Kota Maastricht di ujung selatan Belanda diduduki Romawi pada abad ke-13. Salah satu bukti paling masif, sekaligus paling menakjubkan adalah St Pietersberg Underground Caves. Ini adalah gua dengan ribuan lorong yang meliuk bak labirin yang berada di bawah bukit St Pieterseberg, dekat Kota Maastricht.
detikTravel berkesempatan memasuki gua bawah tanah ini seorang diri, hanya ditemani seorang pemandu dari Tourism Maastricht. Paul, begitu nama pemandu tersebut, menjelaskan terlebih dahulu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dalam gua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sambil menaiki bukit St Pietersberg, Paul melanjutkan, "Jika ada sesuatu terjadi kepada guide Anda, pertama, jangan panik dan jangan berusaha mencari jalan keluar. Jaga guide Anda dengan baik, karena nanti akan ada yang turun untuk mencari," papar dia.
Gerbang masuk ke labirin bawah tanah itu hanya berupa gerbang kecil bergembok. Sebelum masuk, Paul menuliskan angka '1' di kertas bertuliskan namanya. Paul kemudian menggantungnya di tempat yang disediakan. Hal ini untuk mengetahui nama pemandu dan berapa banyak rombongan yang dibawanya.
Berbekal satu lampu minyak, baru 20 meter berjalan, kami mulai masuk ke kegelapan abadi. Paul mengangkat lampu minyaknya, tampaklah gua berliku mirip labirin dengan langit-langit setinggi 10 meter.
"Tanah yang kita pijak sekarang adalah penurunan dari dasar gua aslinya. Awalnya, di abad ke-13, gua ini hanya setinggi layer paling atas itu," tutur Paul.
Dia menunjuk ke dinding gua setinggi 10 meter. Layer paling atas adalah peninggalan Romawi, kemudian layer bawahnya mulai masuk abad ke-15, layer ketiga ada pada masa Napoleon menginvasi Maastricht di abad ke-18. Salah satu layer, disebut juga 'cursing layer' terbuat dari Flint yang adalah batu paling kuat di dunia.
"Jadi kita bisa tahu, layer paling atas itu penuh manuskrip paling tua," tambah Paul.
Paul kemudian mengajak saya masuk lebih dalam, melihat beberapa peninggalan sejarah termasuk lukisan dan patung-patung karya beberapa seniman. Dinding gua terbuat dari batu kapur, sehingga para seniman menggunakan arang untuk membuat lukisan.
Paul menjelaskan, suhu di bawah sini sama sepanjang tahun yaitu 11 derajat Celcius. Tak ada cahaya, tak ada suara, tak ada sinyal ponsel. Masih berbekal satu lampu minyak, Paul mengajak saya meliuk di labirin menuju satu bagian gua. Di dindingnya, terdapat peta St Pietersberg Underground Caves yang sedang dalam proses pengerjaan.
"Sekarang gua ini membentang 70 kilometer dengan 6.000 lorong di dalamnya," tutur Paul.
Selama 1,5 jam saya berkeliling labirin bawah tanah ini. Hingga pada satu titik, Paul menawarkan untuk pergi sebentar agar saya bisa merasakan kegelapan abadi tanpa suara di sini. Paul mengatakan, 1 jam berada dalam kondisi seperti ini, halusinasi akan mulai muncul.
Sulit dijelaskan rasanya bisa keluar gua dan melihat sinar matahari. Terbayang bagaimana ribuan orang hilir mudik gua ini di berbagai zaman. Orang Romawi, para imigran, warga Kota Maastricht yang berlindung pada masa Perang Dunia II, dan seterusnya.
St Pietersberg Underground Caves adalah lanskap alam paling tersembunyi di Belanda, namun punya sejuta cerita dari berbagai zaman. Selain jalan kaki, turis yang datang berombongan juga bisa tur naik skuter (sepeda). Cara seru menjelajahi labirin bawah tanah dengan sistem yang luar biasa rumit.
(rdy/rdy)











































Komentar Terbanyak
Femas, Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Terdeteksi di Masjid
Terpopuler: Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Sempat Terdeteksi di Masjid
Viral di Medsos, Peserta Tur Asal Madiun Diduga Kabur Saat Liburan ke Korea Selatan