Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 15 Des 2013 15:51 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Terbang Malam Hari Saat Traveling, Tak Masalah

Diaz Rossano
d'travelers
Foto 5 dari 5
Mentari Mulai Mekar di Pagi Hari
Mentari Mulai Mekar di Pagi Hari
detikTravel Community -

Biasanya, kebanyakan traveler terbang naik pesawat saat pagi atau soang hari. Bagaimana jika penerbangan Anda adalah malam hari? Tak masalah, karena ada banyak kegiatan dan pemandangan cantik yang bisa dilihat.

Semakin padatnya bandara terutama Soekarno Hatta, membuat penerbangan malam menjadi pilihan waktu yang tepat untuk lepas landas. Bagi para traveler, tentunya menggunakan penerbangan malam merupakan sensasi tersendiri.

Penerbangan malam dipilih traveler apalagi bila jarak tempuhnya cukup jauh, terutama ke wilayah Indonesia Timur. Waktu tempuh terbang antara 5-6 jam membuat perjalanan menjadi lebih efektif.

Hal ini karena kita akan tiba di tempat tujuan lebih pagi dengan perbedaan waktu 1-2 jam lebih dulu dari Jakarta. Sehingga Anda tidak menghabiskan satu malam menginap tanpa arti.

Saya pertama kali terbang malam pada tahun 2008 non stop, dari Jakarta menuju Ambon menggunakan maskapai swasta yang berangkat pukul 01.30 WIB. Sempat tertunda 1 jam, pesawat akhirnya berangkat juga dan saya tiba di Ambon sekitar pukul 08.30 WIT atau pukul 06.30 WIB.

Perjalanan selama hampir 4 jam dilalui dengan tidur nyenyak di atas pesawat sambil mendengarkan mp3 karena tidak ada makanan tersaji di atas pesawat. Memang cukup melelahkan, namun paginya bisa langsung beraktivitas di tempat tujuan.

Penerbangan berikutnya tahun 2012 lebih seru, karena saya transit di beberapa tempat sebelum tiba di tujuan. Saya bertolak menuju Ternate menggunakan maskapai milik BUMN sekitar pukul 22.00 WIB.

Kemudian saya transit di Denpasar selama satu jam sebelum melanjutkan perjalanan ke Makassar. Di Makassar pesawat tiba sekitar pukul 02.30 WITA, dan berganti pesawat lain di pagi hari menuju Ternate.

Selama menunggu, saya duduk sambil menikmati kopi di salah satu warung 24 jam di Bandara Hasanuddin, sambil menyaksikan siaran langsung sepakbola penyisihan Piala Champion hingga subuh.

Setelah salat Subuh, saya kembali terbang ke Ternate pukul 06.00 dan tiba pukul 08.30 pagi waktu setempat. Setelah menaruh barang di hotel, aktivitas kerja survei lapangan langsung dilakukan tanpa istirahat sedikit pun. Setelah lelah berkeliling kota, barulah sore harinya bisa beristirahat hingga ke esokan paginya.

Terakhir kali pengalaman terbang malam semakin seru, karena saya harus berganti tiga pesawat, dalam satu perjalanan menuju Kota Palu. Saya berangkat malam hari pukul 22.50 WIB menuju Surabaya.

Begitu tiba, saya langsung mampir di kios yang terletak di teras luar Bandara Juanda sampai pagi, sambil nonton siaran langsung antara Prancis-Ukraina, yang berakhir dengan kemenangan 3-0 untuk Prancis.

Pagi hari perjalanan dilanjutkan menuju Makassar dengan pesawat berikutnya. Setiba di Makassar, kami kembali ngopi-ngopi di Bandara Hasanuddin sambil menunggu pesawat selanjutnya menuju ke Palu.

Penerbangan kali ini cukup unik karena menggunakan pesawat kecil, yang hanya mengangkut sekitar 90 penumpang saja. Ketika tiba di Palu, kami kembali beraktivitas seperti biasa tanpa harus menginap di hotel terlebih dahulu.

Penerbangan malam memang mengasyikkan, seperti naik bus antar kota jurusan Jakarta-Solo atau Surabaya. Selain bisa tiba di bandara tepat waktu karena tidak terlalu macet di malam hari, saat boarding pun penumpang lebih leluasa dan tidak perlu mengantri karena masih jarangnya penumpang di malam hari.

Namun memang diperlukan fisik yang prima sebelum menjalani penerbangan malam hari, karena memang cukup melelahkan. Bagi para traveler yang senang bertualang atau mencoba hal baru, sekali-kali cobalah terbang malam hari dan nikmati sensasinya.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA