Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 22 Feb 2020 23:04 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Situ Bagendit Garut, Tempat Liburan Nikmati Alam Weekend Ini

Niken Widya Yunita
detikTravel
Warung Apung Situ Bagendit
Foto: Nfadils/d'Traveler/Situ Bagendit Garut, Tempat Liburan Nikmati Alam Weekend Ini
Jakarta -

Situ Bagendit Garut merupakan objek wisata alam berupa danau. Lokasinya di Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Kalau kamu ke Garut, wajib ke tempat legendaris ini. Presiden Joko Widodo (Jokowi) saja pernah berkunjung untuk menikmati keindahan alam wisata Situ Bagendit Garut pada awal tahun 2019. Dalam kunjungannya presiden menyampaikan dukungannya untuk mengembangkan objek wisata danau tersebut agar bisa lebih banyak diminati dan mampu mendongkrak perekonomian masyarakat.

Berikut hal menarik di Situ Bagendit Garut:


1. Di Situ Bagendit Garut Dapat Naik Rakit dan Nikmati Sunset


Yang dapat dilakukan di Situ Bagendit Garut antara lain menikmati pemandangan, mengelilingi danau dengan menggunakan perahu atau rakit. Kamu juga dapat rekreasi keluarga dengan membawa camilan atau rujak dan bermain sepeda air. Kamu juga bisa berfoto-foto di tempat yang pemandangannya indah ini.


2. Tiket Masuk


Harga masuk tiket ke Situ Bagendit Garut sekitar Rp 5.000 per orang. Jam buka tempat lokasi ini yakni pukul 08.00-17.00 WIB.

Situ Bagendit Garut, Tempat Liburan Nikmati Alam Weekend IniFoto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi


3. Legenda Situ Bagendit


Situ Bagendit Garut terkenal akan cerita rakyatnya yang sangat melegenda. Ceritanya yakni di sebuah desa, ada seorang tengkulak yang sangat serakah bernama Nyai Endit. Nyai Endit adalah janda yang sangat kaya raya. Kekayaan Nyai Endit ini didapatkannya dari warisan suaminya yang sudah meninggal.


Semua petani di desa itu sangat takut dan tunduk pada Nyai Endit karena dia mempunyai banyak centeng yang sangat setia kepadanya. Para centeng-centeng Nyai Endit memiliki tubuh yang sangat kekar dan sering menindas orang-orang lemah.


Seluruh padi hasil panen petani di desa tersebut wajib dijual kepada Nyai Endit dengan harga yang sangat murah. Para petani ini terpaksa harus menjual murah seluruh hasil panen mereka karena takut dengan para centeng Nyai Endit.


Nyai Endit memiliki lumbung padi yang sangat luas sehingga mampu menampung seluruh hasil panen dari petani di desa itu. Dia pun menjual kembali beras kepada penduduk setempat dengan harga berkali lipat. Kondisi ini membuat harta Nyai Endit semakin hari semakin bertambah banyak sementara para penduduk setempat semakin melarat.


Dengan harta yang melimpah, Nyai Endit hidup penuh kemewahan. Dia bisa menikmati hidangan makanan-makanan mewah saat orang-orang di sekitarnya kelaparan. Tidak sepeserpun hartanya dia berikan untuk menolong para fakir miskin walaupun sudah memohon kepadanya.


Para petani yang tidak berdaya, hanya bisa pasrah dengan kelakuan Nyai Endit. Suatu hari Nyai Endit mengadakan acara di rumahnya sebagai perayaan atas hartanya yang bertambah banyak. Dia pun memamerkan harta dan perhiasan miliknya kepada para tamu dan warga sekitar yang hadir.


Kemudian datanglah seorang kakek dengan pakaian yang sangat kusut dan kotor sambil memegang sebuah tongkat sebagai tumpuannya. Kakek itu menghampiri Nyai Endit dan memohon agar diberikan sedikit makanan karena kelaparan.


Nyai Endit yang sangat pelit langsung membentak kakek tersebut dan mengusirnya dengan kata-kata kasar. Nyai Endit memerintahkan para centeng-centengnya untuk menyeret kakek tersebut keluar dari rumahnya. Centeng-centeng itu lalu menyeret kakek tersebut dengan paksa hingga keluar dari rumah Nyai Endit.


Esok harinya, Nyai Endit mendapati sebuah tongkat yang tertancap tepat di depan halaman rumahnya. Dia berusaha mencabut tongkat tersebut dengan sekuat tenaga namun tidak berhasil. Nyai Endit memerintahkan centeng-centengnya untuk mencabut tongkat itu dari tanah, mereka pun tidak mampu mencabutnya meski telah mengerahkan seluruh tenaga. Seluruh warga pun dikumpulkan untuk mencabut tongkat tersebut namun tak ada yang bisa melakukannya.


Tak lama kemudian seorang kakek yang pernah diusir Nyai Endit datang lagi. Kedatangannya kali ini bukan untuk meminta makanan kepada Nyai Endit, melainkan dia ingin mengambil tongkatnya yang ketinggalan di depan rumah Nyai Endit. Dengan mudahnya kakek itu mencabut tongkatnya sehingga membuat semua orang terkejut.


Karena dari tempat tongkat itu tertancap keluar air yang begitu deras dan dengan cepatnya mengalir ke sekitar tempat tersebut. Semua warga panik dan langsung berlarian karena air membanjiri desa.


Semua penduduk desa segera pergi menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan desa dan mencari tempat yang aman untuk mengungsi. Namun Nyai Endit sibuk menyelamatkan harta bendanya yang begitu banyak. Dia begitu kesulitan karena sudah tak ada satu pun yang bisa menolongnya.


Di tengah terjangan banjir yang makin ganas, Nyai Endit berteriak minta tolong namun sia-sia karena di desa tersebut hanya tinggal dia seorang. Nyai Endit pun tenggelam bersama seluruh harta bendanya di desa tersebut. Dalam waktu singkat desa itu tenggelam dan menjadi sebuah danau yang akhirnya diberi nama Situ Bagendit.


Selain legenda, ada lagi kisah misteri bahwa kalau pasangan kekasih datang ke tempat ini akan putus. Mitos ini tergantung kepercayaan masing-masing.

4. Lokasi Menuju ke Situ Bagendit Garut


Situ Bagendit Garut bisa ditempuh kurang lebih 40 menit dari Terminal Garut. Bisa naik angkot warna orange jurusan Terminal-Mengger atau Leuwigoong. Situ Bagendit Garut juga bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi. Jangan lupa memakai pakaian hangat saat menikmati perjalanan ke Garut untuk mengatasi masuk angin.



Simak Video "dYouthizen: A New Basecamp for YOU!"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/erd)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA