Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 07 Sep 2019 18:15 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pesona Myanmar, Negeri Seribu Pagoda

Lulu Handayani
d'travelers
Foto 1 dari 5
Pagoda di Myanmar
Pagoda di Myanmar
detikTravel Community - Myanmar sering luput dari perhatian traveler. Padahal Negeri Seribu Pagoda ini punya banyak pesona.

Myanmar mungkin sedikit jarang kita temukan di blog-blog atau vlog travelling kekinian. Mengingat negara ini tidak begitu unggul di bidang pariwisata seperti tetangganya Thailand. Awalnya pun saya ragu Myanmar akan menjadi negara yang meninggalkan impresi mendalam bagi saya, yah hitung-hitung pemenuhan target kunjungan negara ASEAN saya, mengingat baru 3 negara di Asean yang pernah saya kunjungi. Namun percayalah Bagan dan teman-temannya akan membuat Anda tak mampu berkata-kata.

Tak terpikirkan pula bahwa telapak kaki saya akan menjadi sehalus ini. Ya, telapak kaki saya perlahan terkikis lantai marmer dan batu dari Pagoda yang tak terhitung jumlahnya. Sedikit menyakitkan, tapi saya anggap sebagai harga dari suatu pengalaman. Tiap saya merasakan sakit di telapak saya, di situ pula saya mengingat keindahan Negeri Seribu Pagoda tersebut.

Tiga kota saya kunjungi selama lima hari menetap di Myanmar, Yangon-Bagan-Mandalay. Tiga kota tersebut merupakan destinasi favorit bagi wisatawan-wisatawan mancanegara bersamaan dengan Danau Inle yang sayangnya belum sempat kami kunjungi. Rute berbukit-bukit dan lamanya waktu tempuh mengurungkan niat saya dan rekan-rekan saya. Padahal kami sangat ingin menyaksikan cara nelayan tradisional Inle mengoperasikan perahu mereka menggunakan kaki, unik dan menakjubkan, dengan lihainya mereka menggerakan perahu menggunakan dayung yang dikendalikan oleh kaki.

Saya dan rekan-rekan mendarat di Yangon kira-kira pukul 10 pagi. Setelah menyelesaikan urusan administrasi masuk dan kebutuhan-kebutuhan lainnya, kami berkeliling Kota Yangon menggunakan taksi. Jangan salah, taksi kami ini merupakan taksi harian, per delapan jam kira-kira menghabiskan Rp 300 ribuan. Lumayan menguntungkan bagi kami untuk beradaptasi di kota asing ini. Hari pertama sebagian besar kami habiskan berkeliling menggunakan taksi saja tanpa turun mengunjungi objek wisata, rencana kami hari kelima baru akan mengeksplorasi kota Yangon.

Alih-alih menginap di Yangon, menjelang pukul 8 malam taksi kami mengantarkan kami ke terminal bus. Yap! Kami akan bermalam di bus malam menuju destinasi kami selanjutnya, Bagan. Menyenangkan sekali bukan? Tidur di kendaraan adalah hal yang sangat menyenangkan bagi saya, entah kenapa saya selalu bisa tidur dengan nyenyak.  Karena itu, momen-momen dimana kami bermalam di bus sangatlah menenangkan dan ingin selalu saya ulangi. Harga bus eksekutif dari Yangon ke bagan sekitar 180 ribu rupiah. Kami memesannya jauh-jauh hari menggunakan aplikasi. Apabila kehabisan bus eksekutif, tak perlu risau, karena bus malam ekonomi di Myanmar sudah cukup nyaman untuk perjalanan panjang.

Sepanjang perjalanan saya menyaksikan pemandangan alam dan kehidupan masyarakat lokal. Tidak jauh berbeda saya rasa kondisi masyarakat Myanmar dengan sebagian besar masyarakat Indonesia, sebagian besar masih hidup dengan sederhana. Hampir 70% masyarakat Myanmar berprofesi sebagai Biksu/Biksuni. Biksu tidak boleh bekerja untuk menghasilkan uang, itulah mengapa mereka mengandalkan sumbangan-sumbangan warga sekitar. Mungkin itulah penyebab pendapatan perkapita Myanmar masih rendah. Batin saya sok tahu. Kami selalu disambut ramah oleh para biksu disini.

Pagi hari sekitar pukul 04.30 kami sampai di Bagan. Kota Bagan terbagi menjadi Old Bagan dan New bagan. Kota Bagan merupakan kawasan budaya yang dilindungi oleh pemerintah. Terdapat ribuan pagoda dalam kawasan yang dilindungi pemerintah ini. Untuk tiket masuk Old Bagan, saya lupa tepatnya, namun kita dikenai biaya cukup mahal dari perkiraan kami untuk 5-day-pass tiket. Bila kita beruntung, kita dapat menyaksikan sunrise yang dipadukan dengan balon-balon udara di sekeliling kota Bagan. Sayangnya percobaan pencarian sunrise dan sunset yang digadang-gadang sebagai yang terbaik di dunia gagal. Dua hari kami di Bagan mendung.

Di Bagan kami bertemu banyak anak kecil menjual hasil karya mereka. Sampai sekarang masih tersimpan rapi postcard yang saya beli dari anak-anak ini, harganya pun murah, 1.000 kyat untuk 10 postcard. Kebanyakan masyarakat Myanmar menggunakan bedak dingin (thanaka) di pipi mereka. Bedak thanaka dipercaya mempunyai khasiat yang bagus untuk kecantikan. Ini foto saya bersama mereka. Lucu bukan?

Walaupun gagal melihat sunset di Bagan, kami bertemu banyak orang baik di sini. Penginapan yang sangat bagus dengan harga murah, dan ketenangan yang menyenangkan di Bagan. Saya pastikan akan kembali ke kota ini, untuk bulan madu mungkin? Membayangkanya saja sudah indah, bersepeda mengelilingi kota tua Bagan, sambil menyaksikan sunset dari antara pagoda-pagoda tua disini.

Belum puas kami di sini, kami sudah harus melanjutkan perjalanan ke kota Mandalay. Kota ini merupakan kota terbesar kedua setelah Yangon. Perjalanan di kota ini masih sama, seputar pagoda, namun yang tidak kalah menarik dari kota ini adalah adanya kerajaan yang disebut sebagai kerajaan terakhir di Myanmar, kami tidak sempat memasuki kerajaan karena keterbatasan waktu dan mahalnya harga tiket. Namun kami tidak lupa mengabadikan momen kami di depan gerbang kerajaan. Kerajaan ini dikelilingi oleh sungai buatan yang dulunya digunakan untuk melindungi komplek kerajaan didalamnya.

Rasanya tak lengkap berlibur tanpa mencoba pakaian adat lokal. Saya pun membeli Kain panjang sejenis sarung (Long Yi) yang kerap kali digunakan oleh masyarakat sekitar. Alhasil foto-foto saya menjadi lebih kental dengan budaya Myanmar, indah bukan.

Di Mandalay banyak sekali tempat indah yang saya kunjungi, Salah satunya adalah Hsinbyume pagoda. Seluruh bagunan pagoda berwarna putih bersih dan terdapat ornamen emas di puncaknya. Jangan sampai melewatkan pagoda satu ini apabila Anda berkunjung ke Mandalay.

Tidak lupa pula kami mengunjungi jembatan legendaris Amartapura untuk menyaksikan sunset di Mandalay. Jembatan ini dibangun menggunakan rangka kayu yang ditanam diatas sungai. Yang membuat unik adalah, jembatan dibangun tanpa tangan atau pinggiran untuk para warga dan wisatawan berpegangan. Bagian bawah jembatan pun hanya dipaku seadanya dengan renggang, sehingga kami bisa melihat sungai di bawahnya melalui celah-celah kayu, mengerikan sekali bukan.

Selama melewati jembatan ini saya hanya bisa berdoa agar tidak roboh, mengingat saya berdiri di atasnya bersama ribuan wisatawan lainya yang juga sedang mengejar senja. Setelah sukses melewati jembatan Amartapura, kami disuguhkan pemandangan sunset yang menyelip diantara rangka jembatan. Sudah banyak wisatawan yang memenuhi spot untuk mendapatkan pemandangan terbaik. Sebelum kami meninggalkan Mandalay, ada hal menarik terjadi sebelum berpisah dengan supir taksi yang telah mengantarkan kami selama dua hari di kota ini. Berat sekali rasanya hati kami berpisah dengan Do Gyi (Soleh). Walau dengan bahasa Inggris yang sama-sama minim, kami bisa tetap bersenda gurau selama perjalanan. Kami juga saling mengajarkan bahasa masing-masing seperti Aku cinta kamu, selamat pagi dan sebagainya. Musik dangdut di Myanmar rupanya lumayan terkenal, terbukti Do Gyi bisa menggumamkan lagu Cita Citata dan Via Valen, lucu sekali bukan. Baru pertama kali saya meneteskan air mata ketika berpisah dengan orang asing. Mungkin karena usia kami yang tidak terpaut jauh kami dapat dengan mudahnya menjadi akrab. Sampai bertemu lagi Do Gyi.

Bicara mengenai Kuliner di Myanmar, berikut beberapa santapan yang saya rekomendasikan untuk dicoba. Semua makanan ini enak dan cocok di lidah saya. Tidak cukup banyak makanan yang kami coba di Myanmar. Apabila anda membeli teh di Myanmar, anda akan disuguhkan teh yang sudah dicampur susu atau disebut lapheye (lafeye). Teh disajikan di gelas kecil berwarna putih. Rasanya jangan diragukan lagi, harum dan enak. Aromanya harumnya sedikit berbeda dari teh susu khas Thailand, saya lebih menyukai aroma teh susu Myanmar ini. Jangan lupa untuk mencicipi mie ayam khas Myanmar atau disebut Shan Noodle, salad daun teh dan Roti (sejenis roti canai yang disajikan dengan teh lapheye).

Kota terakhir yang kami jelajahi sebelum meninggalkan Myanmar adalah Yangon. Salah satu tempat yang meninggalkan impresi mendalam bagi saya adalah kawasan Shwedagon Pagoda! Tempat ini sungguh menakjubkan. Letaknya diatas bukit Singutara, kita dapat menggunakan eskalator untuk mencapai puncak bukit. Bangunan utamanya adalah Pagoda Shwedagon yang berlapis emas setinggi kurang lebih 100 meter dan berusia 2500 tahun. Sekeliling pagoda ini dipenuhi banyak kuil dan pagoda kecil yang tak terhitung jumlahnya. Saya melihatnya seperti sebuah kota yang berisikan pagoda. Saya hanya mampu berdecak kagum memikirkan bagiamana bangunan-bangunan sebanyak itu dibangun. Jangan melewatkan tempat ini apabila anda berkunjung ke Yangon. Di sekitara kuli juga tersedia banyak toko yang menjual suvenir, bunga, atau perlengkapan beribadah apabila anda memerlukannya. Sayangnya waktu kami berkunjung, sebagian besar wilayah Shwedagon sedang direnovasi.

Mengingat Myanmar belum lama membuka diri kepada dunia luar, berlibur ke negara ini sangatlah wajib dilakukan. Masih banyak tempat yang bisa kita semua jelajahi dengan keindahan yang masih utuh belum ternodai budaya luar. Namun tentunya kita harus selalu menjunjung tinggi adat dimana kita menginjakkan kaki. Menghormati budaya dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang masyarakat sekitar. Perjalanan kita dijamin akan menjadi semakin indah dan tenang. Mengingat kebanyakan lokasi wisata adalah tempat ibadah bagi masyarakat sekitar, kita harus benar-benar berhati-hati dalam bertindak, berpakaian, dan bertutur kata.

Akan terlalu panjang rasanya apabila saya menceritakan setiap detil yang terjadi, yang jelas, saya merasakan healing yang luar biasa usai pulang dari Myanmar. Entah mungkin dari kawan seperjalanan saya, orang-orang yang saya temui di sana atau keindahan dan ketenangan yang ditawarkan oleh Myanmar. Itulah tadi Extraordinary travel yang saya alami, tiap negara tentunya meninggalkan impresi berbeda-beda dan juga menawarkan pengalaman yang tidak terlupakan. Masih banyak pengalaman yang belum saya miliki untuk bisa membandingkannya dengan negara lain, yang jelas saya akan terus menjelajah hingga seluruh negeri menjadi tempat saya belajar dan tempat saya mengisi daya di kala lelah dengan hiruk-pikuk ibukota. Entah mengapa ada perasaan unik tiap kali saya menginjakkan kaki ke negara berbeda, perasaan unik yang menggambarkan tanah air saya, cara hidup saya, cara saya melihat orang lain dan cara saya melihat hidup. Saya harap extraordinary travel saya selanjutnya adalah Dubai.

Mengapa saya ingin mengunjungi Dubai?

Dubai Akan menjadi pengalaman travelling pertama saya di Timur Tengah. Saya selalu takjub bagaimana Dubai bisa beralih dari perekonomian yang mengandalkan sumber daya alam minyak bumi, manjadi unggul di sektor teknologi dan inovasi. Sebagai seorang pegawai negeri hal ini membuat saya penasaran dan ingin belajar langsung ke sana. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam dan pariwisata, saya yakin kita bisa belajar dari Dubai untuk bisa mengelolanya dengan lebih baik lagi.

Pesona keindahan Dubai sudah saya dengar sejak kecil. Paman saya punya pengalaman bekerja di sebuah hotel di Dubai, cerita akan keindahanya selalu memikat hati saya. Pun melihat keindahan Dubai dari variety show dan film-film korea yang menjadi konsumsi sehari-hari saya membuat keinginan saya untuk bisa ke Dubai semakin menjadi-jadi.

Lantas apa saja hal-hal yang ingin saya lakukan selama di dubai? Berikut adalah 5 hal yang sangat ingin saya lakukan ketika berada di Dubai.

Pertama, mengunjungi padang pasir (desert safari), salah satu impian saya selain mengunjungi kutub untuk menyaksikan aurora adalah mengunjungi padang pasir. Melihat keajaiban dunia alami melalui mata kepala saya sendiri. Saya ingin berfoto menaiki unta dan menggunakan pernak Pernik khas Emirat Arab.

Kedua, Makan malam di Puncak Burj Khalifa! Gedung ini begitu populer di dunia. Saya ingin menyaksikan kemegahan gedung tertiggi di dunia ini sambil menyantap makan malam dan menyaksikan sunset. Tentunya akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi saya.

Ketiga, Melihat kota dubai melalui Helikopter tur! Dubai terkenal dengan keunggulan wisata kelas atas dan rancangan bangunan pencakar langit yang modern, apabila diberi kesempatan, saya ingin mencoba menaiki helicopter sekaligus berkeliling melihat pemandangan kota Dubai tersebut.

Keempat, mengunjungi dan berinteraksi dengan warga lokal. Melihat dan mempelajari kehidupan warga lokal adalah catatan wajib dalam setiap perjalanan saya. Saya ingin sekali mempelajari kehidupan masyarakat lokal ditengah majunya perkembanggan Dubai.

Kelima, mencoba restoran Al Mahara di Burj Al Arab Hotel, kabarnya untuk masuk ke dalamnya harus melewati terowongan bawah laut.

Saya selalu memimpikan untuk bisa pergi ke Dubai, namun belum cukup nyali saya untuk menjelajah Dubai dengan cara yang saya lakukan untuk menjelajah Asia Tenggara dan Asia Timur. Mengingat Dubai adalah negara yang sangat maju, banyak pertanyaan muncul di benak saya, apakah akan ada akomodasi, transportasi, serta tempat wisata yang aman di kantong traveller. Oleh karena itu saya merasa harus memiliki perencanaan yang benar-benar matang.

Kesempatan yang diberikan DetikTravel dan Dubai Tourism Board ini membuka jalan saya untuk dapat mewujudkan impian saya berkunjung ke Dubai sekaligus mencoba destinasi-destinasi unik di Dubai yang selama ini hanya mampu saya saksikan di Internet. Semoga saya bisa menjadi salah satu peserta yang beruntung untuk bisa memperoleh kesempatan ini. Saya akan dengan senang hati mempromosikan pariwisata Dubai dan membuat vlog perjalanan saya untuk memperkenalkan Dubai dan segala keindahannya kepada masyarakat Indonesia.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA