Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 09 Apr 2022 17:12 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Jejak Islam di Pulau Serangan

Sui Suadnyana
detikTravel
Kura-kura Bali di Pulau Serangan
Pulau Serangan (dok. Kemenparekraf)
Serangan -

Kendati mayoritas penduduknya beragama Hindu, Bali memiliki jejak peradaban islam. Salah satunya di Pulau Serangan.

Salah satu jejak peradaban Islam di Bali yakni di Kampung Bugis, Kelurahan Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar. Kisah peradaban Islam di kampung yang terletak di Pulau Serangan ini sudah dimulai sejak abad ke-17.

Awalnya, warga Suku Bugis dari Sulawesi Selatan (Sulsel) datang atau terdampar naik perahu ke Pulau Serangan akibat adanya konflik dengan persekutuan dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).t

"Muasalnya dulu orang tua kami ke Bali ini adanya konflik antara suku kami dengan Belanda atau VOC sehingga mereka hijrah ke suatu tempat dari Bugis sana sampai terdampar di Bali. Beberapa sesepuh pergi meninggalkan wilayah Bugis saat itu," kata tokoh masyarakat Kampung Bugis Muhammad Syukur saat ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.

Selain adanya konflik dengan VOC, orang-orang Bugis memutuskan untuk hijrah dari tanah kelahirannya karena mengalami konflik dengan kerajaan di Bugis. Syukur menyebut, ada beberapa kerajaan yang pro dengan keberadaan VOC di wilayah tersebut.

Karena adanya perbedaan pendapat, mereka yang kontra dengan keberadaan VOC kemudian memutuskan untuk hijrah ke berbagai tempat. Selain ke Bali, beberapa diantaranya hijrah ke Sumbawa hingga Kalimantan.

Masjid Asy-Syuhada di Pulau Serangan BaliMasjid Asy-Syuhada di Pulau Serangan Bali (Sui Suadnyana/detikcom)

Tak hanya warga biasa, para sesepuh yang berilmu juga turut hijrah dari sana. Adapun sesepuh atau yang dituakan terdampar ke Pulau Serangan, Bali yakni Syeikh Haji Mu'min bin Hasanuddin bersama para pengikutnya. Mereka kemudian mulai membangun perkampungan dan peradaban Islam di Pulau Serangan.

"Merekalah yang awalnya membangun peradaban Islam di sini," kata Syukur.

Namun, Syukur mengaku hingga kini belum mengetahui berapa jumlah warga Bugis yang terdampar ketika itu. Ia memprediksi kemungkinan ada sekitar ratusan orang. Hal itu diprediksi berdasarkan jumlah makam kuno milik Kampung Bugis di Pulau Serangan.

"Kalau berapa orang (yang terdampar ke Pulau Serangan), belum tahu. Tapi karena banyaknya kuburan-kuburan tua itu yang tidak sesuai dengan jumlah penduduk di sini, sebagian besar makam tidak diketahui siapa keluarganya," kata dia.

Setelah terdampar di Pulau Serangan, warga Bugis tetap berprofesi sebagai nelayan sembari membangun perkampungan. Seiring berjalannya waktu, warga Bugis yang menempati Pulau Serangan kemudian berhasil maju lewat perdagangan dan nelayan.

"Dan, dilihatlah perkembangan peradaban di sini oleh Kerajaan Badung. Kemudian, kami diajak kerja sama baik dalam ekonomi perdagangan sampai ke politik militer," ujar dia.

Selain itu, mereka juga berhasil mempunyai hubungan baik, termasuk hubungan militer dengan kerajaan-kerajaan di wilayah Denpasar ketika itu. Sebab warga Bugis turut membantu memenangkan kerajaan.

"Untuk melawan VOC dulu itu, kami dengar ada beberapa kaum muslim ikut membantu untuk memenangkan Bali dari penjajahan," kata dia.

Warga suku Bugis di Pulau Serangan juga membantu Kerajaan Badung dalam perang melawan Kerajaan Mengwi.

"Ya intinya namanya kerajaan, misalnya ada gangguan dari daerah lain ya untuk infanteri membantu perang itu ada (pasukan) dari kami. Termasuk saat perang antara Kerajaan Mengwi dengan Kerajaan Badung," ujar Syukur.

Sejak itu, warga Bugis di Pulau Serangan menjalin kehidupan dengan orang-orang Bali di wilayah pesisir. Oleh Raja Badung, mereka diizinkan untuk membangun sebuah tempat ibadah bernama Masjid Asy-Syuhada yang juga dibangun sekitar abad ke-17.

"Jadi, selama itu kami tetap hidup dan mempertahankan Islam di wilayah ini. Nah, walaupun kami minoritas, tapi tetap membangun peradaban Islam dengan dakwah. Kami tetap mengajar anak-anak tentang agama, dan menjaga kehidupan kita tetap baik dengan umat Hindu maupun non Muslim lainnya," ujarnya.

***

Selengkapnya bisa dibaca di detikBali, klik di sini.



Simak Video "Wisatawan Masuk Bali Meningkat di Pelabuhan Gilimanuk"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA