Pisau Buatan Jepang Memang Luar Biasa!
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Laporan dari Jepang

Pisau Buatan Jepang Memang Luar Biasa!

- detikTravel
Senin, 23 Des 2013 09:47 WIB
Pisau Buatan Jepang Memang Luar Biasa!
Satu set pisau Jepang yang bisa jadi oleh-oleh (Hany/detikTravel)
Sakai - Pisau, meskipun tajam, bisa menjadi oleh-oleh ekslusif untuk wisatawan saat traveling ke Jepang. Kualitas pisau buatan Jepang diakui dunia. Jika pergi ke Sakai, tak ada salahnya membeli pisau masak berkualitas tinggi.

Dari luar, tak ada yang menyangka bahwa bangunan 3x6 meter itu adalah salah satu pabrik pisau yang terkenal di Sakai, Jepang kalau tidak diberitahu. Pabriknya boleh kecil, tapi pisau-pisau produksinya sudah terkenal dan menyebar pada tangan-tangan chef atau kepala koki di berbagai dunia.

Ashi Hamono, nama pabrik pisau itu lebih tepat disebut bengkel daripada pabrik. Di depannya tertulis slogan dalam huruf kanji yang berarti 'Menajamkan Pikiran, Menajamkan Tradisi'. Para jurnalis program Sakai ASEAN Week 2013 yang beberapa waktu lalu berkunjung ke sana, tak bisa sembarangan masuk karena memang ruangannya sangat sempit sekali. Kanan-kiri pabrik itu tambah sempit karena alat-alat produksi beserta beberapa karyawan sedang bekerja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dak! Dok! Dak! Dok! Suara besi ditempa memekakkan telinga plus hawa panas menyelimuti. Maklum, sebelum ditempa, balok besi bakal pisau itu dipanaskan dulu dalam tungku bersuhu 1.000 derajat Celsius. Suara pekak tempaan besi dan hawa panas itu jadi terlupakan kala generasi kedua pemilik pabrik ini, Hiroshi Ashi menerima kami dengan senyum yang selalu tersungging kendati usianya sudah senja, 68 tahun.

Hiroshi menunjukkan kepada para jurnalis proses pembuatan pisau. Mulai dari sepotong besi yang berbentuk balok panjang kemudian mengalami proses dipanaskan ditungku 1.000 derajat Celsius dan ditempa dengan mesin. Proses itu dilakukan berulang-ulang kali sampai besi itu pipih dan bentuk dasar pisau sudah terlihat.

Setelah itu besi bakal pisau itu ditempatkan di mesin pemotong untuk diberi bentuk, dipanaskan lagi dan didinginkan di dalam air atau minyak. Kemudian dihaluskan pakai gerinda, direndam cairan kimia untuk bisa mengkilat, diasah dan terakhir baru diberi pegangan.

"Ini saya tunjukkan tajamnya pisau kami," kata Hiroshi yang lantas membelah sehelai kertas dengan pisaunya dengan halus. Cress! Dia juga mencoba mencukur rambut kepalanya memakai pisau yang panjang itu.

Dengan proses seperti itu, waktu untuk pembuatan 1 jenis pisau bisa mencapai 30 jam. Hiroshi yang telah senja ini masih bekerja di pabrik dibantu 8 karyawannya, bisa menghasilkan berbagai jenis pisau dengan jumlah 1.500 pisau per bulan.

"Pisau kami 40 persen diekspor dan sisanya untuk konsumen domestik. Ekspornya ke AS, Eropa dan Singapura," tutur Hiroshi.

Ada berbagai jenis pisau di sini, seperti pisau chef, pisau dapur biasa hingga pisau serbaguna. Dengan proses yang lama, Hiroshi mengatakan harganya pisau produksinya yang paling murah 5.190 Yen atau sekitar Rp 520 ribuan hingga paling mahal 200 ribu Yen atau sekitar Rp 23 juta. Berapa omset per bulannya? Hiroshi enggan menjawab.

"Tempat saya tidak begitu besar, asal bisa menghidupi dan menggaji karyawan, cukuplah. Saya sangat berbahagia karena banyak anak muda bekerja di sini," tuturnya dengan tenang.

Kendati sudah senja, namun Hiroshi masih tetap kerja di pabrik dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 18.00 petang, membuat pisau bersama para karyawannya. Dia tak hanya membuat untuk dijual namun juga memikirkan bagaimana industri pisau ini di masa depan. Hiroshi berpikiran bahwa industri ini akan bisa berlanjut bila generasi muda memiliki ketertarikan meneruskannya. Untuk itu, dia sangat terbuka dan sangat senang bila anak-anak sekolah bisa berpraktek belajar di bengkelnya.

"Sakai adalah pusat produksi pisau di Jepang, anak-anak SD di sini belajar membentuk benda dari besi, saya senang berbagi kepada generasi muda, supaya mereka tertarik kepada industri ini. Sangat penting untuk melestarikan di masa depan, mendidik generasi sekarang," tutur Hiroshi yang mengakui lebih bahagia bila dia bisa mengajari anak-anak kecil berkarya di bengkelnya.

Hiroshi sendiri, sebagai generasi kedua mengaku bekerja di sini karena ayahnya. Dia sendiri sebenarnya tidak suka bekerja di bengkel ini. "Namun lama kelamaan hingga sekarang saya sangat menikmatinya," tuturnya.

Namun sayang, anak-anaknya sendiri tak berminat meneruskan usaha industri kecil pisaunya. "Namun karyawan saya mau," kata Hiroshi tersenyum.

(sst/sst)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads