Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Sabtu, 12 Nov 2022 08:20 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Bagaimana Cara Manusia Purba Bercocok Tanam? Mari Kita Simak

Fathnur Rohman
detikTravel
Taman Purbakala Cipari di Kuningan, Jabar
Foto: Taman Purbakala Cipari (Bima Bagaskara/detikTravel)
Kuningan -

Taman Purbakala Cipari yang terletak di Kuningan jadi saksi bagaimana manusia purba di zaman itu bercocok tanam. Seperti apa sih caranya?

Situs prasejarah yang berada di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan itu menjadi situs dengan koleksi benda-benda zaman megalitikum terlengkap. Mulai dari perhiasan kecil hingga monumen batu berukuran besar seperti menhir dan altar batu, bisa dijumpai dengan mudah di tempat ini.

Pantauan di lokasi, tampaknya ada satu benda yang sering luput dari perhatian pengunjung. Benda tersebut adalah batu dakon atau lumpang batu. Sebuah batu berukuran besar dengan tujuh lubang di permukaannya.

Pengelola Taman Purbakala Cipari, Suma menjelaskan, batu dakon berfungsi sebagai media untuk menumbuk ramuan dan obat-obatan. Di samping itu, benda ini juga diduga dipakai guna menumbuk hasil pertanian.

"Fungsinya untuk media dalam proses pembuatan ramuan dan obat-obatan. Selain itu benda ini kerap kali digunakan dalam upacara pemujaan nenek moyang mereka," ujar Suma saat berbincang.

batu kapak dan batu dakon untuk mengolah pertanian oleh manusia purbabatu kapak dan batu dakon untuk mengolah pertanian oleh manusia purba Foto: Fathnur Rohman/detikJabar

Situs Cipari sendiri dapat dikatakan sebagai tempat cukup unik bila dilihat dari sisi historisnya. Pasalnya, kawasan dengan luas 7000 meter per segi yang dikelilingi tembok batu setinggi 2 meter pernah mengalami dua kali masa pemukiman.

Diperkirakan dari kisaran 1000 hingga 500 tahun sebelum Masehi, tempat ini punya dua corak kebudayaan yakni masa neolitik dan pengenalan bahan perunggu periode awal. Di mana, masyarakat prasejarah kala itu telah mengenal sistem bercocok tanam dan didukung dengan kondisi tanah yang subur.

Kendati pola menanam bahan pangan kala itu masih sangat sederhana, namun hampir bisa dipastikan bahwa dalam proses bercocok tanam oleh masyarakat sudah menggunakan peralatan.

Dia menjelaskan, kapak batu yang memiliki permukaan halus dan beberapa sisinya kasar berguna sebagai alat mengolah pertanian.

"Kapak batu ini terbuat dari jenis batuan tanah selt stone seperti batu rijang, kwarsa, yasper kalsedom dan batu batas," tutur Suma.

Mengingat pada zaman tersebut, manusia purba telah mengenal sistem bercocok tanam maka kebiasaan hidup mereka perlahan berubah. Artinya, di masa megalitikum mereka hidup berkelompok dan menetap di satu wilayah seperti kawasan Cipari.

Hal tersebut diperkuat juga dengan ditemukannya gerabah-gerabah kuno yang termasuk aspek penting, untuk menggambarkan kehidupan manusia kala itu.

"Temuan gerabah ini nampaknya diproduksi sendiri, karena ditemukan pula bahan yang dicampur antara tanah liat dan pasir. Fungsi gerabah sendiri sebagai alat kebutuhan rumah tangga dan bekal kubur," ungkapnya.

Walaupun demikian, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana sebenarnya masyarakat prasejarah itu bertani. Apalagi mereka hidup di zaman yang sama sekali belum mengenal tulisan.

Kini semua benda purbakala yang ada di Situs Cipari masih tersimpan rapi, baik di dalam museum maupun di area taman. Jika tertarik berkunjung, wisatawan dapat menempuh perjalanan 35 km dari Kota Cirebon menggunakan sepeda motor atau kendaraan umum.


----

Artikel ini telah naik di detikJabar dan bisa dibaca selengkapnya di sini.



Simak Video "Perhiasan Kuningan Khas Bali Akan Jadi Suvenir Resmi G20"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA