Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 17 Des 2017 16:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menikmati Makanan Raja Tapanuli Selatan

Ivonesuryani
detikTravel Community
Foto 1 dari 4
Holat yang sedap. Tampilannya pun menggugah selera.
Holat yang sedap. Tampilannya pun menggugah selera.
detikTravel Community -

Di Rantauprapat, Sumatera Utara, terdapat sebuah menu makanan yang bernama Holat. Konon, Holat adalah makanan para raja dari Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Ketika sedang traveling ke Rantauprapat, Sumatera Utara, saya mencari kuliner yang tidak biasa di kota ini. Saya menyusuri jalanan kota, menoleh ke kiri dan ke kanan, membaca tulisan-tulisan di depan rumah makan. Beberapa kali saya membaca kata Holat.

Karena kata ini tidak pernah saya dengar atau baca sebelumnya, saya mencari arti kata tersebut di internet. Holat ternyata nama sebuah menu makanan khas dari Gunung Tua, Ibukota Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Kabupaten ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Selatan. Konon, makanan ini adalah menu spesial para raja dari Tapanuli Selatan. Uniknya, bumbu Holat menggunakan serutan kayu balakka yang hanya terdapat di Gunung Tua, Ibukota Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Kabupaten ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Selatan.

Merasa penasaran, saya mencari informasi beberapa rumah makan yang menjual Holat di Rantauprapat. Pilihan saya jatuh pada Rumah Makan Lesehan Apung di Jalan Islamic Center, tepat berada di tepi sebuah danau kecil.

Sambil menunggu pesanan saya dihidangkan, saya mengobrol dengan Kak Maimunah yang meracik resep Holat di rumah makan ini.

"Holat semacam gulai putih tetapi tidak menggunakan santan. Warna putih seperti santan berasal dari serutan tipis kayu balakka. Kayu ini didapat dari Gunung Tua. Bahan dasarnya adalah ikan mas, tetapi karna ikan mas mempunyai banyak tulang yang halus, disediakan pilihan ikan lain, misalnya baung, nila dan moma (ikan lele sungai)," cerita Kak Maimunah pada saya sambil menyiapkan bumbu masakan.

Ikan yang akan disajikan menjadi menu Holat akan dipanggang terlebih dahulu hingga matang. Setelah matang, ikan diletakkan di piring kemudian ditambahkan kuah Holat dan taburan irisan cabai merah atau rawit.

"Kuah Holat dibuat dari campuran serutan tipis kayu balakka sebagai bumbu utama, jahe, bawang putih, bawang merah, kemiri, potongan pakkat dan air," lanjut Kak Maimunah.

Kayu balakka berasal dari hutan di Gunung Tua dan hanya terdapat di daerah ini, sedangkan pakkat adalah tunas rotan yang masih muda dan biasa dijadikan lalapan.
Holat sendiri berasal dari kata Holatan yang berarti kelat. Rasa kelat ini berasal dari kayu balakka dan pakkat.

Menurut dongeng, kayu balakka digunakan sebagai pengganti santan karena sulitnya mencari kelapa di hutan pada masa itu. Ternyata serutan kayu balakka justru menimbulkan rasa sedap pada masakan dan akhirnya digunakan hingga kini. Uniknya, kayu balakka yang digunakan harus pas usianya. Jika terlalu muda, kayu balakka tidak mempunyai rasa, sedangkan jika terlalu tua rasanya akan pahit.

Holat pesanan saya pun dihidangkan. Saya memesan Holat dengan ikan nila dan ikan baung. Aroma ikan bakar tercium harum. Saya mencicipi kuahnya, benar-benar sedap. Saya menikmati Holat dengan nasi putih hangat, sambil memandang danau kecil di hadapan saya dan merasakan semilir angin berhembus.

Jika traveler berkunjung ke Rantauprapat, jangan lupa mencicipi Holat, makanan raja-raja Tapanuli Selatan ini ya. Selain sedap, masyarakat setempat meyakini kalau getah kayu balakka juga menyehatkan karena mengandung anti oksidan.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED