Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 07 Jan 2016 19:20 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Negeri Champa, Jejak Wali Songo di Vietnam

Fitraya Ramadhanny
detikTravel
Masjid di Cham Village (Bram Marantika/d'Traveler)
Masjid di Cham Village (Bram Marantika/d'Traveler)
Chau Doc - Tahukah Anda, Vietnam selatan punya ikatan historis dengan Indonesia. Inilah Negeri Champa, yang menjadi kampung halaman Wali Songo.

Di tepi Sungai Mekong, Vietnam, ada perkampungan Muslim bernama Cham Village. Cham Village ada di wilayah Delta Mekong, tepatnya Chau Doc, Provinsi An Giang, dekat dengan perbatasan Kamboja. Kampung ini banyak dihuni oleh Suku Cham yang beragama Islam sejak zaman Kerajaan Champa.

Dalam penelusuran sejarah yang dilakukan detikTravel, Kamis (7/1/2016), Kerajaan Champa merupakan keturunan etnis Tionghoa. Pada abad ke 13-14, Bangsa Champa berperang dengan Khmer dan Viet, lalu terusir dari Hanoi dan pindah ke delta Sungai Mekong sampai sekarang.

Raja mereka, Che Bo Nga yang berkuasa tahun 1360, masuk Islam setelah mengikuti dakwah Sayyid Hussein Jumadil Kubro, sang pionir Wali Songo. Che Bo Nga berganti nama menjadi Sultan Zainal Abidin dan Champa menjadi kerajaan Islam.


Kantor ormas Islam di Cham Village (Bram Marantika/d'Traveler)

Di abad ke 14-15, puteri Raja Champa yang bernama Candra Wulan menikah dengan Ibrahim Zainuddin Al Akbar As Samarqandiy alias Ibrahim Asmoro. Lahirlah Sunan Ampel di Champa. Sementara itu Raja Champa keturunan Chermin (Kelantan) yaitu Wan Bo Tri Tri alias Sultan Maulana Sharif Abu Abdullah menikah dengan Nyi Mas Rara Santang puteri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat. Anak mereka kelak menjadi Sunan Gunung Jati.

Ketika Champa digerus habis oleh peperangan dengan bangsa Khmer dan Viet, mereka pun hijrah lagi ke Kelantan dan Aceh. Semua orang Malaysia dengan nama depan Che, Wan, Nik adalah keturunan Champa.

Untuk berwisata ke Cham Village, traveler bisa naik perahu dari Ho Chi Minh menyusuri Sungai Mekong selama sekitar 6 jam ke Chau Doc. Masyarakat di kampung tersebut tampak mirip dengan orang Indonesia dan budaya Melayu cukup kuat di sana.


Pemakaman Islam di Cham Village (Bram Marantika/d'Traveler)

Dari penelusuran detikTravel, Suku Cham masuk dalam rumpun Austronesia. Dalam kajian linguistik, bahasa mereka masuk dalam rumpun Aceh-Chamik Language yang artinya bahasa mereka serumpun dengan bahasa Aceh. Ada beberapa bahasa yang mirip misalnya saja kata 'desa'. Orang Aceh menyebutnya Gampong, orang Cham menyebutnya Kompong.

Selain bahasa, makanan yang ada di Cham Village juga mirip dengan di Indonesia. Makanan pokoknya sama-sama nasi dan diberi lauk pauk seperti telur, ayam, ikan dan lain sebagainya. Banyak juga pedagang yang menjajakan serabi serta pisang goreng.

Di Cham Village, wisatawan bisa melihat masjid, madrasah dan pemakaman Islam dengan batu nisan bertuliskan nama-nama Arab. Kebudayaan Islam memang terasa sekali. Namun memang sekarang di sana tak banyak terdapat informasi mengenai bagaimana penyebaran Islam terdahulu dan siapa saja tokoh yang berpengaruh. Suku Cham banyak yang tinggal di Delta Mekong, dari wilayah Cham Village di Vietnam hingga Provinsi Kompong Cham di Kamboja.


Warga Cham Village membuat serabi (Bram Marantika/d'Traveler) (fay/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED