Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 13 Mei 2022 20:40 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Di Desa Ini Ari-ari Bayi Tidak Dikubur di Tanah, tapi Digantung di Pohon

Agus Eka
detikTravel
Ketut Sukarta saat menunjukkan batok kelapa berisi ari-ari yang ditempatkan bergerombol.
Foto: Ari-ari bayi yang digantung di pohon (Agus Eka/detikBali)
Bangli -

Ada satu desa unik di Bali. Lazimnya, ari-ari atau plasenta bayi yang baru lahir akan dikubur di tanah. Tapi di desa ini, ari-ari akan digantung di pohon. Bagaimana kisahnya?

Warga Desa Adat Bayung Gede di Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali menganggap mengubur ari-ari bayi yang baru lahir di pekarangan rumah adalah sebuah pantangan. Mereka pun punya sebuah tempat khusus sebagai pengganti lahan untuk mengubur ari-ari itu.

Lokasi itu disebut Setra Ari-Ari, atau kuburan khusus ari-ari. Meski sudah ada Setra Ari-ari, warga desa tetap tidak menanam ari-ari itu.

Mereka lebih memilih untuk menggantung ari-ari yang sudah diwadahi kau (batok kelapa dibelah dua) itu di ranting pohon bukak. Tak ayal, lokasi tersebut menyita perhatian publik karena dinilai unik. Tidak ada tempat sempat semacam itu di Bali.

Sejak beberapa tahun lalu, kawasan Desa Bayung Gede disinggahi turis asing. Setra Ari Ari pun jadi spot yang tak akan dilewati pengunjung. Mereka penasaran, mengapa ari-ari bayi yang baru lahir hanya digantung begitu saja. Ari-ari itu juga sangat aman dari perburuan hewan liar dan tidak menimbulkan bau.

Bandesa Bayung Gede, I Ketut Sukarta, mengakui ada cerita panjang di balik keberadaan Setra Ari Ari atau dikenal dengan nama Pengutangan Kau (tempat pembuangan batok kelapa) oleh warga setempat.

Warga desa wajib menempatkan sungsungan yang disucikan warga, berupa Ratu Pingit dan Ratu Bungsil di rumah. Inilah mengapa warga Bayung Gede di Kintamani pantang mengotori lahan sendiri. Sebab, jika ari-ari berada dalam pekarangan, sementara di pekarangan itu terdapat Jero Kubayan atau tokoh lain yang disucikan, di situlah pelanggarannya.

"Ari-ari kan dianggap kotor, leteh. Sehingga kami menempatkan ari-ari di luar pekarangan. Kami punya tempat khusus seluas 30 are yang disebut Setra Ari-Ari," ujar Ketut Sukarta.

Menurut Sukarta, Setra Ari Ari di Bayung Gede Kintamani ini kerap jadi objek penelitian mahasiswa, dan disenangi turis-turis asing.


---

Artikel ini sudah naik di detikBali dan bisa dibaca selengkapnya di sini.



Simak Video "Suasana Doa Bersama di Monumen Ari-ari RA Kartini"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA