Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 08 Agu 2019 20:00 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Kontes Kecantikan Sapi di Madura

Foto 1 dari 5
Kerapan Sapi Betina di Gili Raja Madura
Kerapan Sapi Betina di Gili Raja Madura
detikTravel Community -

Madura memiliki atraksi budaya karapan sapi jantan yang sering menarik perhatian masyarakat. Apa traveler pernah melihat karapan sapi betina?

Saya pernah melihat beberapa jenis karapan sapi di Madura. Yang umum adalah karapan sapi jantan, dan sapi sonok yaitu, sapi betina tapi tidak dipacu, semacam kontes kecantikan sapi. Dalam perjalanan kali ini, saya akan melihat keunikan karapan sapi di Pulau Gili Raja, Sumenep, Madura.

Perjalanan dari Sumenep ke Pulau Gili Raja ini bisa ditempuh melalui Pelabuhan Cangkareman di Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep. Dari pelabuhan tersebut, saya akan naik perahu motor selama kurang lebih 1 jam. Penyeberangan ini reguler, jadi tak perlu menyewa perahu khusus.

Sesampai di Pelabuhan Gili Raja, saya naik ojek yang sudah siap karena memang kebetulan sudah menghubungi warga di Gili Raja. Tak jauh dari pelabuhan, ada sebuah lapangan yang menjadi arena karapan sapi betina.

Saat saya ke lapangan, puluhan pasang sapi betina sudah siap, lengkap dengan berbagai aksesorisnya. Tidak jauh berbeda dengan karapan sapi jantan. Hanya saja, ada bagian tertentu yang memang tidak sama. Misalnya, bagian tengah di antara 2 sapi. Pada karapan sapi jantan, dua sapi menarik kayu yang terletak di antara dua sapi tempat joki berdiri, sementara pada karapan sapi betina, bagian yang ada di antara dua sapi menyerupai alat bajak sawah.

Menurut warga setempat, karapan sapi betina memang diadakan oleh petani menjelang musim tanam. Alat seperti bajak sawah digunakan untuk membantu menggemburkan tanah sawah. Selain itu karapan sapi betina ini biasanya memang diadakan di lahan-lahan petani yang akan ditanami.

Setelah semua sapi siap, aksesoris karapan dilepas agar tak mengganggu pergerakan sapi. Semua sapi digiring ke arah arena pacuan. Semua yang akan mengikuti karapan diarak mengelilingi lapangan diiringi musik tradisional 'saronen'. Baru kemudian sapi-sapi tersebut dikarap atau diadu kecepatannya.

Saat dipacu inilah terlihat sekali perbedaannya dengan kerapan sapi jantan dan betina. Pada karapan sapi betina joki tidak berdiri diantara 2 sapi. Joki justru ikut berlari di belakang sapi sambil memegang kendali. Sapi juga tidak diolesi macam-macam seperti pada kerapan sapi jantan.

Alat pemacunya juga hanya berupa pecut kecil. Sangat beda pastinya dengan karapan sapi jantan yang hampir seluruh bagian tubuh sapi diolesi berbagai ramuan yang panas dan pedas. Pemacunya pun alat yang bisa melukai sapi jantan.

Saya sendiri sering gak tega kalau melihat kerapan sapi jantan. Tapi kalau sapi betina, tidak terlalu mengganggu, karena sapi berlari dengan lebih natural dan tidak ada luka sedikitpun di tubuh sapi. Setelah semua sapi mengikuti karapan, sapi langsung digiring pulang oleh masing-masing pemiliknya. Dan acara karapan pun selesai.

Sebelum ke pelabuhan Gili Raja, saya hanya menyempatkan membeli makanan khas Gili Raja yang dijual pedagang di sekitar arena kerapan. Saya pun bergegas ke pelabuhan untuk segera kembali ke Sumenep. Tak berani lebih lama di pulau Gili Raja karena khawatir air laut surut. Kalau air laut surut, akan sulit untuk naik ke perahu. Bisa-bisa kita harus terjun ke laut yang dangkal sebelum naik ke perahu.

Kejadian ini nyaris terjadi saat tiba di Pelabuhan Cangkareman Bluto, saya dan rombongan harus berpindah dari perahu besar ke perahu kecil yang hanya muat untuk 10 orang. Beruntung hanya sekitar 50 meter saja, bila terlambat, perahu kecil pun tak bisa merapat ke dermaga. Jadi penumpang harus terjun ke laut. Meskipun dangkal, tapi tetap basah semua.

Karapan sapi betina ini sebenarnya diadakan rutin secara bergilir oleh grup pemilik karapan dari 4 desa di Gili Raja. Tapi, acara yang paling meriah dan besar saat peringatan perkumpulan grup pemilik karapan diadakan setahun sekali. Seperti yang saya lihat, diadakan di musim kemarau antara Bulan September-Oktober. Yuk agendakan melihat karapan sapi betina yang unik ini.

Tulisan extraordinary traveling ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi menulis yang berhadiah perjalanan ke Dubai. Saya memang sangat ingin ke Dubai karena kota itu memiliki berbagai destinasi yang unik juga sangat memperhatikan keperluan traveler muslim.

Selama ini yang saya tahu, Dubai menjadi tempat transit penerbangan internasional saja. Padahal ada banyak destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Misalnya wisata gurun pasir, Miracle Garden, aneka taman wisata dan museum, wisata belanja dan kuliner dan Burj Khalifa menjadi destiansi yang wajib didatangi saat ke Dubai. Semoga terwujud ya.



BERITA TERKAIT
BACA JUGA