Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 11 Jan 2021 12:40 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Wisata Baru di Semarang, Ada Jembatan Kaca Instagrammable!

Akbar Hari Mukti
detikTravel
Jembatan kaca di Gumuk Reco
Jembatan Kaca Gumuk Reco (Akbar Hari Mukti/detikcom)
Kabupaten Semarang -

Terdapat wahana baru di obyek wisata alam Gumuk Reco, Kabupaten Semarang. Wahana itu adalah jembatan kaca, yang mulai dioperasikan, Senin (11/1).

"Kami menambah wahana baru di Gumuk Reco, yakni jembatan kaca," jelas Kepala Desa Sepakung, Ahmad Nuri, dihubungi detikcom, Senin (11/1/2021).

Nuri mengatakan, jembatan kaca ini memiliki panjang 6 meter dan lebar dua meter. Jembatan di obyek wisata yang berada di Sepakung, Banyubiru, Kabupaten Semarang itu berada di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut (mdpl).

"Pembuatan jembatan kaca ini dilakukan sejak akhir tahun lalu. Menggunakan kaca tempered tiga lapis, dengan ketebalan mencapai 17,3 mm," ujar Nuri.

Jembatan kaca di Gumuk RecoJembatan kaca di Gumuk Reco Foto: (Akbar Hari Mukti/detikcom)

Sebelum dibuka, uji beban dilakukan dua kali. Nuri mengatakan, uji beban internal dilakukan dengan cara jembatan dinaiki 14 orang. Uji beban selanjutnya dilakukan Perhutani di mana jembatan dinaiki 12 orang dewasa.

"Perhutani melakukan uji beban Minggu (10/1) kemarin. Lancar semua," jelasnya.

Secara reguler, jembatan kaca dinaiki maksimal tiga wisatawan yang berkunjung setiap sesi. Tiket menaiki wahana ini yakni Rp 20 ribu per orang.

"Tiket menaiki jembatan kaca Rp 20 ribu per orang untuk 3 orang," jelas Nuri.

Jembatan kaca di Gumuk RecoJembatan kaca di Gumuk Reco Foto: (Akbar Hari Mukti/detikcom)

Nuri berharap dengan adanya wahana baru tersebut dapat menambah daya tarik tambahan bagi wisatawan. Ia menjelaskan, selama pandemi jumlah pengunjung di tempat wisata tersebut turun drastis.

"Selama pandemi, kami merasa kacau dalam segi pendapatan. Wisatawan belum pernah mencapai 30 persen jumlah pengunjung sebelum pandemi. Jadi seringkali pendapatan tak dapat menutupi operasional wisata," paparnya.

(bnl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA