Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 19 Nov 2019 07:20 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Seperti Apa Ruang Tunggu Kereta Kaum Ningrat Zaman Dulu?

Syanti Mustika
detikTravel
Bar di ruang tunggu Stasiun Tanjung Priuk dahulunya  (Syanti Mustika/detikcom)
Bar di ruang tunggu Stasiun Tanjung Priuk dahulunya (Syanti Mustika/detikcom)
Jakarta - Di zaman old dahulu kala, kaum ningrat dan orang Belanda mendapat perlakuan istimewa termasuk saat menunggu kereta di stasiun. Ruang tunggu buat mereka pun mewah.

Perbedaan kelas sosial pada zaman Belanda di antaranya dapat tercermin dari Stasiun Tanjung Priok. Ruang tunggu pribumi, atau Belanda menyebutnya sebagai inlander, dipisah dengan kaum ningrat dan Belanda, atau mereka menyebutnya Kelas 1 dan Kelas 2.

"Dahulunya pribumi dengan kaum ningrat dibedakan ruang tunggunya. Yang bagian kiri yang di pintu bar itu untuk kaum ningrat dan Belanda. Sedangkan bagian sebelah kanan untuk pribumi," ungkap Reynold Parulian Napitupulu, Assistant Manager Documentation, Education, and Promotion KAI saat ditemui detikcom di Stasiun Tanjung Priuk.




Adapun ruang tunggu kaum ningrat ini bisa kamu lihat saat masuk dari pintu utama Stasiun Tanjung Priok. Ruang tunggunya berada di sebelah kanan, setelah ruangan pembelian tiket KRL.

Dari luar saja sudah kentara sisa-sisa "wah"-nya tempat itu di masa lalu. Pintu masuknya seperti pintu bar, berwarna kecoklatan dengan kaca kekuningan di daun pintunya. Seperti itulah istimewanya ruangan Kelas 1 dan Kelas 2, ada bar di ruang tunggunya.

 Pintu masuk ke ruang tunggu ningrat (Syanti/detikcom) Pintu masuk ke ruang tunggu ningrat (Syanti/detikcom)

Sekarang kamu bisa melihat meja hitam melingkar yang dulunya sebagai meja bar. Bagian belakang meja katanya terhubung langsung dengan dapur.

Bergeser ke ruangan belakang, kamu akan masuk ke dalam ruangan yang dulunya berfungsi sebagai restoran. Lampu-lampu masih tergantung dengan kokohnya di langit-langit. Tiang-tiang restoran yang dibalut kayu masih terlihat kokoh.

Konon, dahulunya di restoran ini ada lantai dansa. Kalau ada lantai dansa, tentu ada musik pengiringnya. Bayangkan betapa nyamannya kaum ningrat dan Belanda di Stasiun Tanjung Priuk dahulunya.

"Dulunya di dalam restoran juga ada meja-meja dan bangku," ungkap Reynold.

Seperti Apa Ruang Tunggu Kereta Kaum Ningrat Zaman Dulu?Meja Bar (Syanti Mustika/detikcom)


Berbeda sekali dengan ruang tunggu untuk Irlander, sebutan Belanda bagi warga pribumi. Tidak ada pintu cantik seperti pintu bar, ruang tunggu dengan bar dan juga lantai dansa.

"Untuk ukuran ruangan sama saja, karena pengaruh arsitektur art deco. Namun tentu dekorasi dari ruang tunggu Irlander dengan ningrat berbeda. Kaum Ningrat dekorasi ruangannya lebih mewah, lengkap dengan bar nya," tambah Reynold.

detikcom pun mencoba membayangkan betapa nyamannya ruang tunggu untuk Kelas 1 dan 2 ini. Ada meja bar, tentu ada ragam minuman dan makanan yang dinikmati di sini. Lengkap dengan bangku-bangku dan meja yang nyaman.

Restoran di ruang tunggu kaum ningrat (Syanti/detikcom)Restoran di ruang tunggu kaum ningrat (Syanti/detikcom)

Adanya lantai dansa di sana boleh jadi ditemani pula dengan alunan musik keroncong atau lagu khas Eropa. Para calon penumpang bisa kian menikmati setiap suapan makanan ke mulut. Para pelayan juga pasti melayani dengan siap-sedia.

Sekarang, ruangan ini sudah kosong. Tidak ada bangku ataupun meja, yang tersisa hanyalah meja bar saja. Juga sekarang di sini tidak ada bangku yang bisa diduduki untuk menunggu kereta. Ruangan itu bagaikan menjadi saksi bisu ragam kisahnya di masa lalu.



Simak Video "Kompor Meledak di Kereta, 74 Penumpang Tewas"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/krs)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA