Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 15 Jun 2021 19:06 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Cuma Sebesar Kamar Mandi, Ini Kamar Penjara Sukarno di Bandung

bonauli
detikTravel
Lapas Banceuy
Lapas Banceuy (Bonauli/detikcom)
Bandung -

Presiden Sukarno pernah ditahan di Bandung. Lapas inilah yang menjadi saksi bisu perjuangannya. Lapas Banceuy, itulah nama penjara Sukarno berada di tahun 1930. Sukarno dipenjarakan karena aktivitas politiknya bersama Partai Nasional Indonesia (PNI).

Bersama Cerita Bandung, detikTravel melakukan tur ke sana. Mamat, pemandu kami bercerita tentang kegigihan Sukarno saat itu.

"Ini tempat Sukarno di penjara, dulu namanya Lapas Banceuy," ucapnya.

Yang kami heran, lapas ini hanya berisi potongan pagar besi yang berjarak sekitar 100 meter dari kamar lapas. Sudah gitu, hanya ada satu bangunan kecil. Di sebelahnya terdapat patung Sukarno.

Lapas BanceuyLapas Banceuy Foto: (Bonauli/detikcom)

"Sebenarnya lapas ini sudah dipindah. Jadi ini yang disisakan hanya kamar Sukarno," jelasnya.

Sayang, saat itu kami tidak diperbolehkan masuk. Namun dari sini saja kami bisa merasakan kesengsaraan Sukarno di lapas.

Dari pagar menuju kamar lapas ada lorong yang disisakan. Lorong tersebut sudah dibalut dengan spanduk keterangan tentang perjuangan Sukarno di sana.

Dari luar, kamar lapas tersebut memang sangat kecil. Perkiraannya hanya sebesar kamar mandi saja.

"Saat berada di dalam penjara, Sukarno menuliskan pidato dengan judul Indonesia Menggugat," ceritanya.

Lapas BanceuyLapas Banceuy Foto: (Bonauli/detikcom)

Sukarno bersama tiga rekannya yaitu Gatot Mangkupraja, Maskun dan Supridinata dituduh hendak menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda. Sukarno membalasnya dengan menuliskan pledoi pada persidangan Landraad di Bandung.

"Panjang pledoi atau pembelaannya dibacakan selama 2 hari. Sukarno menentang kolonialisme dan imperialisme," ujar Mamat.

Tak hanya itu, Mamat juga menceritakan tentang perjuangan Inggit yang saat itu masih menjadi istri Sukarno. Inggit selalu mengirimkan buku dan telur kepada Sukarno.

"Telur tersebut jadi cara Inggit untuk berkomunikasi dengan Sukarno. Kalau telurnya bolong satu artinya ada kawanan yang ditangkap, sementara kalau dua artinya di luar sedang tidak aman," jelanya.

Akhirnya dari sanalah muncul sebutan Bahasa Telur. Wah, mantap sekali ya perjuangan Sukarno dan Inggit saat itu.



Simak Video "Melepas Rindu ke Museum Nike Ardilla di Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA