Bali dan Jawa Tak Disatukan Jembatan, Kenapa Ya?

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Bali dan Jawa Tak Disatukan Jembatan, Kenapa Ya?

Devie Vyatri Permata Cahyadi - detikTravel
Kamis, 23 Apr 2026 19:17 WIB
Paus berukuran raksasa yang terdampar di Selat Bali tepatnya di sisi utara Pura Segara, Keluraham Gilimanuk tak jauh dari Pelabuhan Gilimanuk, Selasa (23/12/2025).
Selat Bali (dok. Pos AL Gilimanuk)
Jakarta -

Pulau Jawa dan Bali cukup dekat, hanya berjarak sekitar 5 kilometer (km), tetapi dua pulau itu tidak terhubung oleh jembatan. Kenapa ua?

Karena jaraknya itu, sejatinya wacana pembangunan jembatan Jawa-Bali sering kali muncul. Usulan itu bahkan sudah sejak lama muncul.

Namun, hingga kini jembatan Jawa-Bali itu belum terealisasi karena berbagai pertimbangan. Alasan jembatan Jawa-Bali tak kunjung dibangun tidak hanya faktor teknis, tetapi juga berkaitan dengan sejarah hingga nilai dan kepercayaan masyarakat di Pulau Dewata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari detikBali, setidaknya ada tiga alasan jembatan Jawa-Bali belum terwujud.

Alasan jembatan Jawa-Bali belum terwujud:

1. Ditolak Berbagai Pihak di Bali

Ide pembangunan jembatan penghubung ini pertama kali muncul pada 1960-an dengan nama proyek Trinusa Bima Sakti. Usulan tersebut digagas guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Sedyatmo. Namun, rencana tersebut langsung ditolak oleh sebagian masyarakat Bali.

ADVERTISEMENT

Beberapa dekade kemudian, tepatnya pada 2012, wacana serupa kembali muncul. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi mengusulkan pembangunan jembatan untuk memperlancar akses kendaraan sekaligus mendorong perekonomian di kedua pulau tersebut.

Usulan tersebut kembali mendapat penolakan, antara lain dari Pemkab Jembrana serta Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

2. Selat Bali Tak Sebatas Batas Alam

Secara geografis, Selat Bali terbentuk secara alami sebagai pemisah daratan akibat proses geologi dan aktivitas tektonik yang berlangsung selama ribuan hingga jutaan tahun.

Namun, dalam pandangan masyarakat Bali, keberadaan Selat Bali tidak hanya dipahami sebagai batas alam semata, tetapi juga sebagai simbol pemisahan kultural, moral, dan spiritual. Hal ini sejalan dengan filosofi hidup umat Hindu Bali yang memandang gunung, laut, dan daratan sebagai fungsi simbolik dalam menjaga keseimbangan kehidupan yang harus dihargai.

3. Kepercayaan dan Mitologi Bali

Selain beberapa hal di atas, penolakan tersebut juga berkaitan dengan pandangan budaya dan kepercayaan masyarakat Bali. Bagi umat Hindu, Pulau Bali diyakini perlu dipisahkan dari Jawa secara fisik (sekala) maupun spiritual (niskala) oleh lautan yang dianggap suci.

Dikutip dari laman Budaya Bali, Selat Bali dipercaya terbentuk dari kisah Sidi Mantra dan anaknya, Manik Angkeran, yang berakhir tragis. Sidi Mantra dalam cerita tersebut menciptakan laut secara supranatural sebagai "garis pemisah" antara dirinya dan sang anak.

Menurut mitologi Hindu Bali, keberadaan jembatan yang menghubungkan kedua pulau dikhawatirkan dapat mengganggu tatanan keseimbangan alam dan kehidupan.

Pada dasarnya, pandangan ini mencerminkan upaya masyarakat Bali dalam menjaga kesucian Pulau Dewata agar tetap selaras secara budaya dan spiritual, sekaligus menghindari pengaruh luar yang dapat mengganggu ketenangan.




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads