Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 24 Agu 2019 15:33 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Melihat Langsung Piramida di Sudan

Faiz Alamsyah
d'travelers
Foto 1 dari 5
Pyramids of Meroe, Sudan
Pyramids of Meroe, Sudan
detikTravel Community - Pengalaman melihat langsung Pyramids of Meroe di Sudan, Afrika tak akan terlupakan. Sungguh, peninggalan sejarah yang mendunia ini membuat kagum!

Selama ini, kata Piramida sangat identik dengan Mesir. Mungkin saja kita hanya mengetahui Piramida hanya ada di Mesir. Namun berdasarkan fakta, ternyata Piramida juga ada di Sudan.

Jumlahnya pun lebih banyak. Hingga akhirnya, menjadi suatu hal wajib bagi orang Indonesia untuk mengunjungi Piramida Meroe ketika sedang berada di Sudan.

Piramida Meroe terletak di Kota Shendi, salah satu kota di Sudan. Jaraknya sekitar 250 kilometer dari ibu kota Sudan, Khartoum.

Kami merencanakan perjalanan ke sana. Perjalanan ke Piramida Meroe membutuhkan waktu kisaran tiga jam dari tempat kami tinggal. Mayoritas orang Indonesia pergi ke sana sejak pagi buta, agar sampai di sana sekitar jam 10. Sebelum puncak panasnya matahari, mereka kembali ke Khartoum.

Tapi kami ingin mencoba perjalanan ke sana di waktu yang berbeda. Rencana kami adalah berangkat setelah waktu zuhur (sekitar jam 2 siang waktu Sudan). Dengan waktu tempuh biasanya, kami bisa tiba di sana saat sore hari, dan menikmati sunset di padang sahara. Setelah hari mulai gelap, kami kembali ke tempat tinggal kami.

Untuk memuluskan rencana perjalanan itu, kami memulai perjalanan saat pukul dua siang, tepat setelah waktu zuhur di Sudan. Total rombongan mencapai 15 orang, dengan dua di antaranya adalah warga Sudan yang menjadi supir dan teman sang supir.

Sepanjang perjalanan, jalanan dihiasi oleh gurun. Tidak ada bangunan sepanjang jalan, hanya ada dataran pasir dan bukit-bukit bebatuan yang turut menghiasi panasnya Sudan di siang itu.

Selama perjalanan, kami tentunya berharap semua berjalan sesuai rencana. Namun sayangnya, jalan di Sudan tidak ada yang lurus. Rencana hanyalah rencana. Banyak hal di luar dugaan terjadi.

Hangatnya Sudan dan aspal jalanan Sudan merupakan kombinasi hebat. Kombinasi mereka membuat dua ban mobil yang kami tumpangi bermasalah.

Permasalahan ban mobil baru selesai ketika hari sudah menjelang gelap. Sedangkan jarak kami menuju piramida masih sangat jauh, membutuhkan waktu tempuh sekitar satu jam.

Kami dilanda kebingungan. Apa artinya jika sampai sana di malam hari? Tak ada apapun yang bisa dilihat ketika hari sudah gelap. Menempuh jalan pulang juga dirasa rasanya berat, karena kami sudah menempuh perjalanan sejauh 200 kilometer.

Apakah perjalanan harus selesai dan kami kembali pulang? Demi sebuah pengalaman baru, kami tetap melanjutkan perjalanan.

Selama perjalanan, ada dua pos pemeriksaan. Karena kami merupakan orang asing, kami harus menunjukkan identitas kami, agar petugas pemeriksa tau bahwa kami bukanlah warga yang keberadaannya illegal. Sialnya, ada tiga orang dari kami yang tidak membawa paspor. Paspor mereka ditahan oleh pihak kampus. Kejadian itu membuat kami harus melapor ke kepolisian setempat, jika ingin melanjutkan perjalanan. Pihak kepolisian tidak ingin kecolongan dengan masuknya orang yang tidak baik ke daerah mereka.

Itu merupakan proses lapor pertama yang harus kami lakukan. Aku dan satu temanku menjadi orang yang diminta keterangannya oleh pihak kepolisian. Proses memakan waktu cukup lama, hingga sekitar jam sembilan malam waktu Sudan. Esok pagi kami harus melapor ke pihak kepolisian lainnya selaku penanggung jawab pariwisata kota Shendi. Luar biasa, kami semua benar-benar tidak ada yang menyangka perjalanan menjadi seperti ini.

Akhirnya, kami harus menginap di hotel setempat. Hotel tersebut merupakan hotel bintang tiga, yang logo tiga bintangnya meragukan kami. Apakah ini yang Sudan maksud dengan hotel bintang tiga? Hehe maklumlah ini merupakan standar Sudan. Kami semua tak ada yang mengira kami akan menginap malam itu. Tidak ada yang membawa persiapan untuk menginap. Tapi karena kami semua sudah lelah, akhirnya tidur menjadi nikmat.

Esok paginya, kami melanjutkan perjalanan. Mentari pagi memeluk kami. Teriknya langit Afrika seakan menjelaskan pada kami bahwa bumi Afrika memang keras, tak semudah yang dibayangkan. Mungkin kita bisa tarik kesimpulan, jika semuanya bisa dipersulit, mengapa harus dipermudah?

Selepas melapor, supir langsung tancap gas menuju Piramida. Akhirnya kami sampai juga. Hamparan Piramida terbentang luas di hadapan kami. Banyak pemilik unta yang langsung mendekat ke arah kami, berharap kami mau membayar mereka untuk mencoba pengalaman menaiki unta di padang pasir.

Di sana terdapat banyak Piramida. Namun sayangnya, banyak Piramida yang sudah bentuknya tidak segagah dahulu. Ada yang kepalanya hilang, ada yang bentuknya entah mungkin seperti digigit raksasa, dan lain sebagainya. Namun, rasa penasaran kami hilang. Perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan terbayar dengan pengalaman pertama kami menginjakkan kaki di padang pasir. Kami berhasil menatap Piramida dengan mata kami.

Kami mengelilingi seluruh Piramida, tanpa terkecuali. Kami tak ingin ketinggalan satu momen pun, karena entah kapan lagi kami akan kembali ke sini. Kami abadikan seluruh momen di sana.

Selagi kami memandangi piramida-piramida, ada dua warga Eropa yang juga berkunjung ke Piramida Meroe. Satu wanita berasal dari Swiss, dan satu lagi berasal dari Jerman. Mereka bekerja di United Nations, dan sedang bertugas di Sudan. Pengalaman yang luar biasa.

Panas nya Sudan tidak melunturkan semangat kami melihat jejak bersejarah ini. Namun sayangnya ketika kami masih asyik melihat-lihat situs bersejarah itu, sang supir berteriak memanggil kami untuk segera pulang. Rupanya, ban mobil kami bermasalah karena suhu yang hangat, ditambah padang pasir yang tidak cukup bersahabat.

Alhasil setelah sekitar satu jam kami menginjakkan kaki di sana, kami kembali pulang ke tempat kami. Ini merupakan pengalaman unik yang tidak akan pernah kami lupakan.

Menelusuri padang pasir merupakan satu hal yang menarik. Ditengah hangatnya matahari Sudan, kau bisa temukan bangunan unik dengan nuansa sejarah yang kental. Aku juga memiliki mimpi untuk mengunjungi Dubai. yang juga memiliki padang pasir luas. Bedanya dengan Sudan, Dubai bisa menghadirkan kemegahan yang luar biasa di tengah sahara. Kemegahan Burj Khalifa adalah salah satu bukti, ketika gedung tertinggi di dunia ternyata ada di Timur Tengah, atau lebih tepatnya Dubai.

Aku teringat ketika perjalananku ke Qatar. Negara teluk, berhiaskan gedung-gedung menjulang tinggi. Mataku berhasil dimanjakan dengan Doha Corniche.

Satu hal yang mengejutkanku ketika di Qatar adalah ketika aku dan temanku mengunjungi salah satu tempat makan. Mesin mobil tetap dibiarkan menyala. Kita keluar meninggalkan mobil dengan mesin menyala, tanpa dikunci.

Maka tentunya akan menjadi pengalaman yang sangat menarik ketika bisa melihat megahnya Dubai dengan mataku sendiri. Burj Al Arab, Palm Jumairah yang eksotis, serta nuansa vintage ala Bastakia Quarter menjadi tempat yang wajib dikunjungi bila aku memiliki kesempatan berkunjung ke Dubai.

Semoga mimpiku ini bisa menjadi kenyataan. Itu akan menjadi pengalaman yang sangat berharga, bagi orang yang menyukai travelling seperti aku.

See you soon, Dubai!
BERITA TERKAIT
BACA JUGA