Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 20 Feb 2020 11:06 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Makanan Khas Padang Ini Mirip Peluru Rambo, Perangi Lapar!

Romeyn Perdana
d'travelers
Foto 4 dari 4
Jalanan menuju Pakandangan
Jalanan menuju Pakandangan
detikTravel Community -

Bila Traveler ada kesempatan lebih lama di Sumatera Barat, cobalah mampir di Padang Pariaman khususnya ke 2x11 Enam Lingkung, sebuah kecamatan yang namanya menggunakan angka di Padang. Ya, begitu matematikanya di sini.

Hasilnya bukan 22 tapi Enam Lingkung. Nagari Pakandangan ini terletak antara Bandara Minangkabau International Airport (MIA) dan Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Padahal MIA berada pada kabupaten yang sama dengan kecamatan 2x11 yang bukan 22 ini.

Bagaimana cerita matematikanya kok bisa 2x11 Enam Lingkung, kapasitas filosofinya saya belum sanggup menceritakannya. Namun ada yang lebih berani saya ceritakan ke anda disini yakni soal makanannya dan benteng Jepang.

 

Baca juga: 20 Tempat Wisata di Sumatera Barat Untuk Mudik Lebaran 2019

 



Yang pertama yakni makanan yang disebut Lapek Kampung Aro. Dari penampakannya mirip pelurunya Rambo yang diselempangkan di dada ya?

Lapek Kampung Aro adalah oleh-oleh khas Nagari Pakandangan. Dan semua orang asli kampung Pakandangan pasti akan kenal dengan lapek ini. Makanan ini dibuat khusus dengan isian gula aren dan parutan kelapa.

Maaf saya tidak pintar masak dan tidak tahu bahan-bahannya apa, tapi kalau lapek ini sekilas dapat diselempangkan di dada persis gaya Rambo dan mampu memerangi lapar selama perjalanan jauh. Rasanya gurih manis, dikemas alami dengan daun pisang dan diikat berenceng ala-ala peluru senjata otomatis kaliber besar milik Rambo. Kalau mau makannya bisa langsung buka bungkus pisang, tinggal lep-lep saja, mantab!

Baca juga: Kata-kata Kasar dalam Bahasa Minang yang Perlu Kamu Tahu

 

Lapek Kampung Aro mudah dibawa dan menjadi oleh-oleh yang belum banyak diketahui orang. Lapek ini biasanya hanya hadir pada hari pasar yaitu hari Kamis di Balai Kamih (hari pasar). Kalaupun mau beli di luar hari pasar, Traveler bisa memesannya langsung ke rumah penjual.

Yang kedua, lubang Jepang. Tapi tertulis di lokasi sebagai cagar budaya Benteng Jepang. Agak berlebihan memang namanya dibandingkan realitanya. Karena benteng ini tidak sebesar bayangan orang akan benteng.

Bentuknya hanya lubang pertahanan untuk pertahanan dari serangan musuh yang masuk melalui akses jembatan.

Jadi ya kalau Traveler mau mendapatkan gambaran Perang Dunia II di Asia Pasifik silakan datang ke situs ini. Cocok untuk yang mau membuat area bermain perang-perangan.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA