tagalog ketika sedang berdebat dengan suaminya. Alasannya supaya tidak ada tetangga yang mengerti.




Kemahirannya dalam berbahasa tagalog juga membantu penduduk Miangas saat melakukan barter dengan orang Filipina. Sehingga memudahkan masyarakat dalam bertransaksi.

"Kalau ada pamboat datang, biasanya suka kami bantu untuk keperluan bahasa," jelas Mama Indai.

Mama Indai sendiri tidak memaksakan penggunaan bahasa tagalog kepada anak-anaknya. Mereka dibebaskan untuk belajar dan mengerti atas kemauan sendiri.

Kisah Keturunan Spanyol di Pulau Utara IndonesiaMama Indai (Mardi Rahmat)


Menurut penduduk, penggunaan bahasa Tagalog di Miangas sudah menurun. Kini sudah banyak nelayan Filipina yang juga mahir berbahasa Miangas.

detikcom bersama Bank BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!

Simak Video "Dari Kami Untuk Mereka di Tapal Batas"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/krs)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA