Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 13 Sep 2020 08:50 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Bendung 11 Pintu Buatan Belanda yang Masih Kokoh Berdiri di Kudus

Dian Utoro Aji
detikTravel
Bendung Wilalung Miliki 11 Pintu Buatan Belanda di Kudus
Bendung Wilalung Foto: (Dian Utoro Aji/detikcom)
Kudus -

Pintu Bendung Wilalung yang terletak di Desa Kalirejo Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah masih berdiri kokoh hingga sekarang. Padahal Bendung Wilalung yang memiliki 11 pintu itu merupakan buatan zaman Belanda tahun 1918. Lalu seperti apa kondisinya?

Untuk sampai di lokasi Bendung Wilalung dari pusat Kota Kudus menempuh jarak sekitar 17 Km atau selama 28 menit. Pantauan detikcom di Bendung Wilalung masih berdiri kokoh, Sabtu (12/9/2020). Meskipun demikian, tampak ada sejumlah pintu yang sudah dipenuhi dengan sedimentasi.

Bendung Wilalung terdapat 11 pintu. Terdiri dari sembilan pintu ke arah Juana dan dua pintu ke arah Wulan. Tampak terdapat jembatan untuk warga setempat melintas.

Bendung Wilalung Miliki 11 Pintu Buatan Belanda di KudusFoto: (Dian Utoro Aji/detikcom)

Korlap Banjir dan Irigasi di Bendung Wilalung, Noor Ali menjelaskan untuk sejarah Bendung Wilalung dibangun pada tahun 1908. Bendungan saat itu dibangun oleh Belanda. Pada saat pembangunan membutuhkan waktu 10 tahun. Bendungan yang memiliki 11 pintu itu rampung tahun 1918.

"Untuk sejarah dulu dikenal dengan Pintu Wilalung (sebelum beralih jadi Bendung Wilalung) itu dibangun tahun 1908 oleh Hindia - Belanda. Waktu pembangunan selama 10 tahun itu ada 11 pintu, jadinya itu tahun 1918 (selesai dan diresmikan)," kata Noor saat ditemui detikcom di rumah jaga Bendung Wilalung di Desa Kalirejo Kecamatan Undaan, Kudus, Sabtu (12/9/2020).

Dia mengatakan, awalnya Bendung Wilalung digunakan sebagai irigasi bagi lahan pertanian. Karena pada waktu itu Belanda sedang gencarnya untuk menanam tebu. Sehingga kata dia diharapkan mampu membantu produksi tebu pada waktu itu.

"Pada waktu itu Pintu Wilalung digunakan sebagai lahan pertanian, karena pertanian di era Belanda yakni pertanian tebu," ujar Noor.

Bendung Wilalung Miliki 11 Pintu Buatan Belanda di KudusFoto: (Dian Utoro Aji/detikcom)

Dari segi bentuk bangunan, Bendung Wilalung memiliki 11 pintu. Terdiri dari sembilan pintu menuju sungai Juana dan dua pintu menuju sungai Wulan.

Kata dia, ke arah Juana terdapat pintu lebih banyak karena untuk oncoran sedimentasi pada areal Belanda. Terutama rawa - rawa yang ada di daerah Kudus dan Pati.

"Ini supaya Belanda bisa menanam tebu sebagai pemasok bahan baku gula untuk pabrik Rendeng di Kudus dan Trangkil," kata Noor yang sudah menjadi korlap di Bendung Logung sejak tahun 2012 itu.

Lebih lanjut, jelas Noor setelah Belanda meninggalkan Indonesia kemudian Bendung Wilalung dimanfaatkan sebagai irigasi dengan model pompanisasi. Kemudian kata dia setelah ada pembangunan Kedungombo dan Waduk Klambu akhirnya pintu Wilalung beralih fungsi menjadi Bendung Wilalung.

"Setelah itu ada pembangunan Kedungombo , Waduk Sidorekso dan Waduk Klambu. Akhirnya di Pintu Wilalung beralih fungsi menjadi Bendungan Wilalung. Difungsikan untuk pemantauan banjir. Sekarang dialih fungsi, karena untuk fungsi irigasinya diambil alih oleh Waduk Kedungombo," kata dia.

Bendung Wilalung Miliki 11 Pintu Buatan Belanda di Kudus Foto: (Dian Utoro Aji/detikcom)

Saat menjadi alih fungsi pengendali banjir. Kata dia tahun 1992 tepatnya 2 Februari terjadi banjir besar. Pada saat itu jembatan diatas Bendung Wilalung tergenang air hingga ketinggian satu meter.

"Pada tahun 1992 tepatnya pada 2 Februari dengan debit air 1.560 meter kubik perdetik. Pada saat itu Pintu Wilalung jembatan tergenang air dibawa lutut, lalu akses jalan menuju Kalirejo terputus. Bersamaan dengan terminal Kudus tergenang banjir. Banjir hampir dua minggu terjadi. Warga Undaan pada waktu itu terisolasi pada saat itu," cerita dia.

Hingga saat ini, Bendung Wilalung masih berdiri kokoh. Wilalung menjadi ikon sendiri bagi warga Kudus. Kata dia tidak sedikit warga yang berbondong - bondong berswafoto di Bendung Wilalung.

"Wilalung sendiri banyak menjadi ikon pengguna jalan. Bahkan pada saat pandemi warga luar daerah sepeda ontel untuk berfoto - foto. Dan harapan mereka menjadi wisata daerah, tapi keputusan dari BBWS Pemali Juana sendiri," ujar dia.

Perawatan 11 pintu hingga sekarang kata dia masih dilakukan. Rencananya dalam pekan ini pun akan dilakukan pengerukan sedimentasi di pintu nomor 6 dan nomor 7 Bendung Wilalung. "Perawatan tidak ada masalah. Dalam waktu akan mendatangkan alat untuk pengangkatan sedimentasi," tandas Noor.

(sym/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA