Sebelumnya, saya sudah membahas lebih dulu soal suku Lundayeh sebagai pemburu kepala dan suku Murut yang punya tradisi seperti lompat batu di Nias. Kedua suku tersebut bisa dijumpai di Mari Mari Village yang berlokasi di kawasan Inanam, 45 menit dari pusat Kota Kinabalu.
Mari Mari village yang punya luas sekitar 7 hektar, berisikan 5 suku besar di kawasan Sabah. Suku-sukunya yakni Kadazan Dusun, Bajo, Lundayeh, Murut, dan Rungus. Tiap sukunya dilambangkan dengan rumah adat yang lokasinya terpisah. Mari mari Village pun adanya di tengah hutan!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu membayar tiket masuk, jembatan kayu yang panjang jadi suguhan pertama dari Mari Mari Village. Jembatannya cukup kuat, tapi goyangannya amat berasa. Jika berjalan ramai-ramai, badan bakal bergoyang ke kanan dan ke kiri. di bawahnya, ada sungai yang membentang lebar.
Setelah itu, dilanjutkan melewati jalanan beraspal yang bersih dan asri. Saya sama sekali tidak menemukan sampah di sekitar jalanan, meski hanya seputung rokok saja.
"Merokok tidak dilarang di sini, sebab ada tempat khususnya di tempat makan. Tidak boleh merokok sembarangan, sebab akan kotor dan berbahaya jika terjadi kebakaran," kata pemandu setempat Alister dengan tegas.
Masih soal kebersihan, ternyata toilet-toilet di Mari Mari Village pun jauh dari bau menyengat apalagi sampah. Lantainya bersih, tersedia tempat sampah, gantungan baju, tisu sampai sabun pencuci tangan. Total, ada 7 toilet yang berada di panggung pertunjukan dan tempat makan.
Okelah, kebersihannya boleh diacungi jempol. Saya bukan berlagak menjadi orang yang ahli tentang tempat-tempat wisata, tapi orang awam pasti dibuat nyaman karena kebersihan di Mari Mari Village.
Rumah-rumah adat dilengkapi papan informasi. Rumah adatnya pun dibuat semirip mungkin dengan aslinya. Tak ketinggalan, perkakas rumah tangga sampai orang-orang yang berasal dari tiap sukunya masing-masing.
"Pemandu kami akan memberikan informasi yang sedetil mungkin, karena kami dilatih untuk itu. Tradisi dan segala hal mengenai budaya juga kami tampilkan di Mari Mari Village," papar Alister.
Perjalanan menjelajahi Mari Mari Village bisa sampai satu jam lebih lamanya yang dilalui dengan berjalan kaki. Rasa lelah terbayar impas, dengan pengalamannya. Pengunjung pun bebas berfoto di mana saja dan mencoba segala tradisi budaya, seperti ikut menari atau lompat rotan.
Saya yang semula meremehkan, harus kembali menarik kata-kata. Mari Mari Village adalah desa wisata yang harus dicontoh, oleh negara mana pun. Kebersihan, keindahan dan informasinya yang lengkap membuat turis ikhlas untuk mengeluarkan kocek yang tidak sedikit jumlahnya.
(aff/sst)












































Komentar Terbanyak
Aturan Bagasi Gratis Garuda Indonesia Berubah Mulai 1 September 2026
Viral Turis Lokal Diusir dari Pantai Bali, Pemilik Warung Klarifikasi
Curhatan Wisatawan Situ Bagendit: Tempatnya Nyaman, tapi Apa-apa Bayar