Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 09 Mei 2021 14:57 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Sasi, Tradisi Jaga Laut dari Misool

Hari Suroto
detikTravel
raja ampat misool
Ilustrasi Misool (IA Ombi/d'Traveler)
Jakarta -

Masyarakat Misool, Raja Ampat, Papua Barat memiliki tradisi sasi atau sistem asli untuk menjaga laut.

Tradisi sasi diwariskan secara turun temurun dan menjadi kearifan lokal bagi masyarakat Misool. Tradisi sasi merupakan larangan pengambilan biota laut yang ditetapkan secara musyawarah oleh tokoh masyarakat, adat dan agama.

Sasi ibarat tabungan untuk ketahanan pangan, jeda mengambil, dan mengambil pada suatu waktu yang ditentukan. Sasi adalah wujud upaya dalam memeberi kesempatan pada biota laut tertentu untuk berkembang di kawasan perairan dan kurun waktu tertentu.

Pembukaan dan penutupan sasi disepakati secara musyawarah bersama. Wilayah yang disasi berarti berlaku larangan mengambil biota laut seperti lola (Trochus niloticus), lobster (Panurilus sp), batu laga (Turbo marmoratus), dan teripang.

Tetapi masyarakat masih bisa memancing ikan. Ikan diperbolehkan dipancing, karena ikan mampu bergerak lintas wilayah, sehingga tidak disasi. Jenis biota laut yang disasi memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Pengambilan yang sembarangan akan membuat lola, lobster, batu laga dan teripang menjadi langka. Upacara adat, seperti sajian sirih pinang atau samsom, mengawali prosesi sasi, yang biasanya berjangka enam bulan dengan mempertimbangkan musim angin selatan dan musim angin barat.

Selama musim angin selatan yang bermula pada Mei sampai Oktober, sasi ditutup. Di masa ini nelayan tidak bisa mencari biota laut karena angin dan ombak sehingga sasi ditutup.

Sebaliknya, saat musim barat, sasi kembali dibuka karena laut kembali teduh. Nelayan bisa mengambil biota laut yang disasi mulai November hingga April. Tradisi sasi membuat masyarakat Misool memiliki koneksi dengan laut.

Masyarakat Misool secara turun temurun menjaga kelestarian alam untuk generasi penerus. Tradisi sasi juga membuka kesempatan bagi kegiatan pariwisata yang melindungi laut.

***

Artikel merupakan kiriman pembaca, Hari Suroto, peneliti dari Balai Arkeologi Papua. Artikel telah disunting sesuai kebutuhan redaksi.



Simak Video "Pulau Kri Raja Ampat, Incaran Penyelam Asing"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA