Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 30 Mar 2020 15:35 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Phi Phi Island Thailand Memang Mendebarkan Hati

Nunik Utami
d'travelers
Foto 1 dari 5
Tebing di Phi Phi Island
Tebing di Phi Phi Island
detikTravel Community -

Ini kisah traveling saya yang lumayan bikin terkaget-kaget. Ketika diajak ke Phuket, Thailand, saya belum terlalu antusias karena belum kelihatan bisa cuti atau nggaknya.

Dua teman saya, langsung beli tiket karena sedang ada promo. Mendekati hari H dan beres mengajukan cuti, barulah saya cari tiket ke Phuket. Sudah nggak ada promo lagi sih, tapi nggak apa-apa. Yang penting main saja di Bali-nya Thailand itu.

Salah satu itinerary yang dibuat oleh kedua teman saya adalah main ke Phi Phi Island, lokasi akting Leonardo DiCaprio di film The Beach. Pulau ini dengan Pantai Maya-nya juga pernah menjadi lokasi syuting film James Bond. Saya yang tanpa ekspektasi apa pun selain ingin main di pantai milik Thailand ini, santai saja ikutan jadwal yang sudah disusun.

Saya dan teman-teman transit dahulu di Kuala Lumpur dan menginap satu malam. Paginya, langsung lanjut ke Phuket. Begitu menjejakkan kaki di Phuket, saya langsung terkesan dengan keramahan orang-orang Thailand.

Ini kali kedua saya main ke Negeri Gajah Putih ini. Namun, terasa beda banget suasananya. Lebih ceria, lebih semangat, dan orang-orangnya lebih ramah. Mungkin karena Phuket adalah pulau tujuan wisata dan bukan untuk bekerja.

Salah satu teman sudah booking perjalanan keliling Phi Phi Island dengan naik boat. Jadi, pagi-pagi kami dijemput untuk menuju dermaga.

Di sini sudah banyak orang yang juga ikut rombongan. Pesertanya sangat banyak dan tentu saja harus ditempatkan pada beberapa kapal.

Saat memasuki area, semua peserta diberi pita dengan warna tertentu. Pemandu wisatanya menggunakan pita di bagian dada dan lengan. Peserta harus mengikuti pemandu wisata yang pitanya berwarna sama.

Saya mengikuti pemandu wisata laki-laki berambut lurus hitam panjang. Laki-laki cantik, menurut saya.

Tibalah saatnya saya dan dua teman naik ke kapal. Kapal bermesin ini pun membawa kami ke tengah laut.

Dalam satu kapal ada sekitar dua puluh penumpang. Sepanjang jalan, kami boleh memberi makan ikan. Ada satu penumpang yang sengaja menyediakan setumpuk roti tawar untuk dilempar ke laut sebagai makanan ikan.

Saat roti terlempar ke udara kemudian mendarat di laut, beberapa ikat tampak lompat menyambutnya. Ini menjadi pemandangan yang seru bagi saya.

Saya yang sebenarnya takut pada kedalaman air laut, mulai deg-degan. Saya nggak berani melongok ke laut karena sejauh mata memandang, yang tampak hanya air.

Kapal kecil ini pun bergerak lincah, menciptakan gelombang air laut yang tertinggal di belakang kapal. Dari sini, saya naluri saya mulai berpikir agar lebih hati-hati. Sudah gitu, saya berada di tengah samudra. Hal-hal aneh bisa saja terjadi tanpa peringatan.

Agak ke tengah, pemandangan berganti. Kali ini berupa tebing-tebing hijau yang sangat cantik. Pemandangan yang biasanya hanya tampak di adegan film, kali ini nyata di depan mata.

Semakin menakjubkan. Semua peserta trip berdecak kagum. Kapal pun berjalan lebih lambat. Sang nakhoda sengaja memperlambat kapal agar para peserta bisa menikmati pemandangan lebih lama juga agar leluasa berfoto-foto dari atas kapal.

Pada sebuah titik di atas laut, kapal berhenti. Seluruh penumpang diperbolehkan turun ke air untuk snorkeling. Saya ikut-ikutan.

Inilah saatnya. Saya yang hanya sebagai penikmat pemandangan laut, seharusnya tidak ikut-ikutan turun untuk mencoba snorkeling. Terlebih, saya yang bisa berenang tapi sering panik kalau kaki saya tidak bisa mencapai dasar.

Begitu turun, benar saja. Saya kesulitan mengambang karena sudah panik duluan kaki saya tidak bisa menjejak dasar laut. Ya iyalah, ini laut, bukan kolam renang. Seberapa pun dangkalnya, nggak mungkin orang snorkeling di tempat yang dangkal sampai bisa menjejakkan kaki di dasarnya.

Mulailah saya merasa aneh. Saya melihat sekeliling, tidak tampak pantai. Saya mengedarkan pandangan ke arah lain, kapal yang tadi mengangkut kami perlahan menjauh. Hanya sementara, sambil menunggu para peserta selesai main di air, tapi saya semakin panik. Apalagi orang-orang juga berpencar, yang membuat saya merasa sendirian di tengah laut.

Dua teman saya masih dekat jaraknya dengan saya. Mereka bersenang-senang dan tampak menikmati snorkeling-nya. Lalu, salah satu teman memberikan ponselnya pada saya. Ponsel itu sudah dilapisi plastik khusus agar ponsel aman tidak terkena air.

"Fotoin ya," kata dia sambil menjauh agar mendapatkan pemandangan yang pas.

Begitu dia menjauh, saya merasa panik lagi. Lelah mencari-cari pijakan kaki, ditambah orang-orang yang jaraknya semakin jauh, membuat saya semakin merasa tenggelam di laut.

Teman itu kemudian melambai-lambaikan tangannya. Saya menangkapnya sebagai lempar sini ponselnya! Tapi ternyata maksud teman saya adalah, "Ayo fotoin!"

Saya masih sadar, tidak halu, apalagi pingsan, tapi sudah tidak bisa berpikir jernih lagi karena merasa sedang dalam bahaya tenggelam. Akhirnya, saya bermaksud memenuhi permintaan si teman, yaitu melempar ponsel itu ke arahnya.

Saya benar-benar melempar ponsel itu! Sedetik kemudian, saya menyadari, ini di laut! Segala sesuatu yang dilempar di laut, sudah pasti langsung tenggelam atau terbawa ombak dan hilang! Ya ampun! Itu ponsel orang!

Saya terkejut. Si teman, apalagi. Lalu, si teman menghampiri orang-orang yang masih bisa dijangkau, untuk meminta bantuan mencari ponsel itu. Beberapa orang mendekat dan mencoba melongok ke dalam air untuk menemukannya. Ternyata, gagal.

Saya semakin panik. Akhirnya, saya minta tolong untuk ditarik ke kapal. Teman saya juga minta tolong kepala rombongan untuk mencari cara agar ponsel itu ditemukan. Beberapa menit menunggu, ternyata tidak berhasil juga.

"Sori," kata kepala rombongan, yang disusul dengan perasaan saya yang hancur lebur. Terbayang sudah sepulang dari liburan ini saya membongkar tabungan untuk mengganti ponsel keluaran terbaru dengan harga yang terbilang tinggi itu.

Saya mulai mengikhlaskan. Saya pun bersiap mental untuk mengganti ponsel itu. Akhirnya, kami melanjutkan trip. Kapal baru berjalan beberapa menit, tiba-tiba ada seorang pemuda lokal yang berteriak pada kami, dari kapal lain. Dia melambai-lambaikan sesuatu.

Deg! Itu ponsel yang saya lempar! Alhamdulillah, ponsel itu ketemu!

Akhirnya saya berinisiatif memberikan tip sebesar 1.000 baht sebagai tanda terima kasih. Pemuda itu pun bersorak-sorak. Dia terus menerus memamerkan selembar uang itu ke udara, dengan dua tangannya. Saya sangat bersyukur dan sudah bisa tersenyum lagi melihat tingkah lucu pemuda yang kegirangan itu.



BERITA TERKAIT
BACA JUGA