Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 06 Mar 2018 11:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Tertawan Pesona Cap Go Meh Singkawang

Ivonesuryani
d'travelers
Foto 1 dari 5
Tatung dengan asesoris besi panjang memenuhi wajah.
Tatung dengan asesoris besi panjang memenuhi wajah.
detikTravel Community - Setiap tahun masyarakat di Singkawang merayakan Cap Go Meh dengan parade Tatung. Baru saja berlalu, seperti ini ini kemeriahannya.

Di Singkawang, Kalimantan Barat, setiap tahun rutin diadakan Parade Tatung. Tatung adalah sosok orang yang menjadi media bagi roh leluhur dengan kehidupan di dunia ini. Mereka adalah orang-orang 'pilihan', yang mau tidak mau tidak dapat mengelak bila telah dipilih oleh para leluhur.

Ketika mendapat kabar bahwa saya menjadi salah satu pemenang lomba foto yang diadakan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Nasional dan mendapat hadiah traveling ke Singkawang, apalagi bertepatan dengan Cap Go Meh 2018, rasanya seperti mendapat durian runtuh di saat tidak musimnya. Semua biaya travelling ditanggung penyelenggara lomba, full board deh, saya tinggal maju mundur cantik.

Saya berangkat ke Singkawang menggunakan maskapai yang transit di Pangkal Pinang dan Batam. Membuat perjalanan menjadi sedikit lebih panjang, namun tak mengapa. Hal ini justru membuat saya tahu bahwa ada penerbangan dari Pangkal Pinang dan Batam menuju Bandara Internasional Supadio, Pontianak, selain dari Jakarta. Tidak sulit untuk mengunjungi Singkawan, bukan?

Sampai di Bandara Supadio, teman-teman dari GenPI telah menunggu saya. Kami melanjutkan perjalanan darat selama tiga jam menuju Singkawang. 

Pawai Lampion

Langit Singkawang mulai gelap ketika kami sampai di kota ini. Kami langsung menuju Kantor Walikota Singkawang, mengejar Pawai Lampion yang mulai berjalanan. Suasananya ramai, antusiasme masyarakat sangat tinggi merayakan Cap Go Meh di sini.

Beragam penampilan ada pada iringan pawai ini, ada liong, barongsai, patung anjing tanah yang melambangkan shio tahun cina saat ini, bahkan ada peserta yang berpenampilan ala hantu Cina. Kami larut dalam lautan manusia yang dengan happy menikmati suguhan yang ada, bahkan kami juga berjalan mengikuti pawai.

Satu hal yang membuat saya salut, pada barisan paling belakang ada dua truk sampah dan 32 petugas kebersihan yang ikut bergerak pelan mengikuti iring-iringan pawai.

Petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kebersihan dan Pertamanan yang dikepalai Bapak H. Rustam Effendi ini bergerak sigap, perperan sebagai tim sapu jagat. Pawai selesai, sampah pun hilang. Keren!

Ritual Cuci Jalan

Ritual Cuci Jalan merupakan bagian dari Parade Tatung, sebuah tradisi tahunan yang memadukan budaya Tionghoa dan Dayak serta rutin digelar di Singkawang.

Ritual ini dilakukan sehari sebelum Parade  Tatung dilaksanakan, sebagai bentuk meminta restu dari para arwah untuk mensucikan jalanan kota dari pengaruh buruk, terutama jalan-jalan yang akan dilalui para Tatung saat acara puncak.

Hal paling ekstrim yang saya alami saat menyaksikan Ritual Cuci Jalan di depan Vihara Tri Dharma Bumi Raya di pusat Kota Singkawang, saya disodori tubuh seekor anak anjing tanpa kepala, dengan darah segar yang terus mengalir, oleh seorang Tatung yang sudah kerasukan. Bau amis darah tercium. Saya jadi kapok? Nggak! Saya tetap berada di sekitar vihara. Buat saya, ini adalah budaya yang menarik untuk diketahui. 

Parade Tatung

Tatung adalah sosok orang yang menjadi media bagi roh leluhur dengan kehidupan di dunia ini. Mereka adalah orang-orang 'pilihan', yang mau tidak mau, tidak dapat mengelak bila telah dipilih oleh para leluhur.

Parade Tatung (2/3) kali ini dibuka oleh Menteri Agama RI, Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin didampingi Walikota Singkawang, Tjhai Chui Mie di Panggung Kehormatan Jalan Diponegoro, ditandai dengan pemukulan Tambur.

Tatung-tatung mulai berjalan melintasi jalan-jalan Kota Singkawang. Penampilan para Tatung ini menarik perhatian karena mengenakan busana dengan warna mencolok dan asesoris berupa senjata tajam yang panjang dan besar. Ekspresi wajah mereka kaku dengan sorot mata nanar atau bahkan tatapan kosong.

Mereka membawa senjata tajam bukan dengan cara dipegang, tapi ditusukkan di pipi atau bibir! Mak jleb, melipir saya melihatnya. Ada asesoris yang memang telah mereka kenakan sebelum pawai dimulai, ada juga yang mengenakannya di lokasi pawai, semacam atraksi. Hebatnya, gak berdarah lho! 

Saya mengambil posisi aman di Jalan Sejahtera, di sebelah kedai Kopi Nikmat, tidak jauh dari Vihara Tri Dharma Bumi Raya. Lokasi ini sangat strategis menurut saya, selain berada di dekat vihara yang menjadi pusat bertemunya para Tatung, jalan ini juga tidak terlalu panas karena dilingkupi ruko-ruko tinggi.

Saat suara azan Sholat Jumat berkumandang, Festival Tatung dihentikan sementara untuk menghormati Umat Muslim menjalan ibadah sholat. Ini yang membuat saya kagum, toleransi antar umat beragama di sini sangat tinggi.

Terciptanya Empat Rekor MURI

Pada Perayaan Cap Go Meh di Singkawang tahun ini, diciptakan empat rekor MURI, yaitu:

Pemasangan 20.607 Lampion dengan lampu menyala di seluruh Kota Singkawang, membuat kota ini berpendar merah di malam hari. Jumlah ini memecahkan rekor tahun 2009 dengan 10.895 lampion.

Sejumlah 1.129 Tatung didaftarkan untuk memecahkan rekor MURI sebelumnya. Pada tahun 2011 MURI juga mencatat ada 777 Tatung yang turut berpartisipasi.

Peserta tahun ini tidak hanya datang dari Indonesia, tapi juga dari Malaysia. Tampak bendera Malaysia di antara bendera-bendera kelompok peserta Tatung yang dibawa saat parade. Bahkan ada Tatung yang masih kecil lho, usianya sekitar 5 tahun.

Santo Yosef Singkawang Group, sebuah kelompok etnis Tionghoa Singkawang, membuat replika 9 naga dengan ukuran besar dan menjadi jumlah naga terbanyak selama perayaan Cap Go Meh di Indonesia. Jumlah 9 sengaja dipilih karena bermakna keberuntungan.

Gerbang Cap Go Meh terbesar di Indonesia. Gerbang sepanjang 16,20 meter dan tinggi 6 meter. Gerbang yang dibuat menggunakan rangka besi ini diharapkan menjadi landmark Kota Singkawang ke depannya.

Menjadi bagian perayaan Cap Go Meh di Singkawang tahun ini membuat saya benar-benar tertawan pesonanya. Gagal move on ini judulnya. Semoga tahun depan bisa ke sini lagi.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED