Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 06 Nov 2018 15:35 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Lebih Dekat dengan Suku Baduy Dalam

Mustiana Lestari
d'travelers
Foto 1 dari 5
Saya dan Sapri (Kanan)
Saya dan Sapri (Kanan)
detikTravel Community - Berkunjung ke kawasan Suku Baduy Dalam menjadi pengalaman menarik. Banyak pelajaran yang bisa di dapat dari suku ini.

Pengalaman ke Baduy Dalam adalah pengalaman yang tak pernah akan saya lupakan seumur hidup saya. Betapa tidak, untuk pertama kali saya merasa berhasil melewati batasan saya, utamanya soal fisik

Untuk masuk ke pusat pemukiman Baduy saya yang ikut open trip harus menempuh perjalanan sekitar 3 jam ke Stasiun Rangkasbitung lalu kita menyewa mobil tanggung dengan asap hitam mengepul. Tapi sebelum perjalanan yang bagai neraka itu, kita mampir dulu di pasar dekat stasiun.

Leader kami menginstruksikan membeli ikan asin, mie instan, sampai beras. Ya, ini memang jadi hadiah untuk warga di sana.

Katanya mereka gemar banget ikan asin. Saat kami sampai, orang-orang Suku Baduy dalam dan luar kompak menyemut di terminal Ciboleger. Sebagian besar mereka memang sudah bertugas menjadi guide tapi sebagian lain berjual macam-macam barang. Mulai dari madu sampai tongkat untuk trekking.

Sebelum trekking kita sempatkan shalat dulu, memohon agar perjalanan lancar. Sempat khawatir karena mendung menggantung dan hari akan hujan, yang saya tahu kalau benar-benar hujan jalan akan licin dan lumayan bahaya kalau trekking. Yang lumayan membuat kaget, kalau mau buang air kecil, wudu, cuci atau mandi ada satu pemandian khusus wanita. Di situ semua dilakukan bersama-sama. Airnya sejuk khas pegunungan.

Setelah berdoa kita pun ramai-ramai masuk ke gerbang “selamat datang di Baduy. Nervous! Pasti, tapi di kanan kiri kami sudah ada Sapri dan kawan-kawan dari Baduy Dalam yang siap jadi guide dan bawain barang.

Sepanjang perjalanan saya sibuk deketin si Sapri. Dibanding orang Baduy Dalam lainnya, Sapri lebih smart dan unik. Jangankan bahasa Indonesia, bahasa Inggris sampai bahasa gaul pun dia gape benar.

Saya pun dibuat takjub, segera saya gunakan kemampuan menghapal saya untuk menyerap semua informasi dari Sapri soal Baduy. Karena saya tidak mau traveling ini cuma traveling biasa, harus ada ilmu yang harus saya bawa ke Jakarta kemudian saya tulis. Beberapa jam kemudian trekking terasa makin berat kami lewati beberapa hambatan, tanjakan, kerikil, lengkap semuanya.

Sampai kadang musti merambat, tersungkur dan sebagainya. Setiap hampir setengah jam sekali kami istirahat. Sampai di satu titik lutut saya benar-benar bergetar sampai tak kuat digerakkan tapi Alhamdulilah kuncinya semangat dan kau pasti bisa melampauinya.

Yang saya salut, ada teman saya asal pulau seberang yang benar-benar kuat dan hebat. Tipe petarung sejati. Langkahnya sigap, nyaris saya lihat tidak ada kelelahan di mukanya. Takjub! Kembali lagi ke Sapri, Sapri membagi ceritanya kalau dia punya niat yang besar buat belajar.

Di sakunya sudah ada buku cara belajar bahasa Inggris. Ternyata rajin jadi guide dan turun gunung jualan madu buat Sapri menyerap pengaruh luar lebih banyak. Tak ayal kemampuan interpersonalnya lebih baik, humoris.

Masuk ke wilayah Baduy Dalam gerimis turun, jalan yang tadinya terang menjadi gelap lantaran pepohonan semakin lebat dan cahaya matahari malu untuk menyelinap di antaranya. Sepatu saya makin tidak bisa diharapkan, alasnya semakin panas dan licin. Segera saja saya lepas sepatu saya, mirip orang Baduy saya pun berjalan bertelanjang kaki.

Kalau mereka bisa masa saya tidak bisa. Eh, keputusan berdasarkan ego terkadang memang salah, tajamnya kerikil pun sudah gemar menusuk kaki. Sempat menjerit tapi akhirnya terbiasa juga. Di belakang saya wanita tambun tampak ngos-ngosan, jalannya pun terpincang-pincang.

Berkali-kali dia mengeluh tidak sanggup lagi meneruskan perjalanan yang tinggal seperempat jalan. Saya bersama beberapa teman memutuskan menemaninya mengobrol sambil berharap dia akan lupa kalau dia mau menyerah.

Dan tada! Kami berhasil, jalan sejak pukul 14.00 kami tiba menjelang magrib. Di dusun yang berhimpitan itu sudah ramai orang. Para pelancong tampaknya memang baru benar-benar sampai. Mana penduduknya ni?tanya saya.

Saya diarahkan ke rumah saudaranya Sapri. Saya lupa apa nama keluarga tempat saya tinggal. Tapi si bapak tinggal dengan istri dan dua anaknya. Satu anak perempuan tanggung dan satu anak laki-laki yang masih kecil. Tubuh saya sudah basah dengan keringat, kaki pun kram. Saya sampai lupa kalau saya belum buang air kecil sedari tadi.

Semua yang berhubungan dengan aktivitas kakus dipusatkan di satu sungai. Ada sungai untuk laki-laki dan perempuan begitu. Hari sudah gelap, semula daerah ini diharamkan memakai alat-alat elektronik, tapi sepertinya senter tidak termasuk. Aneh, dusun ini benar-benar mirip pasar, dibanding penghuni asli Baduy Dalam lebih banyak pengunjungnya.

Saya pun gemas karena fenomena ini membuat Baduy Dalam secara ekosistem sosial rusak. Berbekal senter para wanita sibuk menginstruksikan bagaimana dan dimana mereka harus mandi dan buang air. Tak jarang wisatawan benar-benar membawa berbagai hal yang mencemari sungai.

Hati saya tetiba syahdu saya saya melihat gerombolan kunang-kunang yang saya enggak pernah ketemu sebelumnya. Ini penghilang lelah saya malam itu. Dusun Baduy Dalam ini lebih mirip desa wisata ketimbang desa budaya karena banyaknya pedagang berlalu lalang. Tapi entah kenapa, saya melihat tidak ada rasa kesal terhadap para pendatang ini di mata orang asli Baduy Dalam.

Si pemilik rumah tidur di ruangan dalam. Sementara kami para perempuan tidur berjejer dengan alas tikar. Saya benar terlelap karena kelelahan ditambah betis yang nyut nyutan tak karuan. Sampai suatu ketika saya dibangunkan oleh peserta trip yang ketakutan karena lilin dimatikan, dia panik. Beruntung si bapak sigap menyalakan kembali lilin meski rasanya tidak diperkenankan lilin menyala di waktu malam.

Lagi-lagi tuan rumah dengan senang hati melayani. Suara lolongan anjing membuat saya makin terlelap, meski beberapa kali saya ngedumel kesal karena terdengar suara dering hape di antara jangkrik-jangkrik yang bersuara. Padahal katanya HP tidak etis dihidupkan di sini.  Esok paginya setelah salat subuh kami berjalan-jalan, ditunjukannya rumah keramat yang katanya kalau kita mendekat bisa kena tula.

Tibalah waktu kami harus pamitan, perjalanan pulang berbeda dari track masuk Baduy Dalam. Lebih basah, karena harus melewati beberapa aliran air namun pemandangannya jauh lebih bagus. Perjalanan pulang lebih santai. Kami juga berfoto di jembatan akar.

Lucunya, anak Baduy Dalam dengan lancar minta coca cola karena dia haus saat kami sudah sampai di titik akhir perjalanan. Hah! Ya, semakin banyak mereka mendapat kunjungan semakin tercemar pula mereka dengan pengaruh orang kota.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA