Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 10 Mar 2020 11:34 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Kisah Pendakian Gunung Guntur & Pelajaran dari Pemuda Palestina

Sekar Ayu
d'travelers
Foto 1 dari 5
bersama kawan satu tim yang solid
bersama kawan satu tim yang solid
detikTravel Community -

Sedikit inspirasi dari Sarha, pemuda Palestina yang pantang menyerah, bisa traveler jadikan referensi saat mendaki Gunung Guntur dengan ketinggian 2.249 MDPL.

Bagi setiap pendaki, untuk sampai ke puncak, mereka pasti punya tim yang pasti bikin dia kuat. Mencoba bertahan dari napas yang tinggal satu dua (ngos-ngosan), supaya bisa menikmati yang lebih indah di atas sana.

Dari penulis favorit saya, yakni Sinta Yudisia, saya dapat satu ilmu baru tentang buku 'Walk on the Vanishing Land' karya Raja Shehadeh.

Dia bercerita tentang kebiasaan yang ditanamkan orang-orang Palestina pada para pemudanya. Melalui ia, kita akan belajar mengenal rupa seorang petarung sejati yang mendewasa bersama alam.

Sarha


Sarha adalah pengembaraan seorang diri, menelusuri padang pasir dan jalan-jalan bebatuan untuk berkunjung ke rumah salah seorang kerabat, yaitu kakek, nenek, paman, bibi atau seorang kenalan dari keluarga. Bukan destinasi yang menjadi patokan, tapi peristiwa penuh hikmah yang dirangkum sepanjang perjalanan.

Bukan perkara mudah melintasi padang pasir. Ia merupakan sebuah perjalanan berbahaya menghadapi ular, kalajengking, badai pasir, dinginnya malam, terik siang yang membakar.

Selain ketrampilan teknis yang dibutuhkan untuk survival, Sarha membantu para pengembara mengamati apa yang selama ini terlewat dari indera. Suara angin, butir-butir pasir yang beterbangan, gerakan binatang melata, gesekan kaki, jejak yang tertinggal di padang.

Belajar menangkap gerakan alam yang paling halus, berarti belajar mendengarkan apa yang mungkin terlewatkan.

Barangkali seperti inilah para pendaki harus belajar pada setiap fase menuju puncak. Masing-masing dari kita perlu menantang, sejauh mana bisa berbuat untuk orang lain, di saat diri sendiri juga kesulitan. Pada kehidupan sehari-hari, bukankah begini yang Rasulullah tauladankan?

Kalau pemuda Sarha berjalan sendirian di padang pasir, maka para pendaki berjalan bersama dan harus belajar untuk berhenti bicara tentang aku, tapi kita. Tidak terus-menerus menunjukkan siapa saya, tapi inilah kami.

Semakin ke puncak, maka cara pandang bisa semakin meluas, sejalan dengan luasnya satu bagian bumi yang dilihat dari atas. Tidak buru-buru mengkerdilkan suatu perkara, tidak tergesa-gesa menyimpulkan kelalaian. Semakin mendaki ke ketinggian, semakin bungkuk berjalan, semakin mawas, semakin sulit bila hendak jumawa. Bukankah hebat sekali hidup para pendaki ini?

Satu Puncak, Satu Coretan


Beruntung, Sarha tak pernah meloloskan para pelakunya dengan begitu mudah. Perjalanan tanpa kendaraan itu dihabiskan selama berminggu-minggu, bahkan bisa berbulan-bulan.

Ketika pertama berangkat, para pengembara hanyalah sosok kurus, ceking, lemah, tak dilirik sama sekali, maka Sarha akan mengubahnya di kemudian hari menjadi sosok yang tak akan pernah lagi sama dengan sebelumnya: tubuh kekar, berotot, kuat, garis wajah keras.

Lantas bagaimana dengan jiwa para alumnus Sarha?


Para pengembara hasil didikan Sarha tak akan mudah goyah pendiriannya. Mereka akan selalu siap bertempur bahkan ketika sedang nyenyak tertidur. Mereka akan berdiri dengan cara pandang luas, sikap yang bijak, dan hati yang demikian lapang.

Artinya, dalam satu kali perjalanan panjang dan melelahkan, para pemuda Sarha berhasil mencoret tidak hanya satu misi, tapi belasan, mungkin juga puluhan. Sebab setibanya di rumah kerabat, mereka sudah dalam keadaan yang jauh berbeda.

Ditambah sekembalinya ke rumah sendiri, mereka akan berubah total. Ya fisik, ya akal, ya cara berpikir, ya prinsip hidup. Semuanya perlahan menjadi matang.

Apakah para pendaki bisa menyejajarkan kondisi diri dengan para pemuda Sarha?

Saya rasa sangat bisa. Caranya sederhana: tengok tujuan dari setiap perjalanan. Karena apa yang dituju, adalah apa yang didapatkan. Kalau ingin mencoret banyak misi, maka siapkan narasi besar dalam hidup, desain setiap perjalanan dengan tujuan yang kokoh, sabar dalam prosesnya, doa tanpa jeda, dan.. just do it!

Malam pertama di pos 3 lereng guntur, saya berhasil membuat 10 resolusi prioritas tahun 2016, yang sebelumnya selalu tertunda dibuat. Lalu saya sebut dalam hati, jika Allah mengizinkan, semoga saya bisa mencoret setiap resolusi itu di puncak gunung, kemudian menambah yang baru lagi, dalam posisi sama: on the top. Insyaa Allah

Kalau nanti naik gunung lagi dalam waktu dekat, 1 bulan kemudian misalnya, maka saya akan semakin termotivasi untuk segera menyelesaikan daftar resolusi itu, sebelum sampai ke lokasi pendakian. Sebab di puncaknya nanti, saya harus mencoret satu resolusi yang sudah terlaksana.

Sebab mendaki perlu kaki dan pundak yang kokoh, maka saya ingin terus membersamai tim kecil ini sampai di kemudian hari, kami punya kabar bahagia, bahwa sekembalinya dari pendakian, kami juga punya tekad dan kesiapan lebih untuk mengokohkan keimanan.

Jadi, kapan kita nanjak lagi?

BERITA TERKAIT
BACA JUGA