Sa Pa, Si Cantik & Manis dari Vietnam
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Laporan dari Vietnam

Sa Pa, Si Cantik & Manis dari Vietnam

- detikTravel
Jumat, 29 Agu 2014 08:20 WIB
Sa Pa, Si Cantik & Manis dari Vietnam
Kota Sa Pa yang cantik (Shafa/detikTravel)
Sa Pa - Lupakan Hanoi dan Ho Chi Minh, cobalah datang ke Sa Pa dan temukan wajah lain dari Vietnam. Kota di dataran tinggi ini menawarkan kecantikan dan eksotisme tradisi yang tak bisa dilewatkan begitu saja.

Di barat laut Vietnam, tepatnya di Provinsi Lao Chai, ada Kota Sa Pa yang berada di ketinggian 1.500 mdpl. Kecantikan kota kecil persinggahan ini tak bisa dipandang sebelah mata. Dikelilingi Pegunungan Hoang Lien, kota ini memiliki pemandangan hijau membentang, lengkap dengan langit biru yang jernih.

detikTravel bersama Caldera Sobek Coorporation pun sempat berkeliling kota. Alun-alun atau plazanya bisa dibilang sangat indah. Berada tepat di tengah kota, dengan pemandangan pegunungan di belakangnya, dan gereja tua di samping kirinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di depan alun-alun, ada pasar Cho Sa Pa yang tak pernah sepi dari pagi hingga malam. Hasil bumi yang dijual di sini masih sangat segar dan harganya tergolong murah. Sungguh surga berbelanja di sini.

Sempat diduduki Prancis di akhir 1880, kota ini pun memiliki sentuhan Eropa dalam porsi yang tepat. Bangunan di sini seperti di Eropa, dengan latar pegunungan yang sungguh fotogenik untuk diabadikan. Salah satu yang paling khas adalah gereja terbuat dari batu yang dibangun tahun 1930.

Memiliki banyak suku tradisional yang menawarkan keindahan aslinya, kota ini memang dahulu menjadi tempat tinggal bagi suku-suku minoritas. Beberapa yang tinggal di kaki gunung atau atas bukit sekitar Sa Pa adalah Hmonk, Yao, Giay, Pho Lu dan Tay.

Kebanyakan wisatawan yang datang ke sini juga untuk melancong ke desa-desa suku tersebut. Sesampainya di kota, traveler akan disambut oleh para suku ini yang menawarkan jasa trekking hingga homestay sehari dua hari di rumah mereka.

Karena sadar kecantikan rumahnya, para warga dari suku minoritas tersebut meningkatkan kemampuan bahasa mereka. Tak heran jika banyak yang fasih berbahasa Inggris dibanding penduduk Vietnam pada kebanyakan.

Penginapan di kota ini pun tergolong bersahabat. Kebanyakan bangunan menjulang ke atas. Tinggi bangunan bisa mencapai 5 atau 6 lantai. Meski tidak ada lift, namun ada keuntungan tersendiri jika memilih lantai atas. Karena pemandangan dari atas sungguh tak bisa dibayar dengan lelah menaiki tangga.

Untuk kehidupan sehari-hari, harga di kota ini juga tergolong masuk akal. Satu kamar hotel di sana sekitar USD 10 atau Rp 120 ribu, dengan fasilitas lengkap. Sekali makan, bisa sekitar Rp 20 ribu, jika ingin mewah. Bisa juga hemat, dengan mencari makanan di kawasan pasar.

(shf/shf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads